Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Sidang II


Jendral Huang menatap dingin ke arah Huang Ji Ge.


"Tetua ke tiga, kenapa anda membela mereka? Jelas-jelas buktinya sudah ada " Qiou Yue bersiri dari duduk nya.


"Jendral... Saya percaya, kalau mereka tidak bersalah. Saya yakin kalau ada yang menjebak mereka." Ji Ge masih kekeh memebela Ke dua selir.


Jendral memicingkan matanya, "Apa yang membuatmu yakin Tetua?" Tanyanya.


"Begini Jendral, bukankah paviliun Er'Xiăo Jiě Huang di jaga dengan ketat, bahkan ada prajutir yang di kirim oleh Raja Xin. Jadi mana mungkin ke dua selir bisa memberikan racun itu." Jelas Ji Ge.


"Dan Jendral bukan kah jari itu sedari pagi Er'Xiăo Jiě tidur seharian ia tidak memakan apapun, jadi kapan selir memberikan embun pagi itu." Lanjutnya.


"Bisa saja pada waktu makan malam bukan?" Bukan Jendral Huang yang menyahut tapi Qiou Yue.


"Apa maksud anda Shào Yé?" Tanya Ji Ge.


Qiou Yue menyeringai ketika melihat tubuh Ji Ge yang bergetar, walau hanya beberapa saat.


"Pengawal bawa koki itu kemari." Titah Qiou Yue.


"Baik Shào Yé."


Ji Ge terus menatap pintu dengan perasaan was-was, "Seharusnya laki-laki itu sudah pergi dari Huang Fu." Gumam Ji Ge sangat lirih, namun bagi Raja Xin yang sudah di Ranah Dewa dapat mendengarnya dengan jelas.


"Yun'er." Panggil Raja Xin, Yun Yi juga sama-sama menunggu orang yang di maksud oleh Qiou Yue.


"Ya ada apa?" Yun Yi menoleh ke arah Raja Xin walau hanya beberapa detik, karena ia kembali menatap pintu.


Raja Xin tersenyum, ia menangkup pipi Yun Yi dengan ke dua tangannya. "Lihat ke sini dulu."


"Memangnya kenapa sih?" Tanya Yun Yi, sedikit kesal, terdengar dari nada bicara Yun Yi.


"Lihatlah wajah Tetua itu, jangan melihat ke pintu dulu." Raja Xin menunjuk Ji Ge.


Yun Yi menoleh ke arah Raja Xin menunjuk, di sana Ji Ge terlihat sangat gelisah, matanya tidak pernah lepas dari pintu.


Yun Yi yang melihat itu tersenyum, "Eh... Kenapa dia sangat panik?" Yun Yi malah terkekeh ketika wajah Ji Ge semakin rumit.


"Bukankah ini semakin menyenangkan?" Raja Xin tersenyum miring, ia sedang menanti apa yang akan terjadi di aula utama Huang Fu ini.


"Sepertinya kau sangat menikmati ketegangan mereka." Yun Yi menatap Raja Xin yang masik menampilkan senyum ya, dengan bersedekap dada.


"Kau tahu wajah tikus-tikus itu ketika ketakutan sangatlah lucu untuk di lihat." Raja Xin mengucapkan itu sambil tertawa kecil.


"Dasar aneh." Yun Yi menggelngkan kepalanya.


Semakin ke sini ia semakin paham orang seperti apa calon tunangannya ini.


Tak lama pintu pun terbuka, laki-laki berhanfu putih hijau itu terus memberontak, tapi prajurit itu pun terus menarik koki itu.


"Kenapa ini? Kenapa aku di tarik seperti ini?!" Zhu Yang terus mencoba melepaskan diri dari cekalan prajurit.


"Koki Zhu bisakah anda diam!" Qiou Yue yang ingin segera mengakhiri sidang ini, di buat kesal akibat teriakkan Zhu Yang.


Zhu Yang pun langsung diam, dia melihat Ji Ge yang juga menatapnya, mata Ji Ge seolah-olah mengatakan peringatan.


Zhu Yang mendengus, kenapa ia harus terlibat dalam hal ini.


"Saya akan langsung bertanya, apakah benar anda membantu Selir pertama untuk menuangkan Embun Mimpi pada makanan Er'Xiăo Jiě Huang?" Tanya Kasim Luo, tothe point.


