Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Jú huā


"Apakah kamu... Memegang toples cuka di perutmu*?" Yun Yi mencoba menahan senyumnya. Apakah laki-laki di depannya ini cemburu pada sebuah pohon?


Raja Xin mendengus, "Kalau ingin tertawa, ya tertawa saja." Ucap Raja Xin.


Akhirnya Yun Yi tertawa kecil. Bukannya marah, Raja Xin malah salah fokus. Dia terus memandangi Yun Yi yang entah kenaoa seperti ada kerlip-kerlip cahaya di sekitarnya. Sangat bersianar. Sampai-sampai membuat Raja Xin terpesona.


"Hah.." Yun Yi mengusap sudut matanya. Ini benar-benar aneh, mengapa Raja Xin harus cemburu terhadap pohon.


"Sudahlah, ayo ke dalam. Aku ingin melihat seperti apa isi rumah ini." Yun Yi berjalan meninggalkan Raja Xin.


Ketika memasuki gerbang, Yun Yi langsung di suguhkan dengan kolam kecil yang berada di pekarangan.


"Wah... Ikan nya lucu-lucu." Yun Yi berjongkok, memandangi ikan kecil warna-warni itu.


Yun Yi menoleh, "A'Guang. Nama ikan ini apa? Mengapa begitu banyak warna."


Raja Xin pun iktu berjongkok di samping Yun Yi. "Ini adalah keturunan dari Klan Ikan surgawi. Namun, karena tingkat mereka yang masih rendah, mereka belum dapat berubah menjadi manusia." Jelas Raja Xin.


"Lalu mengapa mereka berbeda warna?" Tanya Yun Yi, menunjuk satu persatu ikan di kolam.


"Perbedaan warna adalah penentu lemen mereka. Yang biru adalah air, merah adalah, api, biru muda adalah Es, hijau adalah alam, coklat adalah bumi, ungu adalah petir, lalu yang ada yang menguasai semuanya. Seperti dia." Tunjuk Raja Xin pada ikan yang baru muncul ke permukaan.


"Dan ada peniru segalanya, dia berwarna abu. Namun, dia jarang terlihat." Raja Xin memerhatikan setiap sudut kolam, dan memang si abu ini tidak ada.


Yun Yi mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Raja Xin. Ia menyondongkan tubuhnya lalu kembali bertanya. "Lalu mengapa mereka ada di sini?"


"Pemimpin Klan mereka memintaku membawanya ke sini, supaya tingkat bintang mereka cepat meningkat." Sahut Raja Xin.


Ketika Yun Yi akan membuka mulutnya, berniat bertanya lagi. Raja Xin dengan cepat membawa Yun Yi ke dalam pelukannya. Ia kembali di gendong dengan gaya koala.


"A'Guang. Kau akan membawa ku kemana?" Yun Yi memberobtak, minta di turunkan. Namun, karena tenaganya tidak sebanding dengan Raja Xin, jadi akhirnya sia-sia saja.


"Ke dapur. Aku ingin kau memasak makanan untukku." Pinta Raja Xin.


"Aku belum makan sedari pagi." Lanjutnya.


"Mengapa harus aku yang memasak?" Tanya Yun Yi tidak terima.


"Karena mereka juga memakan masakan mu. Jadi, aku juga ingin merasakan masakanmu." Ujar Raja Xin dengan wajah datar.


Raja Xin teringat laporan dari bawahannya berkata, seluruh keluarga Huang di masakan sebuah makanan yang belum pernah ada. Ia merasa tidak terima. Mengapa mereka yang lebih dulu merasakan masakan gadisnya, dan bukan dia.


"Apakah kamh menanam toples cuka lagi?" Tanya Yun Yi setelah mengerti dengan situasi.


"Tidak. Aku hanya ingin makan madakanmu." Raja Xin menggeleng, membantah dugaan Yun Yi.


Yun Yi memicingkan matanya, "Benarkah?"


Raja Xin hanya mengangguk, matanya masih fokus ke depan, melihat jalan.


'Selain agak narsis, ternyata A'Guang adalah laki-laki pen-cemburu.' Yun Yi membatin.


Setelah sampai di dapur, Raja Xin pun menurunkan Yun Yi. Ketika Yun Yi berjalan masuk, Raja Xin juga iktu masuk.


