Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 120 # Permintaan Taqa


Hari demi hari dilalui oleh Yasmine seorang diri. Namun, pada kenyataannya, dia mampu dan bisa. Mengurus anak seorang diri. Dia akan tetap menyenangkan bagi Taqa, akan menjadi teman, sahabat, dan juga ibu sekaligus ayah.


Tak terasa, bayi yang Yasmine rasa baru kemarin masih menangis saat minta susu, kini sudah pintar berbicara, menanyakan segalanya. Tak di pungkiri, hidup hanya berdua dengan sang ibu, membuat bocah kecil yang kini berusia tujuh tahun itu kerap sekali menanyakan di mana ayahnya.


Seperti saat ini, Taqa tengah menunggu sang ibu selesai dari ber'doa nya. Mereka berdua baru saja menjalankan shalat magrib. Anak tampan itu duduk dengan sabar, memperhatikan wanita kesayangannya itu.


Sampai di mana Yasmine selesai dan Taqa tersenyum ke arahnya, dan itu semua membuat sang ibu tunggal itu mengernyitkan dahi heran.


"Ada, apa?" tanya Yasmine pada sang putra.


"Ibu," ucap Taqa pelan. "Ada apa, Sayang. Bilang saja." Yasmine mendekat dan menggenggam kedua tangan anaknya.


"Tapi, ibu janji jangan marah ya," kata anak tampan itu.


"Apa selama ini ibu pernah marah?" tanya balik Yasmine.


Taqa mengangguk, "pernah. Saat aku nggak sengaja godain Princessa."


Yasmine tersenyum. "Itu, karena kamu yang salah. Kalau Taqa nggak salah, ibu nggak akan marah 'kan?"


Bocah tampan itu mengangguk kembali. "Bu, aku pengin ke rumah Nenek," kayanya dengan jujur.


Yasmine tersenyum seperti biasanya. Lalu mengangguk.


"Tapi, ibu nggak boleh janji-janji saja. Ibu harus tepati."


"Bu, aku sudah besar loh. Aku sudah tujuh tahun, dan setiap aku pengin ke rumah Nenek, sama ibu hanya bilang, 'tunggu,' itu terus. Aku bosan bu," sambung Taqa yang terlihat sedih. "Maaf kalau permintaan Taqa membuat ibu sedih," kata bocah itu sembari menunduk saat melihat raut wajah sang ibu yang terlihat sedih.


Yasmine melepas genggaman tangannya dari Taqa. Lantas, wanita itupun memeluk erat anak yang selama ini sudah sangat baik padanya.


"Maafin ibu juga ya," ucap Yasmine sembari mendekap erat sang putra. "Nanti, kalau nenek sama kakek ke sini lagi, Taqa boleh ikut ke sana, tapi maaf, ibu tidak bisa ikut. Kamu tahu 'kan pekerjaan ibu," sambung wanita satu anak itu.


"Kalau tidak sama ibu, Taqa tidak jadi ke sana bu," kata sang anak yang membuat Yasmine mengembuskan napas kasar.


Ini memang bukan pertama kalinya Taqa meminta ke rumah neneknya. Mungkin sudah seribu kali, apalagi setiap hari libur, dia selalu merasa bosan karena saat itu, jika tidak ke taman, maka ibunya akan mengajaknya ke mall. Seperti itu terus, sampai anak kecil itu menginginkan untuk pergi ke rumah sang nenek.


Bocah tampan tujuh tahun itu selalu bertanya pada sang ibu. "Bu, apa ibu tidak kasihan sama nenek dan kakek. Mereka 'kan sudah tua, masak nenek sama kakek yang ke sini terus. Kita ke sananya kapan?"


Baru kali ini dia meminta secara langsung, biasanya melalui pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Yang biasanya hanya akan di jawab oleh Yasmine dengan. "Iya, nanti-nanti kita ke sana ya."


"Bu." Taqa melepaskan diri dari dekapan sang ibu.


"Kalau ibu tidak mau ya sudah, aku tidak mau memaksa. Nanti ibu jadi sedih," katanya saat mendengar helaan napas Yasmine.


Yasmine tersenyum, "ya sudah. Minggu depan ya, kamu libur, ibu juga libur. Tapi, kalau di sana ibu ngisi nilai di rapor nggak apa-apa ya, ibu ikut tapi ibu tetap kerja," ucapnya yang langsung membuat netra sang anak berbinar bahagia.