"Tidak kasim, saya tidak melakukan itu." Zhu Yang langsun menggeleng.


Qiou Yue menatap tidak suka pada Zhu Yang, 'Koki rendahan seperti dia sangat berani berbicara tidak sopan pada Kasim Ayah.' batin Qiou Yue mendengus tidak suka.


"Qin." Panggil Qiou Yue pada tangan kanan nya.


Qin mengangguk, mengerti maksud dari junjungan nya ini.


Ia pun pergi ke arah Yun Yi, lebih tepatnya ke arah Lan Mei yang tengah berdiri di samping Yun Yi.


"Ada apa Qin?" Tanya Yun Yi ketika Qin sudah berada di sampingnya.


"Yun Xiăo Jiě, saya ingin meminjam Lan Mei." Papar Qin, mengatakan maksud kedatangan nya.


Lan Mei yang di sebut menunjuk dirinya sendiri. "Saya?" Qin mengangguk.


Walau tidak mengerti Yun Yi pun mengangguk, "Baiklah."


Stelah itu Qin maju ke arah Zhu Yang bersamaan dengan Lan Mei. Zhu Yang, yang di dekati mengerutkan alisnya.


"Nah Koki Zhu, bukankah anda bisa bekerja di sini karena sedang mencari adik kandung anda?" Tanya Qiou Yue yang di angguki oleh Zhu Yang.


"Benar, bagaimana Shào Yé bisa mengetahui itu?" Tanya Zhu Yang.


"Apakah adik mu menghilang di saat festival lampion yang di adakan di kerajaan Wu?" Qiou Yue kembali bertanya.


"Bagaimana anda bisa mengetahui nya?" Zhu Yang merasa heran, bagaimana Qiou Yue bisa mengtahui itu padahal kejadian sudah sangat lama, yaitu pada saat dirinya berumur sekitar tujuh tahun dan adiknya beumur dua tahun.


"Nah Lan Mei, yang membawamu dari tempat budak adalah mendiang Selir Qiu kan?" Tanya Qiou Yue memastikan.


"Benar Shào Yé." Lan Mei mengangguk, ia sedikit membungkukkan badannya.


"Apakah mendiang Selir Qiu menceritakan seuatu tentang masa lalu mu?"


Yun Yi yang sedari tadi menyimak, memijit keningnya pelan, "Gēgē yang bertanya kenapa aku yang pusing ya?" Gumamnya.


Walau masih tidak mengerti akhirnya Lan Mei berucap, "Beliau berkata aku di temukan di tempat penjualan budak saat berumur dua tahun, dan dia menemukan liontin giok bunga plum putih yang sudah pecah di samping tubuh saya." Jelas Lan Mei.


Zhu Yang yang mendengar itu bergetar, matanya membulat. Ia menatap Lan Mei lekat, "A-apakah mungkin?"


Zhu Yang menghampiri Lan Mei lalu berucap, "Tolong perlihatkan liontin itu." Pinta Zhu Yang, tangan nya begetar.


"Untuk apa? Itu adalah barang pribadi saya Koki Zhu." Lan Mei menggeleng.


"Lan Mei." Dari tempat yang agak jauh dari Lan Mei, Yun Yi memanggil nya.


"Ya Xiăo Jiě?" Lan Mei berbalik, menghadap ke arah Yun Yi.


"Berikan saja." Lan Mei melayangkan tatapan bertanya pada Yun Yi.


"Tidak perlu bertanya kenapa." Yun Yi tersenyum, lalu mengangguk, meyakinkan Lan Mei.


Karena Nonanya sudah seperti itu, Lan Mei pun mengeluarkan kantung kecil dari lengan Hanfunya. Ia menyerahkannya pada Zhu Yang.


"Tolong pegang dengan hati-hati Koki Zhu. Itu adalah barang peninggalan keluarga saya satu-satunya." Peringat Lan Mei.


Zhu Yang mengangguk, ia mulai membuka kantung itu.


"Prajutir, bisa tolong bantu saya memegang ini?" Zhu Yang bertanya pada prajurit yang menyeretnya tadi.


Prajurit itu mengangguk. Ketika Zhu Yang selesai menyusun liontin itu di tangannya, matanya langsung memerah.


"Ini benar-benar liontin yang sama." Gumam Zhu Yang.


...🔸️To Be Continued🔸️...