Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Aku ingin mengujinya


⚠️Ada adegan yang tidak pantas untuk di tiru, dan di baca anak di bawah umur⚠️


Pertarungan berjalan seimbang, tapi ketika pria itu sudah mulai kelelahan, dirinya menggunakan Qi spiritual nya untuk menyerang Yun Yi, bermaksud menyelesaikan pertarungan.


Sudut mulut Yun Yi terangkat, serangan ke il seperti itu tidak akan bisa mendekatinya apalagi melukainya.


Dengan satu kali hembusan, Yun Yi melenyapkan Qi spiritual api milik pria itu.


"Kamu terlalu menganggap remeh orang."


Yun Yi membuat sebuah bola spiritual api kecil, berniat membalas.


Pria itu terkekeh, dia menatap Yun Yi dengan tatapan merendahkan. "Qi spiritual sebesar itu tidak akan mempan padaku, asal kau tahu Ye adalah pemilik dari armor jiwa serangan Qi spiritual tingkat dewa saja tidak dapat melukai Ye ini, apalagi Qi spiritual sekecil itu."


Bukannya tersinggung, Yun Yi malah tersenyum mengejek. "Kita lihat, apakah armor yang kau banggakan itu memang dapat menahan ini."


Yun Yi melempar bola spiritual api itu dengan santai.


Pria itu dengan angkuh membusungkan dadanya, tapi...


Buss


Brak


Ketika api kecil itu mengenainya, api kecil itu dengan cepat membakar pria itu. Bukan hanya bajunya, api itu dengan cepat membakar permukaan kulit pria itu.


"Argh..."


Teriakan kesakitan pria itu menggema di ruang bawah tanah ini.


Yun Yi menatap puas melihat hasil kerjanya. "Kau tenang saja, api itu tidak akan membunuhmu. Tapi... semua qi spiritual yang kau miliki akan lenyap. Dan luka bakar itu, tidak akan pernah bisa di obati."


Yun Taek tersenyum manis, lalu melambaikan tangannya pada mereka. Yun Yi berbalik dan hendak membuka pintu.


"Diam di tempat! Jika kau memaksa keluar, gadis ini akan langsung ku habisi."


Suara pria lain terdengar, dan Yun Yi dengan santai kembali berbalik.


Di sebrang sana, salah satu pria tengah menyandra seorang gadis dengan tampilan yang begitu acak-acakan. Bajunya sudah robek, wajahnya sangat kusut, banyak luka di wajahnya juga tatapan gadis itu terasa kosong, seolah dia tidak hidup.


Saat pedang yang di pegang pria itu mengenai lehernya, gadis itu tidak meringis ataupun terlihat kesakitan. Wajahnya masih sama, tanpa ekspresi.


"Lepaskan." Ujar Yun Yi masih biasa, dia menatap pria yang menyandra gadis itu. Yun yi merasa kenal dengan gadis itu, di lihat dari telinga dan ekornya, kalau tidak salah gadis itu adalah siluman rubah.


'Tunggu!' Mata Yun Yi membola ketika menyadari satu hal. "H-hua Wei?"


Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Bukankah dia seharusnya ada di dunia manusia? Lalu... mengapa ekor Hua Wei hanya tersisa satu?


Yun Yi kembali memperhatikan Hua Wei, mata gadis itu benar-benar kosong, seperti tidak memiliki gairah hidup.


Tiba-tiba kepala Yun Yi berputar, ada sebuah kejadian yang hampir saja ia lupakan. Bukankah dahulu, dirinya dan Hua Wei sangat dekat? Kenapa ia baru ingat sekarang, kalau Hua Wei adalah saudaranya.


"Hua Wei." Yun Yi mencoba menyadarkan Hua Wei yang terus termenung.


"Hua Wei!"


"Hua Wei!"


Sudah ketiga kalinya Yun Yi memanggil nama gadis itu, tapi Hua Wei tidak merespon. Bahkan tubuh Hua Wei tidak bergerak. Hua Wei akan bergerak ketika si penyandra menggerakkannya.


Amarah di hati Yun Yi semakin mengobar, apakah mereka juga yang membuat Hua Wei kehilangan ekornya? Apa yang mereka lakukan sampai Hua Wei menjadi seperti ini?


