
Ketika mendengar suara benda jatuh. Shuan Si ikut melihat ke luar jendela.
Ketika melihat seseorang pria dengan pakaian serba hitam yang tengah memegangi tangannya yang kini berlumuran darah, mata Shuan Si membulat.
Dan ketika pria serba hitam itu berlari, alias kabur. Shuan Si segera melompat ke luar jendela.
"Berhenti!"
Teriakan Shuan Si sangat keras, sehingga membuat Zi Yui dan Wen Yun yang ada di ruang tengah kini masuk ke kamar Yun Yi. Mereka melihat Shuan Si yang tengah berlari di luar sana, mengejar sesuatu.
Melihat keganjilan ini, Zi Yui segera ikut melompat ke luar jendela. Dan ketika Wen Yun juga akan kita melompat, Zi Yui mencegahnya.
"Kamu tetap di sini. Cukup satu orang saja yang mengejar Shuan Si."
Wen Yun hanya bisa mengangguk, karena setelah berucap demikian, kini sosok Zi Yui sudah menghilang.
Suasana di kamar ini menjadi dingin dan menyesakkan bagi Wen Yun. Tanpa sepatah katapun, dia segera keluar dari kamar Yun Yi.
Setelah menutup jendela, Raja Xin kembali duduk. Tapi kali ini Raja Xin tidak Kemabli ber-kultivasi. Karena tak lama, Shen datang dengan setumpuk kertas.
"Yang mulia, ini adalah laporan yang harus segera anda baca." Ujar Shen, lalu meletakkan tumpukkan kertas itu di meja, samping Raja Xin.
Raja Xin mengangguk. "Hm, kamu boleh keluar."
Shen membungkukkan badannya, lalu segera pergi keluar.
Kini kamar Yun Yi kembali ke keadaan semula, yaitu sepi. Raja Xin kini mulai menyibukkan diri dengan setumpuk dokumen yang di bawa oleh Shen.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Tidak terasa, sudah terhitung tujuh hari Yun Yi tertidur. Selama enam hari ini, Raja Xin tidak pernah meninggalkan kamar Yun Yi. Raja Xin selalu berada di samping Yun Yi, dan sesekali memeriksa keadaan Yun Yi.
Selama enam hari ini, keadaan dunia masih belum tenang. Masih banyak oknum-oknum yang terus mencari keberadaan Yun Yi. Bahkan, dua hari yang lalu Dewi Cahaya, Tianzhi, sempat datang.
Tapi karena Raja Xin tahu, kalau Tianzhi berniat membawa Yun Yi ke dunia atas. Maka, Raja Xin membawa Yun Yi ke dalam dunia ruang miliknya.
Untungnya, Tianzhi langsun pergi setelah memeriksa rumah sederhana Yun Yi. Jadi, Raja Xin tidak perlu berlama-lama di dalam dunia ruang.
Sebenarnya, bisa saja Raja Xin terus menjaga Yun Yi di dalam dunia ruang miliknya. Tapi, ketika tubuh Yun Yi berada di dunia ruang, dia selalu mengalami muntah darah.
Raja Xin tidak tahu mengapa bisa seperti itu, bahkan Shuan Si dan Wen Yun juga tidak paham, mengapa junjungan mereka bisa muntah darah, ketika berada di dalam dunia ruang milik Raja Xin.
Selama enam hari ini juga, Raja Xin merasakan luapan energi spiritual di dalam tubuh Yun Yi. Bahkan kemarin, dantian dan Meridian Yun Yi menjadi sangat luas, dan lebih besar dari sebelumnya.
Raja Xin sudah bersiap, jika saja akan ada efek negatif dari perluasan dantian dan pembesaran Meridian yang di alami Yun Yi. Akan tetapi, sampai saat ini, Raja Xin tdak merasakan efek negatif itu. Bahkan, tubuh Yun Yi menjadi jauh lebih kuat dan lebih sehat dari yang sebelumnya.
