
Baru saja pak Wijaya akan menjelaskan semuanya pada Wildan karena Alvaro juga sudah ada di sana kini semuanya kembali terhenti saat Anton tiba tiba saja membuka pintu dan mendorong dengan kasar Adrian hingga tersungkur di depan wildan yang kini sedang duduk di hadapan pak Wijaya.
" Adrian ? Anton ada apa ini ?" tanya Wildan tapi bukan jawaban dari Anton yang Wildan dengar tapi suara ayahnya yang Wildan dengar.
" biar ayah yang menjelaskan semuanya " ucap pak Wijaya sambil membuka berkas yang sudah Alvaro berikan padanya.
" kamu ingat tender kita yang gagal beberapa hari lalu " ucap pak Wijaya mengingatkan Wildan.
" ya, Wildan ingat dan menurut Alvaro jika ada yang sedang bermain dengan perusahaan kita di belakang Wildan " ucap Wildan tapi tak lama Wildan baru menyadari tentang satu hal yang pernah Alvaro ucapkan waktu itu.
" tunggu apa memang dia ?" tanya Wildan dengan raut wajah yang sulit di baca oleh siapapun.
" ya, dan aku mendengar sendiri tadi saat dia menelepon pak Damian dan melaporkan apa yang kita lakukan pagi ini" jawab Anton yang berhasil membuat Wildan benar benar di kuasai amarahnya.
Wildan pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk menendang Adrian yang ada di hadapan nya tapi di hentikan oleh Alvaro.
" jangan pak karena kita masih membutuhkan dia untuk bisa memancing pak Damian agar keluar dan mengakui semuanya " ucap Alvaro yang memang selalu serius jika sudah menyangkut pekerjaan.
" maksud kamu apa ?" Tanya Wildan yang tak mengerti maksud Alvaro.
" kita juga akan menggunakan Adrian untuk membalas apa yang pak Damian lakukan pada perusahaan kita " ucap Alvaro yang sudah membicarakan semua itu dengan Yuna bahkan Yuna sendiri yang memberikan ide untuk bisa memberikan pelajaran pada pak Damian.
" apa pak Damian tidak akan curiga ? tanya Wildan yang yakin tidak akan semudah itu menipu pak Damian.
" mungkin saja ? Bahkan jika perlu kita akan menunjukan foto ini pada pak Damian " ucap Anton saat teringat foto yang iya ambil di restoran sebelum dirinya dan Rekha di sekap oleh anak buah pak Damian.
" foto apa ?" tanya Wildan dan pak Wijaya sambil mengambil handphone yang Anton letakkan di atas meja.
" tunggu bukan kah dia wanita selingkuhan papi mu Al ?" tanya Wildan sambil menyerahkan handphone Anton pada Alvaro.
Mendengar kata selingkuhan papanya membuat Alvaro mengambil handphone yang di sodorkan Wildan padanya.
Degg
Jujur Alvaro merasa kasihan pada papanya yang sudah di tipu oleh wanita penipu seperti Camelia yang sudah bermain di belakang papanya yang saat ini masih berada di balik jeruji besi.
" ya dia adalah Camelia wanita selingkuhan papa yang katanya wanita baik yang tidak memandang papa dari hartanya " ucap Alvaro.
" apa mungkin karena kita mengusirnya keluar dari rumah mu hingga dia menggunakan pak Damian untuk membalas apa yang sudah aku lakukan ?" tanya Wildan yang mulai menangkap siapa sebenarnya akar dari masalah yang sedang mereka hadapi.
" berapa kamu di bayar pak Damian untuk menjadi pengkhianat di perusahaan yang sudah menghidupi mu dan keluarga mu selama ini ?" tanya Wildan yang kembali fokus pada Adrian.
" apa gaji yang aku berikan masih kurang ? Atau hanya karena ketamakan kamu jadi seorang pengkhianat " tanya Wildan.
" maaf, saya tau saya salah tapi saat ini saya membutuhkan banyak uang untuk mengobati orang tua saya yang sedang sakit keras " ucap Adrian mencari alasan agar bisa di maafkan oleh Wildan dan pak Wijaya jika dirinya menggunakan orang tuanya.
