Merengkuh Bahagia ( Istri Yang Tersisih )

Merengkuh Bahagia ( Istri Yang Tersisih )
Ketegasan Wildan


Anton dan Rekha yang tak tega melihat Nanda yang kembali terpicu rasa trauma nya memilih untuk ikut pulang bersama Nanda yang sudah berjalan lebih dulu


" Nanda tunggu " ucap Anton dan Rekha yang langsung bangkit tak tega melihat Nanda meski Anton tau jika apa yang di katakan Wildan memang lah benar.


" aku pulang dan aku akan mencoba memberikan pengertian pada Nanda, dan tugas kamu adalah menyelesaikan semuanya dan jangan membuat Nanda semakin berpikir jika kamu dan Alvaro sama saja " ucap Anton.


" Anton benar, kalian selesai kan semua nya "


" tapi ingat bunda hanya ingin jika Nanda lah yang akan menjadi menantu bunda untuk selamanya dan cucu Bunda hanya anak dari kamu dan Nanda bukan anak dari wanita yang bahkan tidak tau siapa yang menghamilinya saat ini " ucap Bu Restu yang langsung bangkit di ikuti oleh pak Wijaya.


Jujur ini adalah kali pertama semua orang seolah menyalahkan dan memojokkannya karena ketidaktegasan nya pada Andini wanita yang tak memiliki rasa tak tau malu.


BRAKK


Wildan yang sudah benar benar kehilangan kesabaran menghadapi Andini pun akhirnya meluapkan amarahnya dengan menendang kursi yang baru saja iya duduki tepat di hadapan Andini meski tidak sampai mengenai Andini.


" APA KAMU SUDAH GILA ANDINI " ucap Wildan sambil mencengkram dagu


" KAMU SUDAH MERUSAK KEBAHAGIAN YANG BARU SAJA AKAN KU RAIH ?? " Bentak Wildan yang masih mencengkram dagu Andini, melihat Andini meringis kesakitan Wildan pun tersadar jika yang iya hadapi seorang wanita.


" arrgghhh " Wildan mencengkram rambutnya sendiri karena ketidaktegasannya malam saat pertama kali Andini berani masuk ke dalam kamarnya malah membuat Andini semakin lancang dan kini berimbas pada kepercayaan Nanda padanya.


" apa aku pernah menyentuh mu selama ini ? Bahkan selama kita pacaran tidak sekalipun aku menyentuhmu lalu apa maksud kamu menuduhku menghamili mu bahkan kamu dengan tak tau malu meminta ku mengakui anak yang ada dalam kandungan mu yang jelas jelas bukan darah dagingku " ucap Wildan yang tak ingin melihat Andini yang kini masih bersimpuh di hadapan nya.


" karena hanya kamu yang bisa menolongku " ucap Andini yang akhirnya buka suara.


" aku tau aku salah karena meminta tanggung jawab pada laki laki yang bahkan begitu sangat menghormati wanita " ucap Andini.


" tapi anak ini tidak bersalah dan aku tak ingin menambah dosa dengan membunuhnya " ucap Andini.


" jika seperti itu kenapa kamu tidak meminta pertanggungjawaban laki laki yang sudah menitipkan benih nya dalam rahim mu ?"tanya Wildan yang masih membelakangi Andini.


" ayahnya tidak mau bertanggung jawab " ucap Andini yang kini sudah terisak karena tak kuasa menahan semua penyesalan yang pernah iya lakukan selama ini.


" dan kamu pikir aku akan mau menjadi ayah dari anak yang aku sendiri tidak tau siapa ayah yang ada dalam kandungan kamu ?" tanya Wildan yang kini sudah berbalik menghadap pada Andini tapi dengan tatapan yang sangat sulit di artikan oleh Andini.


" aku tidak lah sebaik yang kamu kira "


" sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah kembali apalagi mengusik hidupku ataupun hidup Nanda mulai saat ini " ucap Wildan yang kini sudah menarik paksa tangan Andini agar bangkit dari bersimpuh nya.


" tapi Wil, aku mohon hanya kamu yang bisa aku harapkan " ucap Andini sambil menahan tangan Wildan yang sudah menariknya keluar dari rumah Wildan.


