Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Memori II


Tubuh Raja Xin menjadi kaku, saat melihat siapa yang berbicara.


Tianzhi, sang Dewi Cahaya, menatap Raja Xin dengan pandangan rumit. "Naga biru?"


Tianzhi meneliti Raja Xin dari atas kepala sampai bawah. "Bukankah kau anak Naga dari Dewa Kehancuran?"


Tubuh Raja Xin semakin kaku. 'Mengapa harus secepat ini?'


Baginya, rahasia ini terlalu cepat terungkap.


'Apakah Dewi cahaya akan memisahkan ku dengan Yi'er?'


"Mengapa kamu bisa ada di sini?" Tianzhi maju, mendekati mereka berdua.


Dengan kasar, ia menarik Yun Yi untuk menjauh dari Raja Xin. "Dan kamu Sui'er, mengapa kamu malah memeluk nya?!"


Alis Yun Yi bertaut, ia melepaskan cekalan Tianzhi pada pergelangan tangan nya. Lalau berucap.


"Anda siapa? Baru saja datang sudah berbicara kasar seperti itu pada tunangan ku."


"Dan, saya Huang Yun Yi, bukan Sui'er." Lanjutnya.


Tianzhi menatap Yun Yi dengan sedih, lantas berkata. "Sui'er, ini ibunda. Apakah kamu masih belum mengingat semuanya?" Tanya nya.


"Saya sudah bilang, saya buka..."


Nyiiittttt....


Telinga Yun Yi berdengung, mata nya memburam. Banyak memori yang masuk ke otak nya seperti film dalam sekali putar. Yun Yi memegang kepalanya yang terasa akan pecah.


"Yi'er!!"


"Sui'er!"


Samar-samar Yun Yi mendengar suara ke dua orang yang ada di samping nya itu. Ia merasa ada sesuatu yang hangat, yang mengalir dari hidung nya.


"Sakit." Gumam Yun Yi dengan suara lirih.


Kepalanya benar-benar terasa sakit, matanya pun seakan ingin terpejam. Walau begitu, telinganya masih bisa mendengar suara seseorang disamping telinganya.


"Yi'er, bertahanlah. Aku tidak akan membiarkan mu merasa sakit lagi, aku janji. Sebentar lagi tabib akan datang, jadi tolong tetap sadar." Suara yang familiar itu membuat hati Yun Yi menghangat.


"Dewi saya mengagumi anda."


Suara anak kecil itu membuat Yun Yi membuka matanya. Ia menatap ke sekelilingnya, tempat yang sangat berbeda dari yang tadi.


"Ini di mana?" Pikir Yun Yi.


"Dewi lihat kemari."


Entah kenapa Yun Yi merasa di panggil, ia menoleh ke bahwa, mencari asal suara.


Dan ia beru sadar kalau dirinya berada di menara paling tinggi.


Di lantai bawah yang luas, ada anak kecil yang seperinya berumur empat tahun dengan tanduk kecil di kedua sisi kepalanya.


"Apakah itu tanduk naga?" Yun Yi mengamati gerak-gerik anak itu.


Anak laki-laki itu memetik bunga berwarna biru dan warna lain nya, setelahnya ia membentuk sebuah mahkota bunga yang sangat indah.


"Dewi, apakah ini cantik? Jika ini kurang cantik, Jianheeng akan membuatkan nya lagi."


Melihat wajahnya yang ceria membuat Yun Yi tersenyum. "Itu cantik, tidak perlu di buat lagi."


Tunggu, Yun Yi tidak berniat berkata demikian. Tapi entah kenapa, bibirnya bergerak begitu saja.


Anak kecil itu tersenyum, ia dengan cepat mengubah dirinya menjadi seekor naga kecil, lalu terbang menghampiri dirinya.


Tangan kecil naga itu membawa satu mahkota bunga. Lalu ia memakai kan nya di atas kepala Yun Yi.


"Apakah kamu naga biru?" Lagi, bibirnya bergerak begitu saja. Padahal ia ingin mengucapkan terimakasih karena sudah di beri bunga ini.


Apakah Dewi juga akan membuang ku seperti yang lain nya?"


Deg


Jantung Yun Yi berdetak kencang. Ia merasa pernah mengalami hal ini. Benar, sedari awal ia merasa ini pernah terjadi dalam hidup nya, tapi kapan?


"Apakah Jianheeng akan sendirian lagi?"


