
"Apakah kamu ingin mempelajarinya?"
Yun Yi mengalihkan pandangannya, lalu berkata. "Tidak."
Raja Xin tersenyum masam, ia tidak suka jika Yun Yi masih marah seperti ini, ia harus mencari cara agar bisa di maafkan oleh Yun Yi.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini." Ujar Raja Xin.
"Baiklah." Yun Yi mengangguk setuju.
Tiba-tiba Raja Xin memegang tangan Yun Yi. "Shen guanakan teleportasi."
Setelah mengucapkan itu, sosok Raja Xin dan Yun Yi menghilang dari pandangan Shen.
Wajah Shen menjadi semakin datar, ia di tinggal oleh majikannya di tengah-tengah kobaran api seperti ini.
"Aku harus sabar." Monolog nya.
Yun Yi segera melapas tangan Raja Xin ketika sudah tiba di luar hutan. Sekarang hutan itu tidak di penuhi kabur, melainkan di penuhi api. Mungkin karena pohon-pohon yang sudah kering akibat kabut, jadi api semakin cepat besar. Tapi anehnya, Yun Yi tidak merasa panas, padahal jarak antara pohon dan dirinya bisa di bilang cukup dekat.
Tunggu, Yun Yi merasa telah melupakan sesuatu. Ia terdiam, mencari ingatan tentang apa yang ia lupakan.
Pupil mata Yun Yi melebar ketika mengingat ke tiga pria yang ikut bersamanya ke dalam hutan.
"Oh tidak, aku melupakan mereka."
Yun Yi berlari ke dalam hutan, saking paniknya ia tidak sempat memasang tabir apapun, sehingga ada beberapa bagian Hanfu Yun Yi yang terbakar.
Baru saja berjalan beberapa meter, Yun Yi sudah berpapasan dengan Wanran, Guang Luo dan Jendral Huang.
Melihat ke tiga pria itu terlihat baik-baik saja, Yun Yi mengela nafas lega.
Jendral Huang melotot ketika ujung Hanfu Yun Yi terbakar. "Yun'er."
Jendral Huang turun dari kudanya, berniat mengahmpiri Yun Yi. Namun ia malah keduluan oleh Raja Xin yang datang dari luar hutan.
"Sangat ceroboh." Setelah mematikan api di ujung Hanfu Yun Yi, Raja Xin melepas Zaosan nya. Lalu memakaikannya pada Yun Yi.
"Siapa yang kau sebut ceroboh?" Yun Yi tidak terima di panggil ceroboh.ulu ia adalah seorang pemimpin organisasi, ia terbiasa di takuti orang, bukan di Katai ceroboh seperti yang di lakukan Raja Xin.
"Sudahlah, mari cepat keluar dari sini." Wanran menghentikan perdebatan antara Yun Yi dan Raja Xin.
Di luar hutan, mereka melihat yang lainnya yang kini tengah berdiri dengan wajah cemas. Sepertinya tengah menunggu.
Guan Yin segera menghampiri Yun Yi. "Apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?"
Guan Yin membolak-balik tubuh Yun Yi, yang membuat kepala Yun Yi terasa pening.
"Nenek, aku baik-baik saja." Sahutnya.
"Syukurlah."
"Apa aku tidak di tanyai?" Wanran maju, mendekati ke dua perempuan itu.
"Tidak penting." Mendengar itu wajah Wanran berubah kusut.
"Hahaha." Dan tawa Guang Luo terdengar.
"Kasihan sekali." Ucap Guang Luo di sela-sela tawanya.
Wanran menatap kesal pada Guang Luo. "Diam kau! Jangan tertawa, di sini tidak ada yang lucu."
Bukannya mereda, tawa Guang Luo malah semakin kencang. " Huh, huh, tidak bisa, huft, aku masih ingin tertawa. Hahaha."
Yun Yi menggelengkan kepalanya melihat keluarkan sang Guru.
"Jika hutan ini terbakar, kita akan pergi lewat mana?" Tanya Putri Wang.
"Tetap jalan ini, sekarang kita tunggu para siluman keluar dari hutan dulu. Lalu aku akan padamkan apinya. Kita harus mencari tahu, mengapa siluman rubah memasang kabut racun di sini." Tutur Raja Xin.
