Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Pijatan


"aku minta maaf." Zi Yui menunduk, aura Raja Xin begitu menyesakkan, entah karena Kultivasi nya yang tinggi atau karena dia keturunan Naga, dan dirinya hanyalah Siluman kelinci.


Raja Xin hanya mengangguk singkat, ia kembali menatap An She. "jadi, kenapa laki-laki ini ada di sini?"


"Aku memintanya ke sini untuk menghilangkan jejak Dewi. Karena jika aku yang menghilangkan jejak Dewi, mereka akan tahu keberadaan ku."


"Sepertinya kau sudah tahu kalau Ru-an pernah ke sini." Ujar Raja Xin.


"Tentu, semua yang bersangkutan dengan Dewi aku harus mengatahuinya." Sahut An She.


Raja Xin menatap An She dengan serius. "Jawab pertanyaan Raja ini."


An She terdiam ketika mendengar nada perintah dari ucapan Raja Xin.


"Apakah di antara kalian, ada yang di bunuh di ladang bunga dahulu?"


Deg


Tubuh An She menegang, pertanyaan Raja Xin membuat nya mengingat kembali saat drekan nya yang lain... Di bunuh secara bersamaan.


"K-kenapa anda menanyakan hal itu?" Nada bicara An She menjadi formal. Tangannya mengepal erat.


"Sepertinya memang ada. Kemarin, di perjalanan pulang. Yun Yi bermimpi buruk, dia bilang, di mimpinya dia melihat mayat di sebuah ladang bunga. Dan setelah bercerita itu, Yun Yi mengeluh sesak. Lalu ia mengisi tersedu-sedu." Ini adalah pertama kalinya bagi Raja Xin berbicara 0anjang pada seseorang selain Yun Yi, rahangnya terasa pegal, seolah habis di paksakan bergerak.


"A-apakah, De-dewi mengenali wajah orang-orang yang terbunuh itu?" An She menunggu jawaban dari Raja Xin dengan penuh harap, namun jawaban yang ia terima membuat harapan itu hancur berkeping-keping.


"Tidak."


"Ku harap, Dewi segera mengingat semuanya. Aku takut, wanita itu menyerang Dewi saat dirinya belum mengingat masa lalu. Dan semsta ini membutuhkan Dewi. Kami pada peri dan roh hutan tidak dapat menangani kerusakan-kerusakan yang terjadi di alam. Apalagi, penjinak binatang kini sudah angkat tangan, tentang banyaknya binatang yang lepas kendali." Ujar An She panjang lebar.


"Apakah sekacau itu? Seperinya masalahnya makin rumit." Zi Yui yang tadinya diam, pada akhirnya berucap.


"Kalau Dewi tidak segera mengingat masa lalunya, dan singgasana di istana Hien tidak segera di duduki. Aku takut semesta akan semakin kacau, dan aku takut kalau Istana Hien di ambil alih oleh Dewi lain." An She menarik nafasnya, lalu kembali melanjutkan ucapannya.


"Bahkan, beberapa hari yang lalu. Aku mendapatkan laporan dari peri wilayah paling Utara. Kalau para monster mulai menggila karena Dewi tidak memberikan kristal penenang yang di buat dari tanda teratainya."


Raja Xin terdiam, mengapa An She menceritakan ini padanya. Kalau pada Zi Yui ia paham apa alasannya. "Apa alasanmu menceritakan ini pada Raja ini?"


"Aku harap, anda bisa membantu Dewi untuk mengingat masa lalunya secepat mungkin." An She menundukkan kepalanya.


"Kalau bisa sebelum musim dingin tiba. Dewi sudah mengingat sebagian memori masa lalunya." Ujar An She sedikit sungkan.


Raja Xin menjadi yakin kalau yang di ucapkan Zi Yui adalah benar. Sepertinya keadaan semesta akan semakin kacau kalau Yun Yi tidak segera mengingat tentang masa lalu nya.


Tapi... Kalau Yun Yi mengingat masa lalunya secepat itu. Apakah kebersamaan mereka hanya akan sampai musim gugur bulan esok?


"A'Guang." Lamunan Raja Xin terpecah kala Yun Yi memanggilnya denan suara kencang.


"Sepertinya suara itu dari arah luar Paviluin." Ujar Zi Yui.


