Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 148 # Masih Sama


Lelaki itu masih diam, duduk dengan lesu di depan ruangan sang istri. Baru pagi ini, dia bisa membawa tubuhnya untuk beranjak, hingga sampailah dia di sana.


Bahkan, untuk sekedar menengok kedua anaknya saja, lelaki itu sampai tidak sanggup. Rasanya sedih di dalam hatinya begitu terasa. Bagaimana tidak, saat istrinya belum juga siuman, dirinya malah di hadapkan dengan kenyataan yang pahit.


Umi tercinta, wanita yang sudah melahirkannya meninggal dunia. Bahkan, untuk napas terakhirnya saja, dia sebagai anak satu-satunya tidak melihatnya. Bahkan tidak ada pesan, atau kata-kata terakhir dari sang umi tercinta.


Kini, dia masih duduk termenung. Setelah beberapa hari ia coba untuk ikhlas dan mulai kembali hari-harinya sembari menunggu keajaiban untuk sang istri, dia di terpa badai kenyataan yang menyakitkan. Yang mana langsung membuatnya kembali melemah.


Lalu, dengan pelan dan langkah yang tidak bersemangat, dia masuk ke dalam ruangan sang istri. Guna menceritakan apa yang ia rasakan saat ini.


...----------------...


Sementara itu, ditempat lain. Yasmine dan Arya tengah ikut merawat bayi Lisha dan Lisi. Dengan dibantu dua baby sitter, keduanya memandikan serta memakaikan baju untuk bayi-bayi yang kini sudah mulai berat itu.


Dua bayi kembar itu kini tengah berada di rumah abi Sofyan. Selain karena mama Widia dan papa Zaenal yang tengah ada di sana, juga karena untuk menemani pria tua yang baru saja di tinggal pergi belahan jiwanya.


Sedih, pasti. Kehilangan juga, namun Abi Sofyan tetap terlihat tegar. Walaupun senyumnya tak lagi secerah saat-saat kemarin. Pria itu hanya terus saja berdoa, saat larut dalam kesedihan.


Lagipula, Abi jelas tidak ingin sang anak merasa bertambah beban. Apalagi, sekarang ini anak satu-satunya tengah berada di keadaan yang memaksanya untuk tetap sabar.


Kembali ke Yasmine. Kini, wanita itu tersenyum sendu pada dua bayi yang tengah menyusu dengan kuatnya. Rasanya ia jadi sedih dan kasihan pada dua anak-anak cantik yang sampai sekarang belum bertemu dengan mamanya.


"Kenapa?" tanya Arya pada sang istri yang saat ini tengah berdiri memperhatikan dua bayi yang tiduran di atas ranjang, dengan dot yang di pegang oleh dua orang suster.


"Sedih aja, Mas. Kasihan banget aku lihatnya," jawabnya jujur.


Lelaki yang saat ini masih mengenakan sarung dan koko lengan pendek itu mengangguk.


"Mas," panggil Yasmine pada sang suami yang berdiri disebelahnya. "Kenapa?" tanya sang suami.


"Aku mau nemuin Alifa, lagi," katanya.


Arya tersenyum, "iya. Setelah kita temani abi sarapan, kita ke sana," begitu kata sang suami.


"Aku tinggal ya, Sus," ujar Yasmine pada dua wanita yang masih terlihat muda.


"Baik, Non," jawab keduanya bersamaan.


Lantas, Yasmine mengajak sang suami keluar dari sana. Kebetulan dua bayi kembar itu terlihat seperti tengah mengantuk.


Keduanya lantas mengajak abi dan para orang tua untuk sarapan bersama. Di atas tikar yang memang masih terpasang rapi, sisa tahlilan semalam.


"Loh, kok Al nggak kelihatan," begitu ujar ayah Ilyas yang baru bergabung.


"Mas Alfin sudah pergi ke rumah sakit, Yah," jawab Arya.


"Abi makan ya, abi harus jaga kesehatan," ucap Yasmine yang memang duduk di sebelah lelaki paruh baya itu.


Abi Sofyan mengangguk, setelah mengembuskan napas kasar dan ber-istigfar. Terlihat sekali bahwasanya saat ini Abi jelas tak selera untuk makan.


"Kalau Abi nggak makan, nanti Alfin jadi tambah banyak pikiran, ya 'kan?" ujar Yasmine lagi seraya bertanya.


Abi Sofyan menoleh dan tersenyum, "iya. Abi makan, kalau tidak makan nanti tidak bisa lihat cucu yang lucu-lucu," begitu katanya.


"Iya, benar. Ayo makan." Yasmine mengambilkan nasi dan lauk.


"Taqa mana?" tanya Abi sembari menoleh ke arah manapun, karena memang cucunya yang tampan tak terlihat.


"Taqa ikut ke rumah Uwa-nya, Bi," jawab Arya dengan cepat.


Sarapan ramai-ramai dalam keadaan berduka memang tidak enak, bahkan tak hanya satu orang, mereka semua masih saja meneteskan air mata saat mengingat bagaimana kebiasaan almarhum yang selalu ramah pada semua orang.


