
Pagi ini Yasmine sudah siap dengan gamis hitam dan jilbab berwarna cokelat milo. Sepatu yang biasanya ia kenakan pagi-pagi saat berangkat ke sekolah, kini berubah menjadi sandal jepit berwarna putih dengan tali jepit berwarna biru tua. Ia tersenyum mendapati penampilan yang semingguan ini ia kenakan.
Bahkan kemarin mbak Fifi membelikannya pakaian yang Fifi bilang namannya daster. "Baju khas emak-emak yang paling nyaman di pakai, Mbak," begitu ucap Fifi kemarin.
"Sudah siap, Mbak?" pertanyaan Fifi mengagetkan dirinya yang tengah berdiri di depan sebuah cermin gantung yang ada di depan kamarnya.
"Sudah, ayo," jawab Yasmine.
"MaSyaa Allah, cantik sekali," puji Fifi jujur.
Yasmine hanya tersenyum, "ponsel aku di bawa 'kan?" tanyanya.
Mbak Fifi mengangguk, lantas keduanya keluar dari rumah sederhana yang jauh dari pedesaan. Rumah itu adalah rumah orangtua Fifi waktu dulu, namun kini orangtuanya sudah pindah ke desa yang banyak penduduknya, tidak seperti di sana yang kanan kirinya hanyalah sawah dan kebun sayur.
Namun, tempat itu benar-benar asri. Tempat yang nyaman untuk Yasmine menenangkan hati, menenangkan diri. Karena di sana ia terbebas dari pertanyaan san perkataan.
Keduanya kini sudah berjalan di jalanan yang belum beraspal namun bebatuannya tertata rapi, jadi bisa untuk di lalui mobil pickup yang biasanya mengangkut hasil panen petani.
Kendati waktu sudah akan menunjukan pukul enam pagi, namun, di sana masih lumayan gelap. Masih penuh dengan kabut, yang akan menganggu pengguna kendaraan. Tapi, tidak dengan pejalan kaki seperti Yasmine dan Fifi, mereka justru me ni k m a t i karena udara sejuk itu, begitu menenangkan.
Sepanjang jalan yang di lewati keduanya hanya terdapat sawah dan ladang sayur. Semua nampak hijau dan indah. Suara gemericik air yang mengalir dari mata air pun menambah kenyamanan tersendiri di sana. Sungguh, jika boleh Yasmine ingin tetap tinggal di sana. Ia tidak ingin kembali ke kota yang penuh dengan kebisingan.
Hingga akhirnya, setelah melewati jalan bebatuan yang begitu panjang, mereka lantas mendapati jalan aspal. Di mana, sebentar lagi mereka akan sampai di pasar. Di jalan itu sebenarnya sudah terdapat sinyal. Namun, Yasmine tentu tidak mau jika teleponan di sana dan di tinggal Fifi belanja.
Jadi, dia lebih memilih menelpon di pos pasar, dan dia akan menunggu Fifi belanja sembari ngobrol dengan sang ibu.
Hingga akhirnya keduanya sampai, Fifi langung pamit untuk membeli ayam dan beberapa bahan masakan lainnya. Sementara Yasmine, ia langsung pergi ke pos tempat biasa ia teleponan dengan sang ibu.
Begitu duduk dengan nyaman, ia lantas memulai telepon. Ibu menjawab teleponnya dengan antusias, bahkan ibu juga menanyakan dirinya yang akan pulang kapan. Tentu saja, Yasmine heran, karena dua hari lalu saat ia menelpon, ibu tidak bertanya seperti itu. Bahkan hanya ngobrol biasa saja dan seperti biasa, menyuruhnya hati-hati.
"Kamu, pulang ya, ibu kangen," ucap ibu saat panggilan sudah lama berlangsung.
"Yayas masih nyaman di sini, bu."
"Memangnya, kamu di mana sih?" tanya ibu pemasaran.
"Ada deh, tempatnya nyaman banget bu. Adem, di sini nggk perlu pakai AC bu," jawabnya dengan senang.
