Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 141 # Senyuman Manis


Rumah besar berlantai dua terlihat sangat sepi, hanya terdengar suara spatula yang beradu dengan penggorengan di dalam dapur cantik milik Yasmine. Wanita itu tengah membuat nasi goreng.


Jangan salah, sekarang ini walaupun dengan bumbu instan, yang pasti Yasmine sudah bisa membuat makanan. Lumayan lah, seenggaknya dia bisa di katakan bisa memasak.


Dua lelaki kesayangannya belum pulang dari masjid. Ya, mulai pagi ini Taqa shalat subuh di masjid bersama ayah Arya. Anak itu tentu saja sangat antusias, karena shalat berjamaah di masjid adalah keinginannya. Hanya saja, biasanya tidak ada yang mengantar, dan jika pergi sendiri tidak di bolehkan oleh sang ibu.


Paling-paling hanya saat sang kakek tengah menginap. Jadi, kesempatan seperti sekarang ini sangat di manfaatkan oleh anak tampan bernama Taqa itu.


Nasi goreng sudah siap, telor ceplok tak berbentuk pun sudah siap, semua peralatan tempur dapur pun sudah di bersihkan. Kini, tinggal dirinya berganti pakaian dan menunggu dua manusia kesayangannya pulang untuk sarapan, setelahnya kembali ke rutinitas seperti biasa.


Setelah di rasa sudah bersih dan wangi, wanita cantik itupun lantas turun kembali ke lantai satu. Baru tiba di anak tangga terkahir, ia langsung berhenti saat mendengar ucapan salam dari dua manusia tampan yang lantas di akhiri dengan candaan, entah apa yang dua lelaki itu bicarakan, sampai membuat Taqa tertawa.


"Seru, Yah. Aku mau setiap hari ke sana," kata Taqa.


Yasmine yang masih berdiri di sana sampai ikut melebarkan senyum, tertular begitu saja karena sang anak tertawa.


"Tentu saja, asal jangan bilang-bilang ibu ya, takutnya kita nggak di bolehin ke sana lagi," begitu ujar Arya.


Kelopak mata perempuan cantik itu melebar, lantas melangkahkan kakinya ke arah dua lelaki itu. "Wah, rahasia apa ni. Sampai ibu nggak boleh tahu?" tanyanya dengan tangan berkacak pinggang.


Arya dan Taqa saling pandang, lantas sama-sama menutup mulut mereka. Yasmine semakin mengerucutkan bibirnya, menaik-turunkan alisnya kepada dua lelaki itu. "Apa yang kalian rahasiakan, hm."


"Enggak ada apa-apa, Ibu. Hanya jalan-jalan setelah shalat berjamaah, ya 'kan, Yah?" jawab Taqa yang lantas bertanya pada sang ayah.


"Ah, iya. Betul sekali, kamu jangan cemburu dong Bu, 'kan ayah sama Taqa nggak mungkin macam-macam, ya 'kan Anak Tampan." Arya merangkul sang istri dan mengerling ke arah sang anak.


Taqa tertawa dan menunjukan jempolnya pada sang ayah, "Taqa ganti baju dulu, ya Yah, Bu." katanya yang lantas berlalu ke kamarnya.


Yasmine menoleh ke arah sang suami, tangannya sudah tak lagi di pinggangnya, melainkan berpindah ke pinggang sang suami. "Kamu bawa Taqa jalan-jalan ke mana, Mas?" tanyanya.


"Jalan-jalan sekitar masjid, sampai ke pasar yang hanya ada di pagi hari itu, kamu pernah ke sana?" tanya balik sang suami.


Yasmine menggeleng, "enggak, sekali ke sana sudah tutup," jawabnya.


"Besok ke sana ya," ajak Arya. "Kamu wangi banget sih," sambung lelaki itu saat hidungnya menyentuh puncak kepala sang istri.


"Hm, iseng banget deh," kata Yasmine seraya mencubit pelan pinggang sang suami.


"Berani nyubit, sekarang," kata Arya dengan melebarkan kelopak mata.


Yasmine bukannya takut malah tersenyum lebar, lantas menjulurkan lidah dan berjalan ke arah meja makan meninggalkan sang suami. Tentu saja sang suami mengejar perempuan yang sudah berjalan meninggalkan dirinya.


"Mas, kamu ngejar aku?" teriak Yasmine yang semakin berlalu meninggalkan sang suami, memutari meja makan.


"Iya, aku mau balas nyubit kamu," kata Arya sembari mengejar sang istri.