Yasmine bahkan masih mengingat saat-saat dulu, saat dia menginap di sana. Baik sebelum hamil, maupun saat hamil. Seandainya saja dia tahu kalau ajal akan menjemput wanita baik itu, mungkin kemarin-kemarin ia akan mengajak sang putra untuk menginap di sana. Menemani di hari-hari terakhirnya.


Sayangnya, kapan ajal datang, semua orang tidak ada yang tahu.


...----------------...


Seusai dari rumah Abi, wanita cantik yang matanya masih merah karena tangis itu lantas mengajak suaminya pergi ke rumah sakit. Sesuai dengan apa yang mereka rencanakan tadi. Ya, Yasmine ingin kembali bertemu dengan sahabatnya yang masih saja betah tiduran dengan berbagai alat yang berada di tubuhnya.


"Ibu, kita belikan roti dulu ya, untuk Mas Al," begitu ucap Arya saat mobil yang ia kendarai baru sampai di parkiran rumah sakit.


"Boleh, Yah. Makasih ya," jawab sang istri.


Arya tersenyum dan mengusap kepala sang istri. Lantas ia pun turun terlebih dulu, lantas membukakan pintu mobil untuk sang istri. Ya, lelaki itu memang se-manis itu. Sampai kadang membuat Yasmine tak habis pikir, bisa mendapatkan lelaki yang sangat terlihat dan terasa menyayanginya.


Keduanya lantas berjalan ke arah kantin terlebih dulu. Setelah mendapat apa yang keduanya inginkan, lantas keduanya pun kembali melangkahkan kaki menuju ruangan Alifa.


Begitu sampai, Yasmine bisa melihat kalau mantan suaminya itu baru saja keluar dari rungan sang sahabat.


"Assalamu'alaikum, Al," ucapnya.


"Wa'alaikumsallam," jawab Alfin.


"Ini, ada roti. Di makan dulu, kamu nggak boleh sakit," kata Yasmine seraya menyodorkan satu kantong kecil berisi roti dan minuman.


Alfin melihat ke arah Arya, lantas setelah mendapat anggukan dari pria itu, Alfin pun menerima pemberian dari sang mantan. "Terimakasih, Yas," katanya.


"Sama-sama, aku juga mau izin masuk, sama Mas Arya," kaya Yasmine lagi.


"Silakan." Alfin lantas menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan masuk untuk mantan istri dan suami dari mantannya tersebut.


Setelah masuknya dua manusia itu, Alfin lantas kembali duduk di kursi yang di sediakan.


Sementara itu, Yasmine dan Arya kini sudah berada di dalam. Tangis wanita itu langsung tak dapat di tahan, air matanya langsung saja bercucuran saat mendapati sang sahabat masih di sana, seperti sebulan lebih yang lalu.


"Assalamu'alaikum, Sahabatku," ucap Yasmine dengan suara pelan, bahkan hampir tak terdengar.


"Maaf, aku baru ke sini lagi. Beneran Lif, aku nggak tahu kalau kamu masih kayak gini, lagian kamu kenapa sih, masih betah aja tiduran. Memangnya kamu nggak kangen apa, ngaji, ngobrol sama aku," kata Yasmine lagi dengan suara yang bergetar, antara kesal di dalam tangis.


"Kamu tahu nggak, dua anak kamu lucu-lucu banget loh, kamu nggak mau 'kan, kalau anak kamu aku bawa ke rumah aku, terus nggak aku balikin, makanya bangun!" kesal wanita itu.


Arya mengusap punggung wanitanya itu, "jangan di marahi, Sayang. Masak kayak gitu ngomong sama orang yang sedang koma."


"Tuh, kamu dengar 'kan, ada suara laki-laki. Iya, ini suami aku, Ya Allaah Lif ... kamu haru sadar sekarang juga, kamu harus kenalan sama suami aku. Ayolah, bangun. Urus bayi-bayi kamu," ucap Yasmine lagi.


Wanita itu terus saja menggenggam tangan lemas sang sahabat. "Kamu tahu nggak Lif, Mas Arya ini sangat baik sama aku, kamu pasti ikut bahagia dengan kebahagiaanku ini, makannya aku mohon ... bangunlah, Lif."


"Mari kita hidup bahagia seperti dulu lagi. Kamu masih ingat 'kan, kalau aku juga ingin pamer sama kamu, kalau aku juga akan punya pasangan dan mesra-mesraan di depan kamu, sekarang aku udah punya, dan kita sudah bisa duet mesra," sambung Yasmine konyol.


Kata yang keluar sudah tak beraturan, lantaran rasa sedihnya saat melihat sang sahabat masih saja terdiam tanpa reaksi apapun.


Namun, sang suami yang ada di belakangnya malah memeluk dirinya. Menguatkan dan menenangkan wanitanya.


"Bangun, Lif," ucap Yasmine. "Umi sudah meninggal," sambung wanita yang kini masih di dekap oleh sang suami.


"Aku mohon, bangun lah Lif. Mari kita hidup bersama lagi, jalani hari-hari seperti dulu lagi. Kamu dengan suami dan anakmu, begitu juga denganku. Bangu Lif ... aku mohon," suara Yasmine semakin lirih.