Kali ini Yun Yi di bantu oleh Min An dan Yu Lin untuk menyiapkan makanan, mereka membantu Yun Yi memotong sayuran, daging dan rempah.
Putri Wang hanya bisa mengamati, ia tidak ahli dalam memasak. Yang ia kuasai hanya ilmu pengetahuan dan beladiri pedang saja.
Karena Yun Yi ingin sesuatu yang panas dan pedas, jadi Yun Yi meminta Raja Xin untuk menciptakan kompor dan panci hot pot dari zaman modern.
Kebetulan ada sungai yang tak jauh dari sini, jadi Yun Yi juga membuat ikan bakar. Untungnya di cincin ruang Raja Xin tersedia banyak bahan makanan. Jadi Yun Yi menambahkan cabai di ikan bakarnya.
"Baiklah, malu makan." Yu Lin berseru senang, lalu segera mengambil daging ikan, dan beberapa daging yang sudah di rebus di panci hot pot.
Mereka hanya duduk di kursi yang lagi-lagi Yun Yi buat dari sulurnya. Jadi mereka bisa duduk dengan nyaman.
.
.
.
Tepat ketika mereka selesai makan. Ada segerombolan siluman yang berlari ke luar hutan. Mereka masih belum menyadari rombongan Raja Xin, dan hanya ers berlari.
Ketika mereka akan lari lebih jauh, Yun Yi segera menciptakan dinding enak dari sulurnya.
"Aku akan bertanya pada kalian, dan aku harap kalian menjawab pertanyaan nya." Ucap Wanran ketika sudah ada di dekat se-gerombol siluman.
Mereka terlihat waspada, salah satu siluman yang telah berubah menjadi manusia maju ke hadapan Wanran. Di lihat dari telinga dan ekornya, sepertinya dia adalah siluman rubah, tapi dia laki-laki.
"Hal apa yang ingin kalian tanyakan pada kami?"
"Siapa di antara kalian yang menciptakan kabut ini?" Tanya Yun Yi, yang ada di samping Wanran.
"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini." Siluman rubah itu menggeleng.
"Kenapa tidak bisa?" Kini Wanran yang bertanya.
Siluman rubah itu terlihat enggan menjawab, "Intinya kami tidak bisa memberi tahu kan pada kalian."
"Baiklah, tak apa." Guang Luo menahan pundak Wanran yang sepertinya hendak bertanya lagi.
"Aku juga ingin bertanya." Guang Luo menjeda ucapan nya, selama beberapa saat.
"Bagaimana kalian bisa ada di sini? Bukankah para siluman tidak di ijinkan keluar dari dunia kalian oleh pemimpin dunia siluman."
"Kamu tidak bisa hidup di sana lagi, karena pergantian pemimpin, semakin banyak peraturan baru yang di luar logika. Bahkan pemimpin baru kami menerapkan peraturan kalau setiap wanita di dunia siluman bisa ia coba. Dan kami tidak terima dengan peraturan itu, jadi kamu pergi keluar dunia siluman saat ular penjaga tidak ada di tempat." Jelas Siluman rubah itu.
"Apa maksudnya bisa di coba?" Tanya Yun Yi dengan polos.
Semua orang menatap Yun Yi aneh, termasuk beberapa siluman pun.
"Xiăo Jiě Huang, apakah kamu sedang membual atau memang kau tidak mengerti?" Tanya Putri Wang. Ia terkekeh pelan ketika melihat wajah polos Yun Yi.
"Memangnya apa maksud nya?" Yun Yi kembali bertanya.
Putri Wang memegang pundak Yun Yi, sambil senyuman ia berkata. "Ini adalah hal yang di lakukan saat pasangan baru saja menikah, atau di sebut juga malam pertama."
Untuk beberapa saat Yun Yi terdiam, lalu wajahnya memerah malu. Namun, beberapa saat kemudian matanya memancarkan kemarahan.
"Peraturan macam apa itu?!"
...🔸️To Be Continued🔸️...
Note 📝:
½ sichen \= satu jam