
Bocah itu berlari cepat ke arah sang ibu, bibirnya tersenyum lebar, wajahnya terlihat begitu ceria. "Ibu, aku sudah dapat ayah." katanya sembari duduk dan menyalami dua perempuan cantik yang tengah terheran-heran padanya. Dibelakangnya ada seseorang yang berjalan dengan senyum yang malu-malu, yang lantas duduk tak jauh dari keberadaan tiga manusia itu.
"Ayah apa, Nak?" tanya Yasmine heran. "Kamu dapat di mana, di kolong?" sambung wanita itu, ia jelas merasa aneh dengan apa yang di katakan sang anak.
"Ck, ibu. Aku dapat ayah kalau ibu mau menikah dengan Pak Arya," ucap bocah polos itu.
Ustazah Ami yang ada di sana tersenyum lebar, tapi tidak dengan Yasmine. Dia malah manyun. "Ih, Pak Arya bilang apa sama kamu?" tanya Yasmine dengan memonyongkan bibirnya.
Pak Arya hanya tertawa tanpa suara di tempatnya. Ia yakin, temannya itu tidak akan menanggapi permintaan anak kecil itu dengan serius. Padahal, dia pernah mengungkap kata yang serius. Namun, Yasmine hanya menganggapnya bercanda seperti sebulan lalu saat ia mengantar makanan dari ibunya untuk janda beranak satu itu.
Flashback on.
"Ar, ini ada semur ayam. Di antar ya, untuk Nak Yasmine. Kasihan makan ketering-an terus, nanti abis duitnya," perintah ibu Sufi pada sang putra yang kini tengah duduk di ruang tamu dengan tasbih digitalnya.
Rumah sederhana yang hanya di huni dua orang itu begitu sepi, dulu Arya pernah menikah dan berharap akan meramaikan suasana sepi itu dengan anak-anaknya, namun sayang, Tuhan mengambil sang istri beserta anaknya saat melahirkan buah hati mereka.
Karena itulah, Arya susah sekali untuk move on dari mendiang sang istri. Sampai di mana dia mendengar suara Yasmine mengaji yang langsung menggetarkan hatinya, suaranya mirip sekali dengan suara mendiang sang istri.
Sikapnya, cantiknya, dan itu semua membuat lelaki berstatus duda itu tersenyum jika mengingatnya. Lelaki yang sangat penurut pada ibunya itu lantas beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah sang ibu yang berdiri di sebelah meja makan.
"Uang Yasmine nggak akan habis, Bu. Dia 'kan orang kaya," kata Arya saat ia sudah berdiri di sebelah sang ibu.
"Mau kaya, mau miskin, kalau Allah cabut itu uangnya habis 'kan," ucap ibu Sufi yang tidak nyambung sama sekali, membuat anaknya geleng-geleng kepala.
"Sudah, antar saja. Ibu pernah ngobrol sama Yasmine, dia paling suka semur ayam, begitu juga si ganteng Taqa," sambung ibu Sufi.
"Iya, Arya pergi ya. Sekalian pamit, mau ngecek barang di warung," ucap Arya seraya meminta salim.
"A'Market, warung terus yang kamu bilang," gerutu sang ibu.
Lelaki itu tertawa, "market ku sama saja kayak warung bu." katanya sembari berlalu dengan paper bag yang ia ambil. Tak lupa salam ia ucapkan setelahnya.
Dalam perjalanan menuju rumah ibunya Taqa, duda yang masih terlihat muda itu tersenyum. Hari ini setelah menunggu bertahun-tahun, ia akan mengungkap rasa yang ada sebelum dia mendengar ada yang lain yang mengungkapkan rasa pada janda beranak satu itu.
Hingga sampailah dia di depan pagar rumah yang tak tinggi, dengan sabar ia menunggu keluarnya sang pemilik rumah setelah ia menekan bel yang ada di pojok pagar.
"Assalamu'alaikum," ucapnya saat Yasmine keluar dengan jilbab berwarna hitam dan gamis berwarna hijau botol. Riasan tipis masih terlihat di wajah perempuan itu, ia tahu pasti kalau ibu satu anak itu mungkin mau pergi, atau baru saja pergi.
"Wa'alaikumsallam, Mas Arya, silakan di buka saja," jawab Yasmine yang masih berdiri di teras. Ia mempersilakan masuk Arya ke teras yang memang di sediakan kursi.
Lelaki itu masuk dan membuka pagar tanpa menutupnya, ia lantas menaruh paper bag berisi makanan dari ibunya itu. "Ini ada semur ayam, Mbak Yasmine. Dari ibu," katanya.
