Path To God

Path To God
Ch 160. Kepergian Cai'Zi


Tiga individu itu melayang di udara. Salah satu dari mereka terus mengeluarkan auranya yang sangat menindas.


Kultivator dari benua lain itu ketakutan merasakan kekuatan yang berasal salah satu dari pendatang baru.


Salah satu dari mereka adalah pria paruh baya dan dua lainnya adalah pemuda tampan dengan wajah arogan.


Pria paruh baya itu merobek ruang ke arah Cai'Zi. Ketika tiba, dia langsung mengambil Cai'Zi dari tangan kultivator benua lain.


Kedua pemuda dengan wajah arogan itu juga muncul di sebelah pria paruh baya itu


Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya karena melihat kondisi Cai'Zi.


"Ada apa Guru?" Tanya salah satu pemuda itu.


Pria paruh baya itu mendesah lalu menjawab, "Cai'Zi membakar esensi darahnya. Akan butuh waktu lama untuk pulih. Sepertinya Cai'Zi akan lama menerima warisan clan kita."


Kedua pria muda itu terkejut mendengarnya. Salah satu dari mereka menyerengai karena ini juga ada kesempatan baginya.


"Lalu, apa kita akan membunuh semua orang yang ada di sini, Guru?" Tanya pemuda yang menyeringai tadi.


Kultivator benua lain itu gemetaran mendengarnya. Hampir semua yang dekat dengan mereka juga takut ketika mendengar itu.


Pria paruh baya itu merenung sejenak lalu memberi perintah, "bunuh mereka semua!"


Kedua pria itu tersenyum mendengarnya. Mereka berdua ingin bergerak tapi pria paruh baya itu tiba-tiba menghentikan mereka.


Keringat sedikit menetes di dahinya karena baru saja mendengar suara. Dan suara itu sangat jelas di ingatnya juga. Walaupun auranya tidak di rasakannya, suara itu sering terdengar di masa lalu.


Itu adalah suara Moon Sovereign yang mengirim transmisi suara kepada pria paruh baya itu.


"Sudah lama aku tidak melihatmu bocah! Sepertinya kekuatanmu sudah melambung tinggi," suara Moon Sovereign terdengar di kepala pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu mencoba mencari Moon Sovereign. Tatapannya tertuju pada Ren Yuu karena merasakan energi Cahaya Bulan pada Ren Yuu.


"Sial! Kenapa salah satu dari Sovereign ada di sini?" Batin pria paruh baya itu.


"Enyah dari dunia ini jika kau dan clanmu masih ingin tetap ada! Aku sedang menonton pertunjukan yang di lakukan oleh muridku. Tapi, kau sungguh mengganggu. Dan kau ingin membunuh semua orang di sini? Coba lakukan kalau kau bisa!" Suara Moon Sovereign terdengar dingin.


Pria paruh baya itu tau bahwa hanya ada kematian yang ada jika menantang seorang Sovereign.


"Bukankah Moon Sovereign di kabarkan telah jatuh? Sepertinya itu hanya rumor. Tampaknya dia bersembunyi di dunia ini. Kemungkin untuk memulihkan diri." Batin pria paruh baya itu.


Walaupun pria paruh baya itu sudah memprediksi itu, dia tidak akan berani melawan Moon Sovereign walaupun terluka. Hanya 30% kekuatan Moon Sovereign sudah sangat sulit baginya untuk menang.


Tapi, jika pria paruh baya itu tau bahwa Moon Sovereign hanya tersisa jiwa, dia pasti akan mengambil kesempatan juga untuk menangkap Moon Sovereign.


Tapi sangat di sayangkan. Moon Sovereign adalah rubah tua yang sudah lama hidup. Moon Sovereign sudah merasakan tingkat kekuatannya. Jadi, ia hanya bisa mengancam mereka.


Jika mereka membunuh semua yang ada di sini, itu akan membuat pekerjaan tambahan baginya.


Pria paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam karena sudah mengambil keputusan.


"Ayo kita hentikan di sini. Kita harus kembali!" Perintah pria paruh baya itu. Kedua pemuda itu bingung karena Guru mereka hanya membiarkan orang-orang di sini hidup setelah apa yang terjadi pada Cai'Zi.


Salah satu dari mereka ingin berbicara tapi langsung di sela oleh pria paruh baya itu. "Ini perintah!"


Pria muda itu membeku mendengarnya. Tekanan mereka menghilang dari semua orang.


Ren Yuu langsung melesat ke arah tiga individu yang mencoba untuk membawa Cai'Zi.


"Kembalikan adikku!" Teriak Ren Yuu sambil terus mengejar ke arah mereka.


"Ho? Menarik. Aku ingin tau apa yang menarik salah satu Sovereign untuk menjadikan anak ini muridnya," batin pria paruh baya itu.