"Seriusan bu?" tanya Taqa tak percaya. Yasmine mengangguk dan sang anak langsung memeluknya kembali dengan erat. Yasmine bahkan mendapat banyak ciuman di pipinya dari sang anak.


Kini, di rumah besar berlantai dua itu tidak ada lagi mbak Fifi. Dia sudah menikah dua tahun lalu, saat Taqa berusia lima tahun. Dan kini, Yasmine juga sudah kembali menjadi guru di salah satu sekolah dasar negeri yang ada di sana.


Untuk masalah bersih-bersih rumah, Yasmine selalu di bantu orang belakang komplek yang berangkat pagi pulang sore, sedangakan untuk masakan, ia selalu pesan pada seseorang yang membuka usaha ketering.


Kehidupannya semakin bahagia di setiap harinya. Ditemani Taqa yang baik, yang benar-benar bisa membuat hari-hari nya bahagia karena anaknya itu tidak nakal. Ya mungkin kadang iseng, tapi itu masih di batas wajar sebagai anak-anak pada umumnya.


Apakah selama ini, ia pernah bertemu dengan Alifa maupun Alfin? Jawabannya adalah tidak. Dia tidak pernah pergi ke manapun, kesehariannya sekarang hanya, pagi ngajar, siang sama anak, sore ngajar ngaji di mushala ditemani Taqa yang memang ngaji juga di sana.


Guru ngaji yang paling anak tampan itu sukai adalah Pak Arya. Ya, karena memang sekarang ngajinya di atur. Anak laki-laki ngaji sama Arya, dan anak perempuan ngaji sama Yasmine dan ustazah Ami. Sedangkan Gina, kini dia sudah pergi jauh, ikut ke tempat suaminya. Dan ustazah Ami, dia masih sibuk mengajar dan belum mendapatkan imam.


Hingga saat di mana, minggu yang di tunggu-tunggu itu hadir. Yasmine memberi tahu ibu dan ayahnya kalau dia akan pergi. Jadi, dia melarang orangtuanya untuk datang.


Sedangkan anak tampan Taqa, ia sudah siap dengan pakaiannya dan tengah memakai sepatu. Setelah selesai ia lantas membantu sang ibu membawa barang bawaan ke dalam bagasi mobil. Tentu saja yang ringan-ringan. Karena kalau yang berat jelas tidak di bolehkan oleh Yasmine.


Setelah semua beres, wanita cantik yang hari ini memakai gamis polos berwarna hijau dengan jilbab senada hanya saja bermotif itupun lantas masuk ke dalam mobil setelah memastikan segalanya aman.


"Sudah siap?" tanya seorang ibu pada sang anak yang kini sudah siap duduk di sebelahnya.


"Siap dong," jawab Taka.


"Ber-do'a dulu ya," ucap Yasmine. Lantas keduanya membaca doa dan perempuan satu anak itupun lantas menjalankan kendaraan roda empatnya.


"Nenek pasti kaget, bu," ucap Taqa dengan senang.


Yasmine tersenyum. "Kaget dan bahagia. Cucunya datang ke rumahnya."


"Iya bener," Taqa benar-benar terlihat antusias. "Oh, iya bu," ucap anak tampan itu.


"Hm, apa Nak?"


"Mmmm, nanti boleh tidak ke rumah nenek umi dan nenek Mama?" tanya bocah itu lagi.


Yasmine terdiam, lalu mengangguk. Dalam hatinya mengatakan, 'mungkin sudah saatnya mereka bertemu.'


"Serius bu, Ya Allaah. Terimakasih," taqa mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. "Nanti ke --" Kalimat anak kecil itu lantas menggantung.


"Ke mana, Nak?" tanya Yasmine penasaran. ia melirik sekilas pada sang putra.


"Enggak, ke mall Jakarta," sambungnya memberi jawaban.


Yasmine tertawa. Ia pikir, sang anak juga akan meminta untuk bertemu dengan ayahnya. Ternyata tidak. Sedikit saja, dia merasa lega, walaupun nantinya bisa saja bertemu bukan, apalagi jika tahu kalau dirinya membawa sang anak pulang.


Selama ini, ia hanya berbagi kabar dengan ibu dan ayah. Sesekali video call dengan mama-papa, umi-abi. Itupun jika saat sang anak yang meminta.