Di seberang sana, ibu terdengar mendesah kecewa. Namun Yasmine biasa saja. Toh, dia sudah telepon dan memberi kabar bahwa ia baik-baik saja. Hingga saat Mbak Fifi datang dan Yasmine mengakhiri panggilannya.
"Sudah ya bu, Mbak Fifi sudah selesai ni, aku mau balik. Pengin lihat orang-orang panen kol," begitu ucap wanita itu.
"Ya sudah, hati-hati ya Nak, kabari ibu lagi oke, assalamu'alaikum," ucap ibu.
Baru beberapa langkah, Yasmine dan Fifi melangkahkan kaki. Ponsel yang ada di dalam saku berbunyi.
"Ish, ada apa lagi sih sama ibu," gerutu Yasmine sembari mengambil ponsel.
"Masih kangen kali, Mbak," ucap Mbak Fifi.
Yasmine menatap layar ponsel, "eh, bukan ibu. Ck," gerutunya sembari berdecak kesal.
"Siapa Mbak, kalau bukan Ibu?" tanya Mbak Fifi yang kini jadi penasaran.
Yasmine mengembuskan napas kasarnya, "seseorang yang ingin aku hindari," jawabnya sembari membiarkan panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
"Kalau di hindari nggak akan selesai-selesai, Mbak," ucap Mbak Fifi pelan.
Yasmine hanya melirik seseorang yang ada di sebelahnya, namun ia juga membenarkan apa yang dikatakan mbak Fifi kesayangannya.
Akhirnya, setelah ponsel itu kembali menampilkan panggilan dari seseorang itu, ia pun menggulir tombol hijau yang tertera di layar.
"Halo, assalamu'alaikum, Ay," ucap seseorang di sebrang sana yang tak lain adalah Alfin. Namun, Yasmine masih diam mendengarkan, belum berani menjawab.
"Kamu di mana?" tanya Alfin.
"Aku khawatir," ucap seseorang itu lagi.
"Wa'alaikumsallam, kamu sudah baca kertas dari aku?" tanya balik Yasmine.
"Sudah, untuk itu aku menelpon mu. Kamu tidak memenuhi janjimu, aku 'kan mengizinkan kamu menyendiri dengan syarat tidak memisahkan aku dari kamu," jawab Alfin di sana dengan tidak sabar. "Sekarang kamu di mana? Kasih tahu aku," tanya lelaki itu lagi.
"Tapi kamu juga bilang bukan, kalau akan memberikan apa yang aku minta, asal itu menjadi bahagiaku?" tekan Yasmine lagi.
"Ya, tapi bukan ini juga Ay," ucap Alfin di sebrang sana yang terdengar frustasi.
"Tapi, ini bahagiaku," ucap Yasmine dengan lirih.
"Benarkah?" tanya Alfin memastikan.
"Kenapa kamu sebaik, ini Yas?!" tanya Alfin dengan nada keras, "kamu memisahkan aku dari cinta pertamaku, memisahkan aku dari buah hati yang selama ini aku nantikan. Yas, aku hanya manusia biasa, aku bukan siapa-siapa yang bisa adil seadil-adilnya, tolong kamu dengar apa yang aku bilang ini, aku ... tidak akan melepaskan kamu, sampai kapan pun. Terkecuali, maut yang memisahkan. Karena, aku yakin. Cinta aku ke kamu, dan cinta kamu ke aku sama besarnya. Pun juga dengan rasa cinta kamu ke Alifa, dan Alifa ke kamu. Jadi, sejauh apapun kamu pergi, aku dan Alifa akan menyusulnya. Tunggu saja, aku tidak akan membiarkan hati kita bertiga sama-sama hilang separuh. Karena, separuh itu milik kita."
Panggilan berakhir. Alfin yang mengakhirinya.
Yasmine masih terpaku ditempatnya, bahkan ponselnya masih ada di tangan dan menempel di telinga. Air matanya kembali jatuh, ia mendengar semua penekanan Alfin yang memang benar adanya. Cintanya pada Alfin besar, dan sayangnya pada Alifa pun sama besar. Jadi, bagaimana bisa dia dengan semudah itu memutuskan pergi dan menjauh dari mereka, saat hatinya tertinggal di sana.