Tapi, ketika Ren Yuu menggunakan Domain Darkness miliknya, pria itu tercengang seketika. Kedua muridnya hanya menatap Ren Yuu dengan jijik serta berniat untuk membunuhnya.


"Hentikan," ucap pria paruh baya itu karena akan ada masalah besar jika mereka menyentuh Ren Yuu.


Mereka berdua semakin bingung dengan sikap Guru mereka yang terlihat sangat lunak saat ini.


Pria paruh baya itu merobek ruang lalu perlahan masuk sambil berbisik pelan, "ayo kita pergi dari sini. Ada bahaya yang menanti jika kita menyentuh orang-orang di sini. Bahkan aku mungkin akan mati jika orang itu bergerak."


Kedua pria muda itu tercengang mendengarnya. Lalu mereka juga buru-buru mengikuti Guru mereka karena Guru mereka tidak akan suka bercanda.


Ren Yuu terus bergerak ke arah mereka tapi kecepatannya sangat lambat jika di bandingkan dengan mereka. Mereka lenyap begitu saja ketika celah spasial tertutup.


Ren Yuu berhenti di jalurnya karena merasa sangat marah bahwa adiknya di bawa pergi. Tapi, ia menenangkan dirinya karena mengingat perkataan Gurunya.


"Apakah itu orang-orang yang di katakan Guru? Jika ya berarti Zi kecil baik-baik saja untuk saat ini. Yui juga selalu berada di tubuh Zi kecil karena aku sudah mengatakan untuk tidak keluar jika ada orang lain di sekitarnya." Batin Ren Yuu.


Ren Yuu mengepalkan tangannya sambil berbisik pelan, "suatu hari kakak akan mengunjungimu ke sana!"


Dimensi clan Mu sunyi untuk sementara waktu karena masih merasa ngeri dengan insiden yang baru saja terjadi.


Di dalam celah spasial


Saat ini ketiga individu yang membawa Cai'Zi sedang bergerak menggunakan alat Divine melewati celah spasial untuk kembali.


"Kenapa kita tidak membunuh semua orang yang berada di sana, Guru? Dan apa maksud Guru tentang bahaya tadi?" Tanya salah satu pria muda.


Pria paruh baya itu terdiam sejenak lalu bertanya balik, "apa kalian ingat tentang kejatuhan Moon Sovereign saat pertarungannya dengan Demon Sovereign?"


Mereka berdua bingung sambil memandang satu sama lain.


Salah satu dari mereka menjawab, "ya. Tapi, bukankah mereka berdua telah jatuh yang membuat banyak penguasa mencoba mengklaim daerah mereka?"


Pria paruh baya itu mengangguk lalu melanjutkan, "kalian belum ada saat pertempuran itu terjadi. Bahkan Guru masih muda saat itu. Di kabarkan bahwa mereka berdua telah jatuh. Tapi, beberapa ribu tahun lalu ada kabar tentang Demon Sovereign yang selamat dan sedang memulihkan diri."


"Dan semua orang percaya itu. Mereka menganggap itu sebagai kemenangan Demon Sovereign. Tapi, mereka semua salah."


Mereka berdua bingung mendengar itu tapi tetap mendengarkan.


"Moon Sovereign juga selamat dari pertempuran itu. Dan, saat ini dia sedang berada di dunia itu. Jika kita mencampuri urusannya, sudah di pastikan kita serta clan kita akan mengalami nasib buruk!" Lanjut pria paruh baya itu dengan nada muram.


Mereka berdua tercengang. Mereka berdua berkeringat di punggung karena merasa baru saja lolos dari kematian.


"Lalu, apa yang di lakukan oleh salah satu Sovereign di sana?" Tanya salah satu pemuda itu.


"Dia memiliki murid. Dan muridnya juga sangat berbahaya walaupun saat ini masih lemah. Hanya jika Cai'Zi menerima warisan baru bisa mengimbangi bakat anak itu." Jawab pria paruh baya itu.


"Apakah mungkin seorang dari Alam Mortal memiliki bakat seperti itu?" Tanya pemuda satunya lagi dengan nada tidak percaya.


Pria paruh baya itu melihat kedua muridnya lalu menjawab, "tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan jika dia dari Alam Mortal, dia akan mencapai kekuatan yang hebat suatu hari nanti. Apa lagi jika seorang Sovereign melatih anak itu."


Mereka berdua bingung mendengarnya. Salah satu dari mereka bertanya lagi, "walaupun begitu, tidak mungkin baginya menyaingi bakat Cai'Zi jika berhasil menerima warisan."


Pria paruh baya itu mendengus karena muridnya terlalu meremehkan murid Moon Sovereign.


Pria paruh baya itu langsung menjawab dengan nada agak tinggi. "Kalian terlalu meremehkan murid Moon Sovereign. Bahkan tanpa bantuannya, anak itu akan menjadi Kaisar Kegelapan selanjutnya!"