" dan aku harus mengorbankan kebahagiaan aku sendiri demi kamu yang sudah jelas jelas mengkhianati ku saat itu ?" ucap Wildan sambil mencebikkan bibirnya saat mengingat apa yang pernah Andini lakukan padanya saat mereka masih pacaran dulu.


" pergilah, sebelum aku menghubungi kepolisian dan mengusir mu secara paksa " ucap Wildan yang kini sudah menghempaskan tangan Andini yang mana kini keduanya sudah berada di teras rumah Wildan.


" maaf tapi aku juga berhak memikirkan kebahagiaan ku sendiri dan aku juga harus menjaga perasaan wanita yang aku cintai " ucap Wildan yang kini sudah benar benar menutup pintu rumahnya untuk Andini.


" kamu tega padaku Wil, bagaimana aku menghadapi papa jika tau aku hamil " ucap Andini yang masih menghadap pada pintu rumah Wildan.


Tak punya pilihan lain Andini pun memilih pergi dari rumah Wildan sambil memikirkan apa yang harus dirinya katakan nanti pada ibunya yang sudah memberi ide untuk melakukan itu semua pada Wildan.


Lain halnya dengan Nanda yang tak banyak bicara di dalam mobil Anton seolah tak ingin berbagi apapun dengan Anton ataupun Rekha tentang apa yang iya rasakan atas apa yang terjadi di antara Wildan dan juga Andini.


" Nanda mau bersiap dulu ya " ucap Nanda tanpa melihat ke arah Anton atau pun Rekha.


" nan, tunggu " ucap Rekha sambil menahan lengan Nanda yang sudah membuka pintu kamarnya.


" Nanda baik baik saja kak, Nanda tak memiliki hak untuk menuntut kak Wildan untuk tetap bersama Nanda karena memang di antara kami masih belum ada hubungan apapun " ucap Nanda tanpa melihat ke arah Rekha.


" ulangi sekali lagi tapi katakan semua itu sambil hadapan dan menatap mata Kaka " ucap Anton yang merasa jika Nanda saat ini sedang berbohong.


" Untuk apa ? Apa dengan menatap Kaka semuanya bisa berubah ?" tanya Nanda yang masih menghadap ke arah pintu kamarnya.


" tidak bukan, karena yang bisa menyelesaikan itu semua hanya kak Wildan dan hanya kak Wildan yang berhak menjelaskan semuanya bukan orang lain " ucap nanda.


Setelah mengatakan itu Rekha pun melepaskan lengan Nanda karena yang nanda butuhkan hanya menenangkan diri sambil menunggu Wildan menjelaskan semuanya padanya baru setelah itu nanda bisa memutuskan apakah apa yang di katakan Wildan memanglah kejujuran atau hanya kebohongan.


" baiklah kakak pamit karena kakak harus mengantarkan Rekha ke apartemen nya " ucap Anton yang akhirnya membiarkan Nanda dengan apa yang sudah Nanda putuskan.


" iya " jawab Nanda singkat tanpa berbalik ke arah Anton maupun Rekha karena memang yang Nanda butuhkan hanya sendiri saat ini.


Nanda pun hanya bisa menyandarkan tubuhnya di belakang pintu kamarnya setelah dirinya masuk ke dalam kamarnya sendiri.


" tuhan apa kebahagiaan ku masih jauh dari genggaman ku " ucap Nanda yang sejujurnya kembali merasa rapuh, bohong jika Nanda tak menaruh harapan besar untuk bisa bersama dengan Wildan bahkan Nanda juga menunggu akhir dari masa Iddah nya untuk bisa memulai hidupnya yang baru.


" aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang bersama orang yang aku cintai dan juga mencintaiku "


" aku hanya ingin bisa merengkuh bahagia tanpa harus berdiri di atas tangis orang lain "


" apa memang kebahagiaan ku bukan dengan kak Wildan ?"


✍️✍️✍️ jangan patah semangat gitu dong Nanda, kebahagiaan itu harus di perjuangkan dan di pertahankan karena dunia itu sangat keras dimana kita juga harus ikut kuat agar tidak di injak oleh orang yang hanya berpikir egois untuk kebahagiaan nya sendiri...


Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya


Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya


Love you moreee 😘😘😘