
"Hiks, hiks." Yun Yi mengusap air matanya dengan kasar. Tapi semua itu sia-sia, karena air matanya terus turun dengan deras.
Untuk mencegah Yun Yi yang terus mengusap air matanya secara kasar, Raja Xin kembali memeluk Yun Yi dengan erat. Dia menepuk-nepuk punggung Yun Yi pelan.
Dia tidak tahu semengerikan apa mimpi yang di alami Yun Yi sampai-sampai membuatnya menangis seperti ini. 'Atau orang di mimpi itu adalah bawahan paling setia nya di masa lalu?'
Raja Xin teringat, kalau yang sering ada di Desa Aidelwis hanyalah An She. Ia tidak pernah melihat bawahan Yun Yi yang lainnya, dari semasa menjadi Dewi Alam dulu, di Desa Aidelwis.
'Tidak, tidak.' Raja Xin mengenyahkan pikiran buruk yang hinggap di kepalanya. 'Mungkin ini hanya tebakanku saja.'
Setelah beberapa saat, tangis Yun Yi pun mulai reda. Tapi dia masih sesenggukan. Setelah tenang, Yun Yi masih tetap bersandar di dada Raja Xin. Ini aneh, kenapa dia bisa sesedih ini, bukankah ia sudah biasa melihat mayat seseorang. Bahkan yang membunuhnya adalah dirinya, lalu kenapa... Saat melihat mayat-mayat itu, hatinya terasa sakit. Tangannya pun masih bergetar sampai saat ini.
"Apakah susah mulai tenang?" Tanya Raja Xin.
Yun Yi mengangguk. "Ya."
Raja Xin mengusap kepala Yun Yi. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang mimpi Yun Yi. Tapi ia takut kalau Yun Yi menangis lagi.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Setelah berhari-hari melakukan perjalanan akhirnya kini mereka sudah sampai di Kerajaan Qiu, Wanran dan Guan Yin meminta semuanya untuk menginap. Tapi Qiou Yue menolak, ia sudah meninggalkan pekerjaannya cukup lama, dan tidak bisa cuti lagi.
Jendral Huang juga menolak, pekerjaannya mungkin sekarang sudah semakin menumpuk akibat di tinggalkan. Lalu Guang Luo yang pamit untuk mencari seseorang yang akan ia jadikan murid ke dua nya.
Yun Yi pun menolak, karena mimpi waktu itu, pikiran Yun Yi selalu agak kacau dan ia membutuhkan istirahat. Dengan erat hati Wanran Dan Guan Yin mengangguk.
Kali ini Yun Yi tidak baik Kereta kuda. Sekarang ia menunggangi Xiao Bai, Raja Xin pun meminjam kuda milik Shen sehingga ia bisa mengendarai kuda bersama Yun Yi.
Setelah sampai di ibu kota Kekaisaran Xi. Qiou Yue segera meminta ijin untuk menemui Huangtaizi, dan semua yang tersisa segera pulang ke Huang Fu.
Raja Xin menatap Yun Yi yang sedang menganggumi bunga sakura yang gugur akibat angin. Melihat Yun Yi yang mulai ceria kembali, Raja Xin tidak dapat menahan senyumannya.
Sesampainya di Huang Fu, Raja Xin dan Yun Yi berpisah. Yun Yi yang kembali ke Paviluin nya dan Raja Xin yang di antarkan ke tempat paviliun tamu.
Yun Yi meminta para pelayan untuk segera menyiapkan air hangat untuk nya berendam, dan tidak lupa dengan wewangian lavender.
Ia membutuhkan sesuatu untuk membuat nya tenang. Mimpi kemarin masih terus menghantui Yun Yi.
Yun Yi menengok ke sana, kemari. Dia tidak menemukan Bai Mei di mana pun.
"Tunggu." Yun Yi menghentikan salah satu pelayan yang hendak keluar dari kamarnya.
"Ya, apa ada yang bisa Nubi bantu Xiăo Jiě?" Pelayan itu menundukkan kepalanya.
"Apa kau tahu di mana Bai Mei?" Tanya Yun Yi.
"Apa maksud anda adalah kucing putih itu Xiăo Jiě?" Pelayan itu menunjuk sebuah dahan pohon Plum yang berada di dekat kolam.
