Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Satu tempat


Setelah kepergian Jendral Huang dan Qiou Yue. Yun Yi menunduk, menatap Raja Xin yang masih asik dengan tangan nya.


Raja Xin masih dalama posisi awal, terduduk di lantai dengan kepala dia tidurkan di samping badan Yun Yi, serta tangan nya yang tenah asik memainkan tangan kecil Yun Yi.


"A'Guang, kau juga harus istirahat, ini sudah mau beranjak malam." Entah dorongan dari mana, Yun Yi berani mengusap kepala Raja Xin.


"Aku masih ingin di sini." Raja Xin berucap, ia duduk tegak.


"Bolehkan? Aku masih khawatir kepada mu Yun'er." Raja memegang kedua tangan Yun Yi, berniat membujuknya.


Melihat tingkah Raja Xin yang baru ia lihat, entah kenapa menjadi kesenangan tersendiri bagi Yun Yi.


"Bisakah kamu melepaskan tangan ku? Aku ingin tidur." Yun Yi menarik tangannya namun Raja Xin tidak membiarkan tanan Yun Yi lepas.


"Tidak bisa!" Dengan tegas Raja Xin menggeleng.


"Lalu aku tidur bagaimana?" Agak jengkel dengan kelakuan Raja Xin, Yun Yi mendengus.


"Kalau tidur ya tidur saja." Ucap Raja Xin.


"A'Guang... Ayolah." Yun Yi tidak tau harus bagaimana lagi agar Raja Xin mau melepaskan tangan nya.


Melihat Yun Yi yang semakin kesal, Raja Xin pun terkekeh. 'Ternyata sangat menyenangkan membuatnya kesal.' batin Raja Xin.


"Kenapa kamu malah tertawa?" Sewot Yun Yi.


"Sudah, sudah. Sekarang waktunya tidur."


Raja Xin naik ke peraduan Yun Yi dengan santai. Namun, beda halnya dengan Yun Yi, ia membulatkan matanya.


"Apa yang kau lakukan?!" Yun Yi memundurkan tubuhnya menjauh dari Raja Xin.


"Tidur, memang nya pa lagi?" Tanya Raja Xin dengan raut wajah polos, yang membuat Yun Yi naik pitam.


"Tidurlah di kamarmu! Mengapa harus tidur di sini?" Yun Yi mendorong Raja Xin dengan sekuat tenaga.


Namun, sekuat apapun Yun Yi mendorong Raja Xin, itu tidak membuat tubuh Raja Xin menggeser saru senti pun.


Raja Xin memegang tangan Yun Yi, lalu memeluknya.


"Sudahlah, mari kita tidur. Aku sudah sangat mengantuk."


Yun Yi yang tiba-tiba di peluk oleh Raja Xin, menegang kaku. Jantungnya berdegup sangat kencang, lebih dari biasanya, wajahnya pun terasa panas.


Raja Xin tanpa sepatah kata pun mengusap rambut Yun Yi perlahan, "Tidurlah." Gumam Raja Xin.


"A-apa harus dengan posisi seperti ini?" Tanya Yun Yi, gugup.


"Tak masalah bukan? Kita akan segera bertunangan, Jendral pun tak melarangku." Ujar Raja Xin dengan mata terpejam.


"Tapi tadi Ayah bilang, aku harus berteriak jika kamu macam-macam pada ku." Yun Yi mulai terbiasa dengan pelukan Raja Xin, ia mengetuk-ngetuk dada bidang Raja Xin yang keras.


"Bukankah kamu yang macam-macam padaku? Bukan aku yang macam-macam pada mu." Raja Xin terkekeh, menunduk menatap wajah Yun Yi yang mulai memerah.


"A-apa? Siapa yang macam-macam padamu." Yun Yi menyembunyikat semburat merah yang muncul di kedua pipinya dengan tangan.


Raja Xin yang merasa gemas dengan tingkah Yun Yi pun memeluknya semakin erat.


"Aku benar-benar harus memajukan tanggal pertunangan kita. Tidak, tidak, sepertinya kita harus langsung menikah." Ucap Raja Xin mengecupi puncuk kepala Yun Yi.


Yun Yi memukul dada Raja Xin, "Apa-apaan, aku tidak ingin langsung menikah."


