
"Duan."
Duyung cantik yang ada di depan Yun Yi itu tersenyum. "Ternyata kamu masih ingat namaku."
"Apakah kamu ingat dengan kebersamaan kita?" Duyug itu lanjut bertanya.
Yun Yi menggeleng sambil bergumam. "Maaf."
"Tidak perlu minta maaf." Duyung itu menggeleng maklum.
Walau sekilas, Yun Yi melihat kesedihan di mata duyung itu, dan Ia merasa bersalah. "Aku akan berusaha untuk mengingatnya, jadi tunggu ya."
"Apakah kamu sedang membujukku agar tidak sedih?" Ada sedikit nada ejek di nada bicara duyung itu. Tapi bukannya marah atau kesal, Yun Yi merasa akrab dengan nada bicara itu.
Bahu Yun Yi terangkat. "Mungkin." Ucapnya.
"Aku berterimakasih, karena kamu mau berusaha mengingat ku. Tapi, tolong jangan memaksakan diri, ingatan itu mungkin akan kembali di saat-saat tertentu. Misalnya akan kembali saat kamu mengalami kejadian yang sama, atau semacamnya."
Kepala Yun Yi terangguk-angguk, memegang terkadang ingatan nya kembali di saat yang tidak pernah ia duga. Yun Yi pernah berusaha mengingat masa lalu nya di saat dia ingin, tapi tidak berhasil.
Mungkin yang di katakan duyun itu benar, mungkin ingatan nya bisa Kemabli saat dirinya mengalami kejadian yang sama dengan di masa lalu.
"Yun Yi, apakah aku boleh mengulang perkenalan diri ku?" Tanya duyung itu.
Kepala Yun Yi terangguk. "Baiklah."
"Aku adalah Duan , aku berasal dari suku duyung. Kami suku duyung terkadang selalu di sebut siluman ikan. Namun pada kenyataannya, suku ku dan siluman ikan sangat berbeda." Duyung itu menjeda ucapan nya. Dia berenang lalu duduk di kerang besar itu, dan saat itu juga, tubu Yun Yi melayang, dan terduduk di kerang, sebrang duyung itu.
"Jika siluman ikan harus berkultivasi sampai ranah Jendral untuk bisa berubah menjadi manusia. Maka kami hanya perlu meminum muriara yang di hasilkan dari nafas Naga air."
"Penampilan asli siluman ikan adalah seekor ikan. Sedangkan kami, suku duyung, penampilan inilah wujud asli kami." Duan menunjuk ekor nya dengan tangan nya.
"Dan siluman ikan tidak dapat berubah ke wujud setengah ikan setengah manusia seperti suku duyung. Kekuatan kami, suku duyung, pun lebih besar dari pada siluman ikan."
Setelah Yun Yi merasa kalau Duan tidak akan melanjutkan perkataannya lagi. Ia berucap. "Bukakah ini bukan sebuah perkenalan melainkan penjelasan mengenai suku-mu?"
Duan tersenyum, "Seperti sebelumnya, kamu juga mengatakan itu di masa lalu."
"Benarkah?" Yun Yi merasa tidak percaya.
Duan mengangguk. "Setelah kamu mengingatnya nanti pasti kamu akan percaya."
Duan melihat ke atas, senyum kecil tumbuh di wajahnya. "Sepertinya kamu harus segera ke daratan. Kakasihmu sedang menunggu di atas kapal."
Yun Yi ikut melihat ke atas, dirinya tidak dapat melihat apapun. Mungkin karena jarak antara dasar laut dan daratan cukup jauh.
"Kamu tidak akan melihatnya. Kekasihmu berada di laut dunia ruang nya. Sedangkan kita berada di samudra yang jauh dari daratan."
Mendengar ucapan Duan, alis Yun Yi tertutup. "Maksudmu?"
"Saat berenang tadi, apa kamu merasa ada yang berbeda?" Bukan nya menjawab, Duan malah balik bertanya.
"Itu memang benar." Yun Yi memang merasa ada yang berbeda saat dirinya berenang menuju dasar laut. Suhu air di atas dan bawah terasa berbeda. Batu karangpun sangat jauh berbeda.
"Ketika kamu memasuki air, aku dapat merasakan keberadaan mu. Karena kami suku duyung adalah bagian dari air itu sendiri. Maka saat kamu berenang semakin dalam, aku memasang array untuk membuatmu pergi ke sini." Jelas Duan.
