
Dengan bibir yang mengatup rapat, mata yang memandang, hatinya mulai berucap membaca setiap kalimat yang ada di dalam kertas. Yang mana langsung membuatnya mengucurkan air mata, hatinya hancur berkeping-keping, ia tak pernah menyangka jika keinginan Yasmine tetaplah sama.
Tak kuasa rasanya ia merampungkan bacaan itu, namun, ia juga merasa penasaran. 'Kenapa, Yas?' hatinya bertanya-tanya. Jangan suruh dia untuk baik-baik saja, karena nyatanya ia tak baik-baik saja. Hatinya penuh dengan rasa bersalah.
'Salahkah, jika aku menyuruh suamiku untuk menepati janjinya? Salahkah, jika aku ingin juga melihat sahabatku bahagia. Karena, hanya Mas Alfin yang bisa dengan sabar menghadapi Yasmine. Ya Allaah, maafkan aku jika memang keputusanku menyakiti sahabatku,' ucapnya saat ia selesai membaca kertas itu dan memeluk erat.
Tidak hanya Alifa, ibu pun menangis saat ia ikut membaca tulisan tangan sang anak. Sekarang ibu Radiah tahu, kenapa waktu itu sang putri pulang dari sekolah dengan mata yang sembab. mungkin itu semua karena seluruh rekannya sudah tahu.
Ibu Radiah lantas menenangkan Alifa, walaupun jujur saja ia juga butuh di tenangkan. Karena ia juga tengah sedih, ia baru mengetahui keputusan sang putri yang menurutnya sangat membuatnya hancur. Entah kapan putrinya itu akan kembali lagi jika sudah seperti ini, ia juga yakin suami dan anak pertamanya tidak tahu akan ini.
"Bu, apa aku sangat menyakiti hati nya?" tanya Alifa di dalam dekapan ibu sahabatnya yang sudah seperti ibu baginya.
"Tidak, Nak. Di dalam surat itu, Yayas juga ingin kamu bahagia, jadi kamu tidak boleh seperti ini. ibu saja tidak menyalakan mu, ini semua sudah harus terjadi, Lif. Perasaan orang tidak bisa di paksa bukan?" Ibu Radiah mengusap punggung Alifa.
Alifa tak menjawab, ia tetap sesenggukan di dalam dekapan ibu Radiah.
"Assalamu'alaikum!" suara seseorang membuat Alifa dan Ibu Radiah mengurai pelukan mereka. "Itu sepertinya Alfin, Lif," ucap Ibu.
"Wa'alaikumsallam," jawab Alifa dengan suara yang sesak.
"Masuk, Nak!" teriak ibu.
Tak terlalu lama setelahnya, Alfin muncul. Alifa yang tengah sedih itu lantas berdiri dan memeluk sang suami. "Mas, Yayas Mas," ucapnya terhenti.
Alfin yang tidak mengerti akan apa yang terjadi hanya bingung, dan reflek memeluk sang istri yang langsung menangis dalam pelukannya.
"Ada apa, Lif? Kenapa dengan Yasmine?" tanya Alfin sembari mengusap punggung Alifa.
Ibu berdiri dari duduknya, ia hanya tersenyum sekilas pada menantunya itu. "Suruh duduk dulu, Nak. Suamimu," ucap ibu.
"Ada apa, bu?" tanya Alfin yang benar-benar penasaran karena istrinya yang menangis dengan terdengar begitu pilu. Seperti tangisan waktu lalu.
"Ini, Mas." Alifa melepaskan dirinya dari sang suami. Ia juga lantas memberikan surat yang baru saja ia baca.
Alfin mengerutkan kening heran, namun ia tetap menerima secarik kertas itu. Lantas, lelaki itupun mulai membaca tulisan tangan yang benar-benar terlihat rapi.
...πππππππππ...
...Assalamu'alaikum, Lif, Al .......
...Terimakasih untuk segala bentuk rasa sayang kalian, aku benar-benar bahagia pernah berada di antara kalian berdua. Kalian tahu ... saat rasa yang menyakiti di pertahankan, semua akan sia-sia, karena akan kembali lagi rasa itu untuk datang....
...Aku nggak mau, kepergian aku untuk menenangkan hati di tangisi apalagi sampai di sesali. Berbahagialah kalian, karena aku akan ikut bahagia jika kalian berdua bahagia....