Yun Yi merasa sakit saat melihat air mata yang turun dari pelupuk mata anak itu. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa. Tubuhnya pun tidak bisa di gerakan.


"Terimakasih sudah menerima mahkota bunga dari Jianheeng. Maaf jika Jianheeng mengganggu waktu anda, saya pamit Dewi."


"Ah, dan selamat atas pengangkatan nya."


Yun Yi menatap punggung kecil yangsusah menjauh itu. Lalu pengangkatan apa?


Wushh


Tubuh Yun Yi tersedot, ia di bawa ke sebuah tempat yang di penuhi gambaran-gambaran seseorang.


Gambaran-gambaran itu mulai memasuki dirinya, Yun Yi memegang kepalanya yang terasa berat. Ingatan itu ters memasuki dirinya.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama, akhirnya kepingan memori itu sudah tak ada. Yun Yi berdiri dengan pandangan kosong.


"Jadi... Dulu aku... Adalah seorang Dewi?" Ia bergumam dengan lirih.


Ia menatap ruang hitam inidengan kosong."kebenaran macam apa ini? Jadi aku adalah reinkarnasi dari Dewi Alam?"


"Walau aku ingin menyangkal, tapi... Semua itu terasa nyata. Aku pun merasa pernah mengalaminya. Tapi... Entah kenapa ada sesuatu yang kurang, tapi apa?"


Ruang hitam ini menjadi hening, Yun Yi masih mencerna dan memejami semuanya.


Jadi, dirinya dulu adalah anak dari Tianzhi sang Dewi Cahaya dan Jian Yang Sang Dewa agung. Lalu dirinya adalah Dewi alam begitu?


Walau Yun Yi sudah mendapatkan ingatan nya tentang masa lalunya dengan orang tuanya. Namun Yun Yi merasa lupa akan sesuatu.


"Apa yang kurang?"


Wushh


Yun Yi kembali di tarik, kini ia di tarik ke dunia nyata. Ketika mata nya terbuka, ia mendapati Tianzhi yang menatap nya khawatir.


"Ibunda..?" Ujar Yun Yi ragu, air matanya mengalir.


Ternyata dirinya masih mempunyai orang tua, ternyata ia masih bisa merasakan pelukan seorang ibu.


"Sui'er, syukurlah." Tianzhi memeluk Yun Yi sangat erat. Ia merasa senang saat Yun Yi memanggil nya ibunda. Itu berarti Yun Yi sudah ingat, tapi apakah sudah semuanya di ingat Yun Yi?


Yun Yi mendorong Tianzhi pelan, ia menatap sekitarnya mencari sosok yang selalu ada di samping nya. "Ibunda, A'Guang pergi kemana?"


"Sui'er, laki-laki itu adalah naga biru. Kamu tidak perlu mencarinya." Tianzhi mencegah Yun Yi yang akan bangkit dari tidurnya.


"Apa maksud ibu?"


"Apakah mungkin ingatan mu belum sepenuhnya pulih? Sui'er, jika orang-orang di istana langit tahu kalau dirimu memiliki tunangan seorang naga biru, mungkin kamu akan di cap penghianat lagi seperti dulu." Tutur Tianzhi .


"Penghianat? Apa kamsud ibunda?" Alis Yun Yi terangkat, mendengar perkataan Yun Yi.


"Oh ya, di mana Ayahanda, kenapa aku tidak melihat nya."


Tianzhi teridam, mungkin kah anak nya ini belum mendapatkan semua ingatan nya?


Lalu bagaimana caranya aku menjelaskan tentang ayah nya.


"Itu..."


Ckelk


Pintu terbuka menampilkan seorang pria menawan dengan rambut putih ke abuan dengan mata berwarna ungu.


"Maaf mengganggu waktu anda, Dewi. Lelaki di luar itu sangat keras kepala ingin memberikan ini pada Dewi muda." Uajr Báishé.


Tianzhi hanya menggeleng. "Tidak apa, mari lihat apa isi kotak nya?" Ia pun membuka kotak itu. Ketika Dewi Cahaya membuka kotak itu, di dalam nya berisi beberapa buah persik, kue mawar, Da kue camomile.


"Permisi." Seorang pelayan masuk ke dalam makar.


"Dan ini barang ke dua yang di berikan lelaki itu." Ujar Báishé.


Yun Yi ak sengaja melihat isi kotak itu, ia juga bisa mencium harum dari teko yang tak jauh dari peraduan. Itu Harun teh camomile.


"A'Guang."


...🔸️To Be Continued🔸️...