Mendengar itu, Yun Yi kini memahami satu hal. "Jadi maksudmu. Laut yang kita tempati ini bukan laut yang sama dengan laut yang ada di dalam dunia ruang milik A'Jian?" Tanyanya, memastikan.
Melihat anggukan dari Duan. Yun Yi kini mengerti mengapa ia merasa ada yang berbeda.
Saat Yun Yi merasakan geli di kakinya, ia menunduk. Hiu tadi yang mengikutinya kini tengah mendusel? Kepalanya di kaki Yun Yi.
"Bukankah dia hiu? Mengapa terlihat manja?" Tanya Yun Yi entah pada siapa.
Kekehan Duan terdengar, Yun Yi menatap aneh pada Duan yang terkekeh.
"Mengapa kamu tertawa?"
"Xiao, mungkin kamu tidak ingat. Pertemuan pertama kita adalah, saat dirimu menyelamatkan Lan Hei. Waktu itu, aku dan Lan Hei di serang sekelompok Kultivator. Dan aku menyuruh Lan Hei untuk pergi, dan entah bagaimana Lan Hei bisa terluka. Saat aku mencarinya, aku menemukan dirimu tengah mengobati Lan Hei yang terluka." Tutur Duan.
"Jadi, dulu aku pernah bertemu dengan nya?" Tangan Yun Yi terulur, mengusap kepala Lan Hei. Dan entah mata Yun Yi saja yang salah melihat, atau memang Lan Hei seperti tengah bahagia karena di sentuh Yun Yi.
"Ya."
Duan kembali mihat ke atas. "Xiao, sebaiknya kamu segera menghampiri kekasihmu. Sepertinya dia tengah cemas."
Yun Yi baru menyadari kalau sedari tadi Duan menyebut, Raja Xin sebagai kekasih nya.
"A'Jian bukan kekasih ku, tap..."
"Tapi tunanganku." Ucap Duan, mendahului Yun Yi.
"Aku tahu. Hanya saja, aku lebih suka menyebutnya kekasihmu. Itu... Terdengar lebih romantis." Sambung Duan.
Mendengar kata romantis, entah kenapa Yun Yi merasa tengah di sindir. "Kenapa nada bicaramu seperti itu?"
Duan tersenyum, wajahnya lagi-lagi kembali mengadah. "Aku masih ingat, dulu keturunan naga itu, memberikanmu sebuah mahkota bunga. Dan sekarang, anak kecil itu sudah menjadi tunangan mu. Dunia memang berputar."
Yun Yi tidak terlalu paham dengan gaya bicara Duan yang seperti itu. Ia hanya mengangguk saja.
"Tunggu. Mengapa kamu tahu kalau dulu A'Jian memberi ku mahkota bunga?" Tanya Yun Yi.
"Waktu itu aku merasa gerah dengan daratan, makanya aku mencari kolam yang cukup besar untuk ku berenang. Dan kolam itu tak jauh dari istana langit. Saat itu aku sedang duduk di pinggiran kolam, dan tidak sengaja melihat seorang anak kecil memberikan sebuah mahkota bunga pada seorang Dewi baru, yaitu dirimu." Jelas Duan.
Yun Yi menggali ingatan nya, 'Kolam dekat istana langit'. Sebuah kaa yang terasa familiar di telinga Yun Yi.
"Duan, apakah kamu pernah berkata seperti ini sebelumnya?" Tanya Yun Yi.
"Kepada siapa?"
Yun Yi menunjuk dirinya sendiri, lalu berucap. "Kepada ku." Sahutnya.
Duan menopang dagunya. "Sepertinya tidak."
Lalu kembali berucap. "Ini pertama kalinya aku memberitahumu kalau aku melihat Naga biru itu memberikan mahkota bunga padamu."
'Kalau bukan Duan, maka siapa? Firasat ku mengatakan aku pernah mendengar kata itu. Tapi.. siapa? Dan, di mana?'
"Xiao, lebih baik kamu memikirkan hal itu nanti saja. Sepertinya kekasihmu itu sudah terlalu lama menunggumu."
Yun Yi tersadar, ia melihat ke atas. "Baiklah, kalau begitu aku pamit."
...🔹To Be Continued🔹...