Sebelum si penyandra menjawab, pria yang tadi di belakang si penyandra maju. "Kami hanya bermain dengan gadis itu. Walaupun, awalnya rubah cantik ini selalu menolak, akhirnya setelah kamu memotong ekornya sampai tersisa satu, gadis rubah ini bisa sedikit patuh."


"Ya walau hanya bisa mengajak kami bermain satu kali, tapi itu cukup memuaskan." Sambungnya.


Wajah Yun Yi semakin memerah karena marah. Satu detik Yun Yi terlihat seperti Hei Sui, namun detik berikutnya, sosok Yun Yi seolah-olah berubah menjadi seorang Dewi yang tengah menghakimi seseorang.


Tapi itu hanya sekejap, karena kini tampilan Yun Yi telah berubah ke wujud yang tidak pasti.


Mata kirinya seperti mata Hei Sui, lalu mata kanannya seperti mata Yun Yi, si pemilik tubuh. Tapi, di antara keningnya ada sebuah teratai pelangi yang begitu mencolok. Rambut sepinggang milik Yun Yi tiba-tiba memanjang dengan warna berbeda.


Sosoknya saat ini seperti tiga tubuh yang di gabung menjadi satu. Sosok Yun Yi yang seperti ini menatap para pria di depannya dengan tajam.


Dengan kecepatan yang tak dapat terlihat, Hua Wei kini sudah berada di samping Yun Yi. Luka di lehernya perlahan menghilang, karena menyentuh tangan Yun Yi.


Yun Yi menaruh Hua Wei di lantai. "Setelah lama tidak bertemu, kenapa kita harus bertemu dengan keadaan seperti ini?"


Kebanyakan orang tidak tahu, kalau ternyata Xiao Sui menjalani sumpah persaudaraan bersama siluman rubah, dan itu adalah Hua Wei.


Dulu, ketika Xiao Sui terluka parah setelah menjalankan tugas dari sang Ayah, Dewa Agung. Hua Wei-lah yang menyelamatkannya. Dan semenjak itulah mereka mulai sering bertemu dan berakhir menjadi saudara.


Yun Yi berdiri tegak, lalu menatap pria-pria itu dengan marah. "Karena kalian dengan berani menyakiti saudaraku, maka aku akan membalasnya berlipat-lipat."


Perkataan Yun Yi terkesan tenang, tapi aura yang terpancar dari tubunya begitu menyesakkan. Sangat kentara kalau Yun Yi begitu marah.


Yun Yi melangkah dengan tenang, di tangannya muncul sebuah belati panjang yang pernah ia keluarkan dulu, ketika bertarung dengan Shi Wen.


"Kebetulan, aku sudah lama tidak menggunakan senjata ini. Jadi, aku ingin mengujinya, apakah benda ini masih sebagus dulu, atau tidak?"


Sosok Yun Yi yang seperti ini berhasil membuat para pria itu bergetar ketakutan, mereka berniat melarikan diri. Tapi entah bagaimana tubu mereka tidak dapat di gerakkan, seperti ada sesuatu yang mengikat mereka untuk tetap diam di sana.


"Percuma jika kalian mempunyai niat untuk lari dariku, aku sudah lebih dulu mengikat kalian. Bahkan aku sudah menimbun lorong di depan dengan tanah."


Perkataan Yun Yi berhasil membuat mereka semakin bergetar ketakutan, apalagi Yun Yi yang sudah mulai mendekat.


"Baiklah, mari kita mulai dari..."


Yun Yi mengacungkan belati panjangnya, dia mengarahkan belati itu pada pria yang mencabuk wanita paruh baya tadi.


"Sepertinya kamu."


"Tu-"


Srtt


Entah bagaimana, lidah pria itu tiba-tiba jatuh ke lantai. Darah bercucuran dari dalam mulutnya.


"Aaa..."


Pria itu berteriak kesakitan, dan sesekali menunjuk Yun Yi dengan marah. "Uaa aa ua." Ucapan pria itu tidak dapat di mengerti, namun Yun Yi tahu kalau pria itu tengah mengumpatinya.


"Ternyata benda ini masih berfungsi dengan baik." Mengabaikan pria tersebut, Yun Yi kini tersenyum puas sambil menatap belati di genggamannya.


...🔸️To Be Continued🔸️...