" saya tidak tau apa kamu berkata jujur atau tidak tapi saya harap jika kamu berbohong tentang kesehatan orang tua mu semoga saja orang tuamu kelak tidak benar benar sakit ?" ucap Wildan yang merasa jika Adrian hanya berbohong agar lolos dari semua masalah yang sudah iya buat.
" tapi Wildan tidak setuju jika kita menggunakan Adrian untuk memancing pak Damian keluar dan mengakui kesalahannya " ucap Wildan.
" Anton kamu urus Adrian dan jangan biarkan dia lolos dari pantauan kita " ucap Wildan yang sudah memikirkan apa yang akan iya lakukan untuk membalas perbuatan pak Damian pada perusahaan nya.
" apa yang akan kamu lakukan ?" tanya pak Wijaya yang masih belum bisa membaca jalan pikiran Wildan.
" ayah tenang saja Wildan tau apa yang harus Wildan lakukan " ucap Wildan yang kini sudah kembali fokus pada pekerjaan nya.
" baiklah ayah percayakan semuanya padamu dan ayah harap kamu selalu berhati hati jika berurusan dengan Damian " ucap pak Wijaya mengingatkan.
" iya yah " ucap Wildan yang langsung berjalan menuju kursi kebesaran nya untuk memulai memberikan pelajaran pada pak Damian.
Lain halnya dengan Nanda yang baru saja sampai di kantor nya setelah tadi harus menunggu Yuna bersiap tapi baru saja Nanda akan memasuki lift menuju ruang kerjanya seseorang memanggilnya.
" Nanda tunggu " ucap seseorang dari kejauhan yang tentu saja berhasil membuat Yuna dan Nanda berbalik untuk melihat siapa yang memanggil Nanda.
" bukan kah dia Andini " ucap Nanda yang masih terdengar jelas di telinga Yuna.
" Andini ? Andini siapa ?" tanya Yuna sambil melihat ke arah Nanda.
" mantan kekasih kak Wildan yang saat ini kembali datang dan ingin meminta pertanggungjawaban kak Wildan tentang anak yang ada dalam kandungan nya " ucap Nanda yang memilih tetap masuk saat pintu lift sudah terbuka.
" tunggu " ucap Andini yang dengan berani menyelipkan kakinya untuk menahan pintu lift yang hampir tertutup.
Nanda hanya bisa menarik nafasnya saat Andini sudah masuk ke dalam lift dan berdiri di antara dirinya dan juga Yuna yang sedang menuju ruangan Nanda.
" kamu Nanda kan ? Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu " ucap Andini sambil melihat ke arah Nanda yang saat ini sedang membaca laporan neraca saham di handphone nya.
" saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, apalagi kita tidak saling mengenal satu sama lain" ucap Nanda yang terkesan dingin di telinga semua orang yang mendengar nya.
" tapi bagiku ada yang harus kita bicarakan dan ini ada hubungannya dengan Wildan " ucap Andini yang kini sudah berani memegang lengan Nanda.
" maaf tapi saya tidak memiliki banyak waktu untuk hal yang tidak jelas " ucap Nanda sambil menghempaskan tangan Andini yang masih memegang lengannya.
" setidaknya beri waktu aku lima menit setelah itu aku tidak akan mengganggu kamu " ucap Andini yang terlihat putus asa.
Huhh
" baiklah hanya lima menit " ucap Nanda akhirnya menyerah, Nanda Yuna dan Andini pun kini sudah sampai di ruangan Nanda.
" katakan karena waktumu untuk menjelaskan semuanya tidak lah banyak " ucap Nanda yang kini sudah duduk di depan Andini sedangkan Yuna langsung duduk di meja kerjanya yang sengaja di letakan satu ruangan dengan Nanda agar Yuna bisa terus menjaga Nanda dari hal hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.
✍️✍️✍️kira kira apa yang akan Andini bicarakan dengan Nanda ?🤔🤔 apa akan semakin menghancurkan kepercayaan Nanda pada Wildan ataukah ada alasan lain hingga Andini memaksa berbicara dengan Nanda ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
love you moreee 😘😘😘