Siang ini Raja Xin baru saja menyelesaikan pekerjaannya, sejak kemarin Raja Xin terus bekerja tanpa henti. Dan hari ini, bukannya mengistirahatkan diri. Raja Xin malah duduk bersila, ber-kultivasi.
Kunang-kunang itu menyimpan serpihan-serpihan kristal itu di telapak tangan Yun Yi yang mengadah.
Semakin banyak serpihan kristal yang di kumpulkan di telapak tangan Yun Yi, secara perlahan serpihan tu berubah menjadi sebuah kristal lonjong yang indah.
Ketika kristal itu akan sempurna, tanda bunga anggrek pada pipi dan di balik telinga Yun Yi sedikit mengeluarkan cahaya. Mata Raja Xin terbuka, bersamaan dengan terbentuknya kristal biru itu.
Raja Xin menghampiri Yun Yi. Walau lemah, Raja Xin sempat merasakan aura suci Yun Yi alias Xiao Sui, aura suci itu sama dengan aura suci yang di keluarkan Xiao Sui pada saat penobatannya menjadi seorang Dewi.
Raja Xin menatap kristal biru yang ada di telapak tangan Yun Yi. "Kristal apa ini?" Gumam Raja Xin.
Raja Xin menghampiri Yun Yi, lalu duduk di pinggir peraduan, ia kembali mengamati kristal biru itu. Raja Xin merasakan kehangatan yang memancar dari kristal biru itu, walau jarak antara dirinya dan kristal itu sedikit agak jauh.
Tangan Raja Xin terangkat, berniat memegang kristal biru itu, namun seketika berhenti. Raja Xin tidak tahu kristal apa yang ada di telapak tangan Yun Yi. Untuk pertama-tama, dirinya harus mencari tahu dulu kristal apa ini.
Apakah kristal ini boleh di sentuh atau tidaknya. Mengapa begitu? Karena, kristal ini terdapat aura Dewi milik Xiao Sui dan terdapat banyak kunang-kunang yang tidak biasa yang berkumpul di sekitar peraduan Yun Yi.
Dapat Raja Xin rasakan, kunang-kunang itu bukanlah hewan biasa. Sepertinya mereka adalah hewan roh yang di ciptakan oleh Yun Yi. Jika biasanya kunang-kunang bercahaya kuning cerah. Maka, cahaya yang di buat kunang-kunang di hadapannya ini berwarna biru cerah, hampir sama dengan warna kristal yang ada di telapak tangan Yun Yi.
"Kristal apa ini?" Tanya Raja Xin ke arah para kunang-kunang biru itu, tangannya sambil menunjuk kristal yang ada di tangan Yun Yi.
Pada kunang-kunang itu berkumpul, membentuk sebuah kata.
"Inti."
Raja Xin mengertukan alisnya, belum mengerti dengan satu kata itu.
"Apa maksu..."
Seketika mata Raja Xin membulat, ia teringat sesuatu yang pernah ia dengar dari pemimpin klan nya dulu.
"Setiap Dewi atau Dewa pasti memiliki suatu inti dari hidupnya. Inti ini bisa berbentuk apapun, dan bagaimanapun. Inti ini menyimpan semua ingatan, kakuatan dan perasaan dari Dewa atau Dewi itu sendiri."
"Ini... Apakah mungkin, kristal ini adalah Inti dari wujud Dewi Yun Yi?" Terka Raja Xin.
Para kunang-kunang itu beterbangan di sekitar Raja Xin, seolah membenarkan semua tebakan Raja Xin.
Raja Xin kini mengalihkan pandangannya pada Yun Yi. Ketika kepalanya di penuhi dengan pertanyaan, bagaimana bisa kristal inti milik Yun Yi terpecah seperti tadi, dan bagaimana bisa kristal itu bisa terbentuk sempurna lagi, seperti semula.
Ketika tengah asik dengan pikirannya, mata Raja Xin membulat ketika jari-jari tangan, yang memegang kristal biru tadi, bergerak.
"Xiao'er?!"
...🔸️To Be Continued🔸️...