
Dia masih di sana. Duduk memandangi jari lentiknya yang memang kosong, tidak ada benda apa-apa bahkan t a h i lalat saja tidak ada. Bibir wanita itu tersenyum miring, ia bahkan sampai lupa pada acara sang kakak yang belum selesai. Ia terlalu menikmati waktunya yang tenang sendirian. Lebih tepatnya ia jadi bisa meratapi kesedihannya seorang diri.
Bolak-balik menarik napas guna menghilangkan rasa sesak yang ada di dalam dada. "Inilah hidup, Yas," ucapnya pada dirinya sendiri. Masih memandangi jari tangan yang lentik. Mungkin jika di jepret dengan dihiasi cat kuku akan lebih cantik, tapi sayang dia tidak memakai warna untuk kuku-kuku cantiknya sampai nanti saat melahirkan tiba.
Karena, dia hanya akan memakai cat kuku saat datang bulan saja. "Kita harus jalani, nikmati, syukuri," sambungnya masih menatap lima jari kanan yang di usap mesra oleh jari kiri.
"Iya 'kan, Sayang," ucapnya lagi pada perut yang jika duduk sudah mulai terlihat menonjol. Walaupun masih belum terlalu ketara mungkin jika orang lain lihat hanya akan mengira kalau itu adalah lemak.
Yasmine tertawa sendirian, lalu tangannya beralih mengusap perut ratanya. "Kamu akan jadi teman ibu 'kan, Nak. Kamu nggak akan bagi-bag__" kalimatnya terputus saat tiba-tiba ada yang bertanya padanya.
"Bagi-bagi apa?"
Yasmine lantas menoleh, di sana sepasang suami-istri tangah berjalan ke arahnya. Tentu saja diiringi senyum lebar menyapa. Yasmine tentu membalas dengan senyum yang lebar juga.
Dua pasang kaki itu berhenti tepat di sebelahnya duduk. Ia mendongak, menatap dua pasang mata yang menyipit. Mungkin silau lantaran baru keluar dari tempat yang tidak terlalu terang ke tempat terbuka seperti sekarang.
"Bagi-bagi rezeki, di sini banyak nyamuk," ucapnya sembari menggaruk lengan. Bermain drama agar dua orang di depannya itu percaya.
"Ya, kenapa di sini, Yas?" tanya Alfin yang lantas jongkok di depan Yasmine. Membuat netra perempuan cantik itu mengikuti bagiamana pergerakannya.
"Di dalam ramai banget, aku butuh suasana yang sepi. Ternyata di sini juga tidak menyenangkan," katanya dengan senyum.
"Ya, sudah. Ayo masuk, Yas," ajak Alifa. Ia mengulurkan tangannya pada sang madu.
"Ayo." Yasmine berdiri. Lantas Alfin pun turut berdiri dan mengikuti langkah kedua istrinya itu. Lelaki itu merasa aneh, apalagi saat dengan tiba-tiba, Yasmine yang paling sayang dengan sang kakak bisa meninggalkan acara hanya untuk menyendiri.
Ini sungguh aneh, namun untuk bertanya pun tidak mungkin sekarang. Lelaki itu berpikir positif, 'Mungkin efek hamil,' begitu ucapnya dalam hati.
Dua wanita cantik itu berjalan dengan riang, bergandengan tangan sembari sesekali saling menoleh dan tersenyum. Mendekat ke arah pelaminan dan kembali mengikuti acara di sana. Ternyata hanya tinggal acara akhir, yaitu melempar bunga. Tentu saja Yasmine dan Alifa hanya bisa melihat saja.
Keduanya duduk di kursi pelaminan, sembari merekam acara tersebut melalui ponsel. Hingga akhirnya bunga terlempar dan yang mendapatkan entah siapa. Yasmine dan Alifa tidak tahu, karena yang mendapatkan adalah keluarga dari Zahra.
Semua acara selesai, ngobrol-ngobrol pun sudah. Kini saatnya untuk pulang. Tidak semua pastinya, Yahya tertinggal di sana. Kini ia tengah berpelukan dengan sang adik dengan sangat erat.
"Selamat sekali lagi, Kak," ucap Yasmine dengan air mata yang membasahi baju Yahya.