"Mau apa kamu?" Tanya Yun Yi ketika Raja Xin terus mengikuti nya. Dari mulai mencuci tangan sampai ketika ia membawa bahan-bahan makanan untuk dia olah.


"Membantu mu." Ujar Raja Xin singkat.


Yun Yi menatap Raja Xin, tangan nya ia taruh di pinggang, lalu berkata. "Kalau ingin membantu ya bantu. Jangan malah mengekoriku seperti anak ayam."


Mata Raja mengerjap, lantas bertanya. "Lalu aku harus melakukan apa?"


Yun Yi menyimpan per-bawangan di telenan. "Potong-potong itu." Tunjuknya.


Raja Xin pun mengangguk, ia mulai memotong bawang daun. Yun Yi melihat ke sekeliling. Banyak bahan makanan yang tersedia, dari daging, telur dan... Tunggu di mana sayurnya.


"A'Guang, apakah kamu tidak memilki sayuran?" Tanya Yun Yi, ketika ia tidak melihat satu lembar sayur pun di ruangan ini.


Raja Xin yang tengah memotong daun bawang pun menoleh. "Jika sayuran, kita harus memetiknya dulu di samping dapur." Ujar Raja Xin.


"Di mana tempatnya?"


Raja Xin menyimpan pisaunya, "Ayo aku bantu."


Namun, ketika Raja Xin akan melangkah, Yun Yi langsung berkata.


"Tidak. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu yang itu. Kamu cukup tunjukan saja tempatnya."


Raja Xin mengangguk, lalu berucap." Tepat di sampin dapur ini."


Yun Yi pun pergi mengambil sayuran, sedangkan Raja Xin kembali menotong bawang.


Yun Yi pergi ke samping dapur, ia mendapati satu ladang penuh sayuran. Dari sawi, bayam, tomat, cabai dan masih banyak lagi.


"Bukankah A'Guang itu Raja? Mengapa dia menanam sayuran seperti ini?" Monolog Yun Yi.


"Bukan tuan yang menanamnya, tapi saya." Sebuah suara terdengar di telinga Yun Yi.


Yun Yi berbalik, matanya membulat ketika melihat laki-laki berpakain serba pink yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Salam untuk nyonya." Pria berpakain serba Pink itu membungkuk.


"Siapa kau?" Tanya Yun Yi.


"Perknalkan saya Jú huā. Penjaga dunia ruang ini." Jú huā membungkukkan badannya.


"Bunga krisan?" Gumam Yun Yi.


"Apakah kamu yang merawat semua tanaman ini?" Tanya Yun Yi.


"Tidak hanya tanaman ini nyonya. Saya juga merawat semua tanaman yang ada di dunia ruang ini." Jelas Jú huā.


Mendengar Jú huā yang terus memanggilnya 'Nyonya' membuat Yun Yi merasa bahwa ia sudah sangat tua, jadi ia berkata. "Jú huā, panggil aku nona saja. Jangan nyonya, aku masih belum setua itu."


Jú huā segera mengangguk. "Baik, Xiăo Jiě."


Yun Yi mengangguk puas. "Kalau begitu Jú huā, tolong bantu aku memwtik beberapa sayuran."


"Baik."


Jú huā dan Yun Yi pun mulai emmetik bberapa sayuran. Setelah selesai, Jú huā membantu Yun Yi membawa sayuran ke dapur.


Ketika Yun Yi masuk, Raja Xin segera menyimpan pisaunya. Ia menatap tidak suka ke arah Jú huā. "Mengapa kau bisa bersama gadisku?"


"Salam kepada tuan. Saya hanya membantu Xiăo Jiě memetik beberapa sayuran." Jú huā menjelaskan, takut kalau tuannya marah.


Raja Xin mendorong Jú huā. "Jangan terlalu dekat." Ujar nya.


Jú huā hanya mengangguk, mengerti kalau tuannya sedang cemburu.


Raja Xin segera melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda, sama halnya dengan Yun Yi, ia mulai membuat bahan-bahan. Jú huā pun tidak ingin diam, jadi ia juga ikut membantu.


Keadaan ini seperti, Yun Yi sedang menjadi kepala koki dan Raja Xin dan Jú huā adalah koki baru yang sedang di ajari masak.


...🔸️To Be Continued🔸️...