...Aku hanya ingin satu, selesaikan hubungan aku dengan-mu Al. Kalau kamu mau melihat aku bahagia. Karena untuk menjadi diriku sangat tidak mudah. Hatiku tak sekuat baja. Hatiku lemah, tak bertulang. Makannya sekali sakit, aku tidak akan kuat untuk bertahan....
...Ya ... semua orang tahu kalau aku adalah istri kedua dari sahabatku. Itulah kenapa, aku pergi. Aku lelah, aku ingin sendiri, tidak maksudku ... berdua dengan anakku. Doakan aku baik-baik saja di sini, dan aku akan mendoakan kalian agar baik-baik saja....
...Semoga kita masih bisa bersahabat, walau tak lagi sama. Bisa bertemu kembali saat Allaah memberi kesempatan kita untuk kembali bertemu di waktu yang bahagia....
...Terkhusus untukmu, Alifa Putri Zaenal. I love you, kamu adalah sahabat terbaikku. Terimakasih sudah mau membagi cintamu padaku. Terimakasih untuk rasa yang selalu kamu berikan untukku, aku berharap di saat nanti aku kembali, ada kabar baik yang aku dengar darimu....
...Berbahagialah kalian, karena aku pun menuju bahagia....
...Wassalamuaikum....
...By Yasmine...
...πππππππππ...
Ditutupnya kertas itu, bibirnya tersenyum miring. Hatinya sakit. 'Jadi, ini tetap menjadi keputusannya. Tidak ada lagi kah, kesempatan kedua untukku? Jadi, dia akan tetap bahagia sendiri, tanpa aku,' ucap Alfin yang kini sudah meneteskan air mata.
Lelaki itu bahkan lantas membuang napas kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ah, seandainya saja ia tengah sendirian mungkin ia akan berteriak sekencang mungkin.
Namun, yang ia lakukan adalah lantas duduk di sebelah sang ibu mertua.
"Maksudnya, ini gimana bu? Di mana Yayas sekarang?" tanya Alfin penuh rasa penasaran. "Kenapa ibu tidak bilang padaku?" sambungnya lagi tak sabar.
"Sabar, Mas," ucap Alifa yang kini sudah duduk di sofa di sebelah ibu Radiah.
Ibu Radiah lantas menceritakan segalanya, segala yang ia tahu. Bahwasanya ibu juga baru tahu tentang surat itu.
"Dia hanya memberi kabar ibu dua hari sekali, Nak. Itupun katanya ia tengah ikut Fifi ke pasar. Ibu tidak tahu, jika dia pergi dan tetap meminta ini. Namun, ibu sarankan padamu Nak Alfin, lepaskanlah karena Yasmine sudah mengatakan kalau ia sudah tak bisa untuk bertahan," ucap ibu setelah menceritakan pada Alfin, bagaimana perginya Yasmine yang sampai harus meminta izin dengan berlutut dihadapan sang ayah.
"Siapa yang mengantarnya, bu?" tanya Alfin.
"Tidaka ada, dia menggunakan taksi biru dari sini," jawab ibu.
"Apa ibu tidak sedang menyembunyikan keberadaan Yasmine? Bu, aku hanya ingin bertemu agar bisa menyelesaikan semua ini dengan benar. Tidak seperti ini," begitu ucap Alfin lagi. Dalam pikirannya, tidak mungkin sang ibu yang begitu memanjakan anaknya akan membiarkan anaknya yang tengah hamil pergi sendiri hanya dengan sang asisten rumah tangga.
"Untuk apa, ibu bohong Nak. Ibu saja akan memberitahukan hal ini pada Ayah dan Yahya. Ibu juga tidak ingin hal buruk terjadi pada anak ibu," jawab ibu.
"Maafkan, Mas Alfin, Bu. Dia hanya sedang risau," ucap Alifa saat ia mendengar pertanyaan Alfin dan jawaban ibu dengan nada suara yang tidak enak di dengar. Seperti percikan untuk memulai debat.
Alfin lantas diam, lalu ia kembali menatap sang mertua. "Apa boleh, aku meminta nomor yang di gunakan Yayas, Bu?" tanyanya lagi.
Ibu Radiah tentu saja mengangguk dan memberikan nomor baru yang di pakai Yasmine.