Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 146 # Di Sambut Baik


Setelah menjemput sang putra, siang ini dia dan sang istri mengajak anak mereka ke makam. Tentu saja bocah itu tak mengerti, karena baru kali ini dia pergi ke sebuah pemakaman.


Yang pertama di kunjungi adalah makam ayah dari Arya, lalu setelah berdoa kini tiga manusia itu tiba di makam yang bertuliskan nama Raisya. Mendiang istri dari Arya. Serta ada makam kecil yang adalah anak dari Arya dan mendiang istrinya.


Seusai berdoa, Arya mengenalkan istri serta anak sambungnya. Anak kecil itu tentu banyak bertanya pasal siapa yang mereka doakan dan mereka datangi.


"Ini makam ibu Raisya, Nak. Istri ayah yang sudah meninggal, dan ini makam anak dari Ayah," begitu jelas Yasmine pelan saat putranya begitu penasaran.


"Jadi, anak Ayah nggak aku aja?" tanya Taqa lagi.


Arya tersenyum, lantas dia mengusap rambut anak tampan yang masih mengenakan seragam sekolah itu. "Lihat, Sya. Dia bawel 'kan seperti kamu, ini Yasmine namanya, dia secantik dirimu, sebawel dirimu dan sepintar dirimu," ucapnya pada makam mendiang sang istri.


Yasmine yang jongkok di samping sang putra hanya bisa tersenyum. Lantas dia mengatakan sesuatu. "Mbak, aku pinjam selama aku dan dia dia masih bernafas ya, nanti, jika kita sudah menyusul dirimu, aku kembalikan lagi dia padamu," katanya sembari melihat ke arah sang suami.


"Sudah, jangan mengatakan yang entah akan seperti apa. Sudah 'kan doanya, sekarang kita ke rumah mama ya," ajak Arya selanjutnya.


"Mama siapa, Yah?" tanya Taqa. Entah kenapa saat mendengar kata mama yang diingat adalah foto wanita cantik yang harus ia panggil dengan sebutan mama.


"Mamanya ayah, mau 'kan?" tanya Arya. Kini mereka bertiga sudah berdiri. Lalu, tanpa sebuah jawaban tiga manusia itu pergi dari sana menuju ke rumah mertua Arya yang memang tidak jauh dari sana.


Tentu saja kedatangan Arya dan istri barunya disambut baik oleh mama Riyana dan sang suami. Karena memang sudah dari lama mereka menyuruh menantunya itu untuk menikah lagi, tapi ternyata jodohnya baru dipertemukan tahun ini, setelah begitu lama sang menantu berstatus duda.


"Kamu cantik sekali, Nak," begitu ucap mama pada Yasmine.


"Terimakasih, Tante," balas Yasmine pada wanita yang memang dari usianya sudah terlihat tua.


"Panggil mama," kata mama Riyana lagi.


Yasmine setuju, lantas Taqa pun diperkenalkan dengan mereka. Bocah tampan itu menjadi pusat perhatian karena asyik bertanya pada dua paruh baya itu.


Sedang orangtuanya malah asyik duduk berdua di ruang tamu dengan menceritakan tentang gambar-gambar Arya dan almarhum Raisya.


"Mirip 'kan sama kamu," begitu ujar Arya pada istrinya yang tengah memandangi foto gadis cantik yang duduk dipinggir sebuah danau.


Yasmine tersenyum, ia hanya mengangguk. Lantas di baliknya lembaran album dan melihat kembali gambar perempuan itu dengan sang suami. Ia menoleh, "ini poto pernikahan kalian?" tanyanya.


"Iya, aku tampan banget ya," jawab Arya.


Yasmine kembali mengangguk, "tampan dan cantik. Pasangan yang sangat cocok," katanya.


Arya tersenyum, lantas tangannya segera merangkul sang istri dan membawanya ke dalam dekapan. Kebetulan Taqa dan kedua orang tua sedang berada di ruang tengah. "I love you," ucapnya seraya mencium puncak kepala sang Yasmine.