"Ya Allaah, baik banget ibu Sufi. Sampaikan makasih saya ya, Mas," kata Yasmine yang memang masih berdiri. "Silakan duduk, Mas. Mau minum apa? Adanya air putih tapi, sirop nya belum nyetok, belum ke market Mas Arya soalnya," sambung wanita itu.
Arya lantas duduk, "terimakasih. Tidak usah repot-repot, ini 'kan kamis," ucapnya mengingatkan.
"Ya Allaah, aku lupa hari. Maaf ya, sebentar saya salin dulu wadahnya ya." kata Yasmine sembari berlalu.
Lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Lantas tak lama setelahnya Yasmine kembali dengan wadah dan paper bag yang isinya sudah di ganti. "Makasih sekali lagi, Mas Arya," ucapnya.
Arya mengangguk. "Mmm, Mbak Yasmine. Boleh saya bicara," ucapnya.
"Silakan," kata Yasmine.
"Maaf, jika saya kurang sopan. Apa kiranya, Mbak Yasmine mau, jika saya datang ke orangtua Mbak Yasmine, yang bertujuan untuk melamar?" tanya lelaki itu.
Yasmine diam, lalu wajahnya berubah seperti tengah berpikir. "Hehe," dia malah tertawa. "Biasanya serius sekali, sekarang giliran bercanda, kelewatan," jawabnya.
"Saya seri--" katanya terhenti saat tiba-tiba ustadzah Ami datang, yang ternyata akan mengajak ibu satu anak itu ke pengajian. Yang lantas membuat lelaki berstatus duda itu tidak lagi melanjutkan kalimatnya, dan sampai kini, kalimatnya belum di selesaikan.
Flashback Off.
"Pak Arya bilang, kalau Taqa mau ayah, Ibu harus menikah dulu," jawab anak kecil itu dengan mata yang berbinar bahagia.
"Terus?" tanya Yasmine lagi.
"Terus aku tanya, apa Pak Arya mau, jawabnya ngangguk," lanjut bocah itu.
Yasmine menggelengkan kepalanya, "ish Mas Arya ada-ada saja, memangnya segampang itu," gerutu Yasmine. "Sudah ah, anak baik nggak boleh ingat ayah terus, ya 'kan ustazah Ami?" katanya mencari pembelaan ke arah sang teman.
"Oh, maaf. Kalau ini, aku dukung Taqa. Setuju, kalau Mas Arya mau, kenapa tidak," kata ustadzah Ami dengan menaik turunkan alisnya.
"Maaf, nimbrung," kata Arya yang membuat tiga orang itu menoleh ke arah kiri, namun tidak sampai melihat ke arah duda itu. Hanya Taqa saja yang melihatnya dengan wajah yabg sumringah.
"Tadi, Mbak Yas bilang segampang itu. Memang gampang Mbak, asal Mbaknya mau dan tidak terpaksa," katanya. "Saya serius dengan ucapan saya satu bulan yang lalu," sambung pria itu.
Ustazah Ami dan Yasmine saling memandang. Ibu satu anak itu mengedikan bahu, karena belum mengingat kata sebulan lalu seperti yang di katakan Arya. Namun, seketika saat ia sudah mengingatnya, ia lantas melebarkan kelopak matanya. 'Astagfirullah ... aku pikir dia bercanda,' katanya dalam hati.
Perempuan itu lantas diam, ia tak mengerti dengan ini semua, karena pada kenyataannya, ia masih merasa nyaman akan kesendirian. Walupun jujur saja, ia ada rasa kagum pada lelaki itu, karena dia terlihat sangat sederhana, kendati memiliki harta, namun rumah dan gayanya tidak menampilkan seberapa hartanya. Begitu juga dengan sang ibunda.
Sampai kadang membuat Yasmine heran, saat ia yakin Arya mampu membeli mobil, tapi malah hanya menggunakan motor, bahkan jika jalan yang ia tuju tak terlalu jauh, pasti akan jalan kaki.
Di mana lagi ia akan mendapatkan lelaki seperti itu. Tapi ... apa seperti itu bisa membuat dia menerimanya? Tidak mudah bukan, melupakan cinta dan mengganti secepat ini.
"Tidak apa jika Mbak Yasmine tidak mau, menikah itu bukan paksaan Mbak Yas. Jangan terlalu di pikirkan," kata dari Arya kembali membuat Yasmine menatap taman dan anaknya yang masih tersenyum lebar, seolah tengah mendapat kebahagian.