"Ya ampun, Bai Mei." Yun Yi berlari, menghampiri pohon Plum yang Bai Mei naikki.
"Bai Mei, kamu sedang apa di sana?"
Meong
Bai Mei mengeong, ia menatap Yun Yi dengan mata berbinar.
"Tunggu!!" Mata Yun Yi membulat ketika Bai Mei akan melompat.
Hup
Meong
"Hais dasar." Yun Yi mengacak kepala Bai Mei dengan gemas.
"Xiăo Jiě air nya susah siap." Lan Mei berteriak dari depan pintu kamarnya dengan suara kencang.
"Baik."
Sedangkan di sisi lain. Raja Xin menatap siluman kelinci di depannya dengan penuh selidik.
"Aku sudah mengatakannya berulang kali, aku di sini sudah tiga hari. Dan aku bukanlah penyusup. Aku ke sini mengikuti An She." Dia adalah Zi Yui, tubuhnya manusia nya sekarang sudah kembali seperti semula berkat bantuan An She.
"Bagaimana aku dapat mempercayai nya?" Raja Xin menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Auranya sangat mendominasi, sampai-sampai siluman kelinci yang sudah berumur lima ratus tahun itu bergetar.
"Oh ayolah. Aku sudah menjelaskan alasan ku bisa ada di sini sudah berulang-ulang. Bahkan mulutku hampir berbusa." Zi Yui mendengus, ia sangat kesal karena Raja Xin malah mengahalnginya. Padahal ia ingin menemui kekasih cantiknya itu.
Raja Xin masih tetap diam dengan aura dinginnya. Siluman yang di bawa Yun Yi kala itu memiliki tubuh anak kecil. Dan siluman yang ada di depannya ini memiliki tubuh orang dewasa.
"Huh..." Zi Yui menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia membutuh kan kehadiran An She di saat-saat seperti ini.
Meong
"Baru saja Zi Yui memikirkan mu." Zi Yui berseru senang saat seekor kucin gputih berjalan ke arah mereka.
Raja Xin menatap kucing itu. "Mengapa Bai Mei bisa ada di sini?"
Alis Zi Yui bertaut ketika Raja Xin menyebut nama Bai Mei. "Dia itu An She, bukan Bai Mei."
Raja Xin berdecih. "Apa maksud mu?"
"Yang di katakan Zi Yui benar. Aku An She." Raja Xin berbalik, ia menatap kucing itu yang kini berubah menjadi seorang manusia. Tapi dia tidak memilki telinga kucing.
"Siapa kau?!" Orang di depannya ini memiliki aura aneh, dia adalah keturunan Naga biru, penciuman dan Indra lainnya sangat tajam. Tapi ia tidak dapat mengetahui mahluk apa wanita ini.
"Aku An She, salah satu bawahan Dewi Alam. Ini adalah tubuh kloning ku. Jadi kamu tidak dapat mengetahuinya dengan penciuman Naga mu itu." Ujar An She.
"Apa buktinya kalau kamu adalah bawahan Xiao Sui?" Mata An She menajam ketika Raja Xin menyebut nama junjungannya.
"Lancang! Berani sekali kamu menyebut nama Junjunganku! Kamu harus bersikap hormat padanya!"
Sudut bibir Raja Xin terangkat. "Kau benar-benar An She ternyata."
Kini An She menatap penuh tanya pada Raja Xin. "Apakah kamu sedang menuju ku?"
"Entahlah." Wajah Raja Xin kembali datar. Ekspresi nya tadi menghilang begitu saja.
"Huh." An She mendengus, lalu berucap.
"Jangan ganggu Zi Yui. Dia tidak memilki niat jahat apapun terhadap Junjunganku."
"Benarkah? Lalu kenapa saat di hutan Dinglou dia menyerang Yun Yi ku?" Raja Xin menatap dingin pada An She.
"Aku tidak sengaja, dan saat itu aku tidak tahu kalau itu adalah Dewi Alam." Sahut Zi Yui dari belakang.
"Mau apapun alasannya, tetap saja kau telah menyerang gadisku." Aura dominasi yang keluar dari Raja Xin semakin pekat. Jika bukan karena Zi Yui mematuhi perintah seseorang untuk melukai dua saudara Gu itu. Yun Yi nya tidak akan terluka.
...🔸️To Be Continued🔸️...