"Mas, kamu memang se-manis ini, ya?" tanya Yasmine seraya menutup album dan menoleh ke arah sang suami.


"Kamu pacaran?" tanya Yasmine lagi. "Maksudnya dulu," ralat wanita itu setelahnya.


Arya mengangguk, "iya. Jujur saja, aku bukan lelaki yang mondok Sayang, aku pacaran saat SMA. Tapi hanya sekedarnya, apalagi jaman dulu masih jarang ponsel seperti sekarang, jamanku masih surat."


Yasmine menganggukkan kepalanya percaya. Lantas sang anak keluar dengan dua paruh baya pemilik rumah.


...----------------...


Hari-hari yang dilalui Yasmine dan sang suami semakin indah. Apalagi sekarang wanita itu sudah kembali mengajar, dan akan di antar sang suami, serta di jemput saat pulang. Rasanya, ia sampai lupa akan kabar sang sahabat yang ada di sana, entah bagaimana ia tak terlalu mengerti, karena setiap ia menghubungi ibu dan sang kakak, semuanya menjawab semakin baik.


Jadi, wanita itu semakin sibuk dengan keluarga barunya yang membahagiakan. Bagaimana tidak, jika perlakuan Arya begitu manis dan baik. Selalu saja mengundang tawa baginya dan sang anak.


Arya pintar sekali membagi waktu untuknya dan sang anak, bahkan Taqa sampai selalu memuji ayah barunya itu di sekolah.


Begitu juga dengan mengajar ngaji, akhir-akhir ini setiap pulang ngajar ngaji ketiganya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah ibu Sufi. Sebentar, agar tak kesepian setiap saat. Seenggaknya ada saat untuk bersama anak dan cucunya walaupun hanya beberapa menit saja.


Seperti saat ini, Yasmine sudah duduk di teras dengan ibu mertuanya. Sedangkan Arya dibelakang masih berjalan dengan menggendong Taqa di punggungnya.


"Sudah gede juga, Yah. Ngapain sih mau-maunya gendong Taqa," ucap Yasmine pada sang suami.


"Mumpung masih kuat Bu, kalau sudah renta nanti nggak kuat lagi." begitu jawab Arya sembari menurunkan sang anak dari punggungnya.


"Nanti kalau Taqa sudah besar, dan Ayah sudah tua. Kita gantian ya, Yah," kata si bocah kecil itu.


Ibu Sufi tersenyum lebar melihat interaksi ketiganya yang semakin hari semakin hangat saja. Lantas ditepuk nya paha sang menantu, yang mana lantas membuat Yasmine menoleh ke arahnya. "Sudah telat belum?" tanyanya.


Yasmine tersenyum, "belum, Bu. Mungkin susah, 'kan sudah mau kepala empat," jawabnya.


"Tapi kalau di kasih mau 'kan?" tanya ibu Sufi lagi.


"Mau, Bu. Kalau di kasih tidak akan menolak. 'Kan rezeki," jawab Yasmine.


"Semoga bulan depan ada kabar baik ya," ucap wanita paruh baya itu lagi.


"Aamiin, Ya Allaah, doakan saja ya," katanya seraya memeluk dari samping ibu mertuanya itu.


Ya, kini sudah sebulan saja kehidupan berjalan. Dan, bagaimana kabar dari Alifa ... dia masih terbaring koma, namun syukurnya kedua anaknya kini sudah sehat, bahkan sudah bisa di bawa pulang. Dan dua anaknya kini berada di asuhan mama Widia dan papa Zaenal, serta dua baby sitter. Sedangkan Alfin kini dia sudah mulai menerima, ia juga sudah mulai bekerja kembali. Hanya saja, setiap malam ia akan tidur di dalam ruangan yang penuh alat, menemani sang istri tercinta.


Sungguh susah untuk menerima segalanya, namun selain menerima, manusia bisa apa. Ya, pertama yang bisa di lakukan manusia saat menjalani hidupnya yang tengah di coba adalah dengan kesabaran kedua keikhlasan, ketiga pasrahkan pada Allaah dan yang terkahir tangan lupa, ikhtiar dan berusaha.