
Wanita paruh baya itu mendengar dengan seksama apa yang tengah di bicarakan oleh sang putri. Tangannya tak berhenti dari mengusap pipi mulus Yasmine. Ia mengerti apa yang tengah di rasakan oleh sang putri bungsu. Anaknya itu jelas merasa kasihan terhadap madu-nya, karena Alifa yang belum bisa mendapat keturunan.
"Yas," ucap Ibu. "Seharusnya, semalam bisa jadi waktu yang pas untuk kamu mengatakan segalanya."
"Iya, tapi mana aku tahu kalau ternyata Alifa akan senang. Aku pikir pasti dia akan kecewa." Yasmine lantas membawa tubuhnya untuk duduk di sebelah sang ibu.
"Ya sudah. Menurut Ibu, ada baiknya nanti kamu bicarakan pada suamimu, lalu kalian kumpul bertiga dan kalian berdua beritahu kabar bahagia ini. Selanjutnya baru beritahu pada orangtua," ucap Ibu.
"Seperti itu, ya bu."
Ibu mengangguk. Lantas dua wanita itu pun membicarakan hal lain. Seperti nanti, saat usia kandungan memasuki empat bulan akan ada empat bulanan dan saat kandungan memasuki usia tujuh bulan, akan ada tujuh bulanan. "Nah, di saat itu kamu baru boleh membeli perlengkapan bayi," ucap Ibu.
"Kalau sekarang kenapa, Bu?" tanya Yasmine penasaran.
"Pamali." jawaban ibu membuat perempuan itu memajukan bibirnya seraya menganggukkan kepalanya.
"Sudah. Sekarang kamu mau makan apa? Biar ibu yang masak, khusus untuk cucu Nenek yang ada di dalam perut," ucap ibu pada sang putri yang mengerucut kan bibirnya.
"Mmm, mau tiduran ditemani ibu. Aku nggak mau makan, nanti mau buah aja."
Ibu tersenyum lebar. "Ayo. Ibu temani anak dan cucu istirahat. Biar semakin sehat." Ibu lantas berdiri dan menarik pelan tangan Yasmine dan menggandeng tangan anaknya itu untuk berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
"Nanti, kalau sudah mulai besar perutnya. Ibu pindahin kamar kamu di kamar tamu," kata ibu sembari menaiki anak tangga.
Yasmine menatap gandengan tangan sang ibu dan tersenyum lebar. Ibunya ini benar-benar baik, lebih baik dari apapun. Tak pernah menuntut dirinya, tak pernah marah dan selalu menasehati dengan pelan dan mudah di mengerti.
Kehidupannya benar-benar di kelilingi orang baik, dari orang tua, saudara, sampai sahabat yang begitu baik. Bahkan sampai rela berbagi suami dengannya. Mengingat ini, Yasmine merasa kurang bersyukur saat dia masih saja mengeluh akan waktu yang terasa kurang antara dirinya dan Alfin. Padahal seminggu banding seminggu adalah waktu yang paling lama untuk Alifa, yang tak pernah di tinggal memadu wanita lain oleh sang suami.
Yang biasanya hanya di tinggal bekerja. Kini, dia harus rela di tinggal menemani seorang wanita yang adalah madu baginya.
Yasmine tersenyum lebar. Dalam hatinya berbisik, 'Terimakasih Ya Allah ... terimakasih Alifa. I Love You.'
...πππ...
Layaknya Yasmine yang ingin curhat dengan sang ibu, begitupun Alifa. Wanita cantik itu juga tengah pergi ke rumah sang mama. Sudah lama rasanya ia tak menemui orang yang melahirkan nya.
Di kamar yang ia tempati dulu, dia dan sang mama ngobrol berdua. Sembari me nik ma ti kue kering buatan Alifa. Kue castengel buatan anak perempuan satu-satunya itu selalu membuat mama Widia suka sekali. Menurut wanita paruh baya berbadan mungil itu, "Rasa kue buatan anak mama itu paling enak. Tidak ada yang mengalahkan," begitu puji mama Widia di setiap saat anaknya membuat kue.