"Apakah kita harus bersembunyi?" Tanya nya.


"Ternyata Bai Mei ada di sini." Yun Yi melangkah mendekat ke arah Bai Mei yang sedang berbaring di rerumputan.


"Wah, ada kelinci. Apakah ini milikmu?" Yun Yi berjalan ke arah samping Raja Xin, ia berjongkok lalu memangku kelinci itu dengan tangan kirinya.


"Biar aku yang gendong dia." Raja Xin mengambil Zi Yui dari dekapan Yun Yi.


"Kelinci ini bukan milikku. Dia adalah Zi Yui dengan tubuh aslinya." Jelas Raja Xin.


"Eh? Aku kira dia ahanya kelinci biasa. Ternyata Zi Yui." Mendengar suara Yun Yi yang kembali bersemangat, Raja Xin senang.


"Sepertinya suasana hati mu sudah semakin membaik." Ucap Raja Xin.


Yun Yi tersenyum, lalu mengangguk. Ia mendudukkan dirinya di rerumputan yang sengaja di tanam di paviliun ini. "Setelah aku berendam di air hangat, semua beban pikiranku melayang begitu saja."


"Dan kalau Lan Mei memijitku, mungkin aku akan semakin membaik. Tapi sayangnya, tadi Lan Mei tengah melakukan hal lain. Lalu pelayan lain yang ada di kediaman ku tidak bisa memijit dengan benar." Keluh Yun Yi.


Wajahnya agak masam mengingat pijatan yang ia terima dari salah satu pelayan yang bernama Hua nie.


Tiba-tiba Yun Yi mengerikan pijatan di bahunya. Sangat nyaman, pijatannya bertenaga tapi juga lembut.


"Apakah seperti ini?" Yun Yi membalikkan badannya ketika mendengar suara itu.


"Eh? Ternyata kamu yang memijit. Aku kira siapa." Yun Yi sedikit kaget ketika Raja Xin duduk bersila di belakangnya. Apalagi sampai memijitnya.


"Bukankah kamu bilang, kalau ada yang memijit mu, kamu akan semakin membaik." Raja Xin memutar kepala Yun Yi agar kembali melihat ke depan.


"Karena aku tidak suka melihat mu murung. Jadi ijinkan aku membantumu memulihkan diri." Tangan Raja Xin naik ke kepala Yun Yi lalu mulai memijit nya pelan.


Dulu ketika ia masih belum menjadi Raja, Raja Xin sudah sangat sering memijit Nenek nya. Karena usianya, Nenek Raja Xin selalu mengeluh pegal, dan dengan inisiatif sendiri, Raja Xin memijit Nenek nya.


Yun Yi memjamkan matanya, pijatan tangan Raja Xin di kepalnya membuat ia tambah rileks. Tadinya suasana hatinya masih agak buruk karena mimpi waktu itu. Namun sekaranh, semua beban dan pikiran nya menjadi sirna begitu saja.


"Apakah ada bagian yang masih ingin di pijat?" Tanya Raja Xin.


Yun Yi melepaskan Bai Mei. Lantas berbalik, lalu menyimpan tubunya di paha Raja Xin yang panjang. "Punggung ku terasa pegal." Keluh nya, dengan nada di buat-buat.


Raja Xin terkekeh, ia senang kala Yun Yi terlihat menikmati pijatannya. Tangannya mulai memijit punggung atas Yun Yi, dan terus turun. Lalu kembali lagi ke atas, dan ruuen lagi.


Namun, ketika tangannya akan kembali lagi ke atas. Wajahnya secara tiba-tiba memanas, jantungnya berdegup kencang. Tangan Raja Xin melayang di udara.


"A'Guang, ayo lanjutkan. Punggung ku masih terasa pegal." Yun Yi menepuk-nepuk punggungnya, lalu menarik Zaosan milik Raja Xin.


"Ba-baik." Dengan tangan gemetar. Raja Xin kembali memijat punggung Yun Yi.


'Sangat pas dan indah.' Tiba-tiba kata-kata itu melintas di otaknya, dengan segera Raja Xin menggeleng.


'Jangan pikirkan hal gila Xin!!' Teriaknya dalam hati.


...🔸️To Be Continued🔸️...