Yahya mengangguk, "maaf ya, kalau setelah ini aku nggak bisa se perhatian kemarin-kemarin. Pokoknya, kamu jaga baik-baik diri sendiri dan anak kamu ya, love you Yas."
Kini keduanya sudah sama-sama punya keluarga, jadi tidak akan mungkin bisa dengan mudah bertemu seperti dulu, cerita seperti dulu, apalagi gendong-gendongan seperti dulu. Itu tidak akan mungkin. Jadi, jangan salahkan kalau kini, Yasmine masih memeluk erat sang kakak tercinta.
Yasmine tak menjawab, setelah di rasa cukup ia lantas melepas dan memeluk sang kakak ipar. "Selamat datang di keluarga kita, Kak. Jangan kaget sama aku yang cerewet ya, jangan marah kalau Kakak suka chat aku setiap saat. Walaupun kayaknya setelah ini dia bakalan bucin ke Kakak," ucap Yasmine pada sang kakak ipar.
Zahra mengangguk. "Tenang saja Yas, jika dia tidak bertanya akan kabarmu, maka Kakak yang akan bertanya," katanya.
"Ah, makasih Kakak Cantik," ucap Yasmine tulus.
Setelah drama menangis haru, perempuan yang kini tengah hamil itu lantas pulang bersama sang ayah dan ibu. Tak lagi dengan mama dan papa, karena mereka langsung pulang ke rumah.
Di jok belakang. Dengan bersandar di ibunya, netra cantik Yasmine terpejam. Kantuk langsung melandanya saat roda mobil mulai berputar meninggalkan tempat parkir.
Ibu Radiah mengusap kepala sang anak dengan sayang, bahkan saat dirasa sudah pulas. Ia menaruh kepala sang putri agar tidur dengan nyaman di pangkuannya. Seperti tengah menidurkan Yasmine kecil.
"Yah!" panggil ibu. Kendati memanggil sang suami, namun ia tetap memandang sang putri.
"Kenapa, Bu?" tanya ayah dengan sedikit menolehkan badannya mengarah ke belakang. Sedangkan sang supir hanya diam memperhatikan jalan.
"Ibu sedih, tadi ... sewaktu Yahya dan Zahra saling tukar cincin lalu memperlihatkannya ke arah kamera, Ibu melihat Yasmine memperhatikan jarinya," kata ibu.
Ya, sebagai seorang ibu. Tentu saja ibu Radiah bis memahami apa yang ada di pikiran anaknya.
"Terus, harus bagaimana, Bu?" tanya balik ayah.
"Tidak harus seperti apa-apa. Ibu hanya memberitahu. Nanti jika terlalu lama, hati mereka nyatanya saling menyakiti, maka ibu akan__"
"Jangan suka su'udzon sama masa depan, Bu. Siapa tahu, nanti, setelah semakin lama, mereka tambah akur dan cinta mereka jadi menggunung. Mereka hanya butuh waktu, semakin lama mereka bersama, mereka pasti akan lebih paham akan kehidupan sehari-hari mereka. Lambat-laun semua itu akan terasa makanan sehari-hari. Jadi, Ibu nggak boleh asal bicara."
Ibu mengangguk. "Ibu selalu mendoakan untuk anak-anak Ibu agar bahagia. Pun saat sudah seperti ini, ibu selalu berharap untuk kedua putri ibu agar selalu rukun dan tidak ada perselisihan."
Begitu yang seorang ibu katakan. Tapi pada kenyataannya, ibu manapun jelas tidak akan rela melihat putrinya bersedih hati untuk waktu yang lama. Antara Yasmine dan Alifa, ibu Radiah memang tidak bisa memilih. Namun, jika sampai nanti anaknya merasa sedih, biarkan saja sang putri yang akan ia suruh untuk menyerah.
Sebaik-baiknya manusia, jelas akan memiliki salah. Seadil-adilnya seorang suami, pasti ada saat khilaf dan lupa saat nyaman kembali menerpa. Jadi seroang ibu yang jelas tahu asam manisnya rumah tangga, pasti tahu bagaimana kehidupan berkeluarga dengan berbagi.