"Nanti aku bau asem lagi," Yasmine berlari menuju ke ruang tamu, tentu saja tetap di kejar sang suami.


"Enggak papa, nanti mandi lagi," seru Arya sembari mengejar mengikuti ke mana Yasmine berlari.


"Mas, ampun. Aku nggak mau lari lagi," Yasmine duduk di sofa.


Arya mendekat dan ikut duduk di sebelah sang istri, namun tangannya tak tinggal diam. Menggelitik perut Yasmine sampai wanita itu tertawa kegelian.


"Ampun, Ayah," kata Yasmine.


"Ih, Ayah, Ibu. Kalian ngapain?" tanya Taqa yang kini sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.


Arya menghentikan tangannya dari menggelitik sang istri, lantas baik dirinya maupun sang istri duduk dengan benar. Yasmine sampai melirik kesal sang suami, "kamu sih," katanya.


"Ibu nyubit ayah, Nak," adu Arya pada sang anak.


"Oh," Taqa manggut-manggut. "Ok, silakan di lanjut. Aku mau sarapan." lanjut bocah itu yang mana langsung meninggalkan kedua orangtuanya menuju ruang makan.


"Maaf ya, geli banget ya?" tanya Arya saat istrinya beranjak dari duduknya.


Yasmine menoleh dan menggeleng. "Enggak kok Yah, makasih ya, pagi ini aku seneng banget," jawabnya. "Ayo sarapan, keburu Taqa selesai makan," sambungnya.


Arya berdiri, lantas mengecup sekilas kening Yasmine dan menggenggam tangan istrinya itu. Keduanya lantas berjalan ke arah ruang makan.


Benar saja, di sana Taqa sudah mulai menyuapkan nasi ke dalam mulut. Lantas Yasmine mengambilkan nasi goreng buatannya untuk suami dan dirinya. "Maaf ya, telornya nggak cantik bentuknya," ucap Yasmine seraya menaruh telor ceplok yang terlihat mirip seperti telor dadar di atas nasi goreng untuk suaminya.


"Kenapa minta maaf, 'kan yang di makan bukan bentuknya, Bu," ujar Arya.


"Betul kata Ayah, yang penting rasanya," Taqa ikut nimbrung.


"Rasanya gimana?" tanya Yasmine saat sudah duduk.


"Hmm, enak banget," jawab Taqa.


"Sudah baca doa, belum?" tanya Yasmine lagi.


"Sudah dong," jawab anak tampan itu.


Arya dan Yasmine lantas berdoa dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut. Yasmine tersenyum ke arah dua pria yang tengah memakan dengan lahap masakan buatannya itu. Bagaimana tidak senyam-senyum sendiri, kalau ternyata masakan yang ia buat tidak ada rasanya, hambar semua. Dari nasi goreng sampai telor, namun, dua lelaki hebatnya itu tetap memakan dan memuji.


"Kalau nggak enak jangan di habiskan ya, Taqa, Ayah," katanya saat baru dua suap ia makan.


"Enak banget loh, Bu. Ya 'kan Taqa?" Arya menjawab seraya bertanya pada sang anak.


"Betul, masakan Ibu itu paling enak. Aku mau lagi, Bu." jawab Taqa seraya menyodorkan piringnya yang sudah kosong untuk di isi lagi.


"Ah, kalian, nanti siang ibu mau ke rumah Ibu Sufi ya, mau latihan masak. Biar ketering nya udahan, nggak pesen lagi," katanya sembari menyendok nasi kembali dan di taruh ke piring sang anak.


"Jangan di paksakan, Bu. Yang penting ibu senang, masakan ibu maupun ketering kita tetap mau. Jangan di buat pusing, Sayang," ucap Arya sembari mengusap tangan sang istri.


"Makasih, semoga kalian selalu bahagia," ucap Yasmine terharu.


"Dan bahagia kami, bersamamu," kata Arya lagi.


Yasmine tersenyum manis ke arah sang suami, begitupun lelaki yang bergelar suaminya itu. Lantas mereka bertiga melanjutkan makan sampai habis tak tersisa, setelahnya sepasang orangtua baru itu mengantar anak tampan mereka ke sekolah.


Bahagia? Tentu. Itu yang dirasakan Taqa saat berangkat ke sekolah di antar ayah dan ibunya. Tak peduli itu ayah kandung atau bukan, yang jelas anak tampan itu bahagia saat mendapati sosok ayah yang sangat baik padanya.