Yang selalu membuat Alifa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang mama. Kalau ia lihat, tingkah mama itu seperti Yasmine. Makanya kadang mereka selalu bilang kalau, "Kayaknya kita ini anak yang tertukar deh," begitu ujar dirinya dan Yasmine setiap saat mereka bersama.
"Bagaimana, Lif? Kabar anak mama yang satu itu, sudah lama sekali Mama tidak teleponan sama Yayas."
"Oh, ya? Kabar apa?" tanya mama dengan mulut berisi kue.
"Alifa masih belum tahu sih, Ma. Ini baru kayaknya. Soalnya tingkah mas Alfin dan Yayas akhir-akhir ini aneh," ucapnya.
"Seperti apa contohnya, Sayang?" Mama menyingkirkan toples dan meminum air yang di sediakan sang putri. Ia lantas duduk dengan tegak menghadap Alifa.
"Seperti, mereka yang tadinya tidak suka mangga muda, sekarang mereka jadi suka. Terus, mas Alfin yang pagi mual tapi dari siang sampai malam dia biasa-biasa saja. Dan semalam, Yayas hampir saja mengatakan kalau dia hamil," begitu ujar Alifa menceritakan yang ia tahu.
"Apa kamu bahagia? Jika Yasmine hamil?" tanya mama Widia.
"Aku bahagia, Ma. Hanya saja, aku juga ingin," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mama Widia tak kuasa untuk tidak menangis. Wanita paruh baya itu lantas memeluk erat sang putri. "Sabar, Sayang. Dulu juga Mama lama sekali, tidak mendapatkan keturunan. Sampai Mama dan Papa akhirnya pasrah," ucap mama.
"Hanya saja kita berbeda, Lif. Dulu posisi Mama lebih enak dari kamu. Sedangkan kamu, jelas akan susah, karena saat seorang suami memiliki dua istri dan salah satu istrinya hamil, itu akan sangat susah. Dan kamu, sebagai salah satunya, harus benar-benar sabar. Ingat kembali pada keinginan awal kamu, ini semua permintaan kamu. Dan kamu, harus siap."
Alifa mengangguk dalam pelukan sang mama. Wanita paruh baya itu memeluk erat sang putri, juga menciumi lama puncak kepala anaknya itu. Sungguh, ia merasakan sakitnya bagaimana seorang istri yang menginginkan hamil di saat usia pernikahan yang sudah sangat lama.
Padahal mama Widia tidak menginginkan sang anak mengikuti jejaknya yang sudah lama menikah tapi tak kunjung hamil. Tapi, pada kenyataannya sang putri malah merasakannya juga.
Lama sekali mama Widia memeluk sang putri, menyalurkan rasa agar lebih kuat. "Apa kamu siap, Nak? Jika nanti kabar bahagia itu datang? Mama Yakin, sekarang Yayas juga tengah menunggu momen yang pas," ucap mama setelah mengurai pelukan nya.
"Aku sudah sangat siap untuk itu, Ma. Aku bahkan akan sangat bahagia. Lifa tidak sakit hati untuk kehamilan Yasmine. Hanya saja, aku juga ingin," katanya dengan senyum yang lebar.
"Anak Mama benar-benar hebat. Kamu seperti Radiah, baik, dewasa dan penyayang. Tidak salah dulu saat kamu di dalam perut, mama selalu berdoa agar kamu memiliki sifat seperti dia," tutur mama Widia menangkup wajah sang putri.
Alifa tersenyum. "Pantas saja kita seolah putri yang tertukar. Jangan-jangan, ibu waktu hamil Yayas menginginkan wanita seperti mama."
"Iya. Betul sekali, seperti itu memang kita berdua," ucap mama Widia sembari tertawa. "Tapi, tak mama sangka, Yayas melebihi mama."
Alifa menggelengkan kepalanya. "Apaan, kalian sama, Ma."
"Eh, berani yaa. Kamu sama mama," ucap mama Widia pura-pura kesal.
"Ampun, Ma. Mama terbaik loh.
Kedua wanita itu lantas berpelukan. Mama tahu, kalau Alifa tengah membawa hatinya sejenak melupakan kesedihannya lantaran menginginkan sebuah kehamilan.