Merasakan pukulan Yun Yi yang cukup bertenaga, Raja Xin berucap.


"Apa kau berniat mencelakai ku? Sampai-sampai memukul ku begitu kencang."


Yun Yi mendongak, "Apakah sakit? Apa aku memukulnya terlalu keras?" Yun Yi bertanya, khawatir.


"Ya, ini sakit. Tolong usap dengan pelan." Ujar Raja Xin mengubah raut wajahnya menjadi terlihat begitu kesakitan.


Yun Yi menutup wajah Raja Xin menggunakan tangannya, "Jangan membual!"


"Raja Xin tertawa cukup kencang, dia menjauhkan tangan Yun Yi dari wajahnya, lalu mengecupi punggung tangannya.


"Sudah,sudah. Jangan mengobrol terus, mari tidur." Setalah menghentikan tawanya, Raja Xin kembali menarik Yun Yi ke dalam pelukannya.


Yun Yi pun tidak keberatan, ia sangat nyaman di perlakukan seperti ini. Walau agak gugup, karena ini pertama kalinya ia tidur dengan lawan jenis.


Karena usapan dari Raja Xin di kepalanya, mata Yun Yi mulai memberat.


Raja Xin mengecup puncuk kepala Yun Yi, "Selamat malam, dan minpi indahlah, Phoenix ku."


...> > > ✧✧✧ < < <...


Pagi ini, setelah sarapan Jendral Huang mengumpulkan semua orang yang tinggal di Huang Fu ke aula utama.


"Kenapa Jendral mengumpulkan kita?" Tanya Da Hui Ling.


"Entahlah, aku pun tidak tahu." Sahur Da Hui Long.


Tak lama Jendral Huang pundatang bersamaan dengan Yun Yi dan Raja Xin.


Melihat Raja Xin, hampir semua orang yang ada di ruangan itu memelototkan matanya, termasuk para tetua.


Setelah duduk, Jendral Huang langsung berbicara.


"Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku mengumpulkan kalian di sini. Saya akan langsung ke intinya." Jendral Huang menoleh ke arah Kasim Luo.


Kasim Luo yang mengerti dengan isyarat itu mengangguk.


"Selir pertama dan Selir kedua silahkan maju ke depan."


Da Hui Long yang di panggil mengerut heran, walau begitu ia tetap maju ke tengah-tengah aula, sama hal nya dengan Da Hui Ling.


"Bawa mereka masuk!" Titah Kasim Luo.


Para prajurit menyeret dayang pribadi Da Hui Long, lalu dari arah pintu prajurit menarik beberapa pelayan.


Da Hui Long mengernyitkan alisnya, melihat orang-orang di bawa rata-rata adalah orang-orang nya.


"Jendral ada apa ini? Kenapa pelayan dari kediaman saya di tarik seperti ini?" Tanya Da Hui Long.


Da Hui Ling pun mengangguk, "Jendral lalu kenapa ada orang-orang saya juga?"


Jendral Huang menggeram, "Sepertinya kalian belum sadar dengan kesalahan yang telah kalian buat."


Jendral Huang mengangguk ke arah Kasim Luo.


Kasim Luo membuka selembar kertas yang berisi informasi yang berhasil di kumpulkan oleh penyelidik Jendral Huang, Putra Mahkota, dan Raja Xin.


"Selir pertama dan Selir kedua Da Hui Long dan Da Hui Ling. Anda berdua terbukti menjadi tersangka yang telah memberi Embun Mimpi yang membuat Er'Xiăo Jiě hampir tidak bisa bangun kembali."


Da Hui Long dan Da Hui Ling membulatkan matanya, mereka bergetar ketakutan.


Da Hui Long menyenggol lengan adiknya, "Bukan kah kau bilang sudah membereskan semuanya?" Bisik Nya.


Yun Yi yang melihat itu tersenyum, "Mereka malah berbisik seperti itu. Bukankah sama saja langsung mengaku." Gumam Yun Yi yang di dengar oleh Raja Xin.


"Kau benar Yun'er. Tapi biarkan saja, ini membuat semuanya menjadi semakin seru." Raja Xin mengusap kepala Yun Yi.


Mendengar itu Yun Yi hanya mengangguk, "Benar juga."


...🔸️To Be Continued🔸️...