Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 106 # Bahgialah


"Kakak mau pulang sebentar lagi, Yas. Apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan. Kakak mau jadi sahabat bagi kamu, karena Mas Yahya tidak bisa ikut ke sini," ucap Zahra pada sang adik ipar yang kini duduk di sebelahnya.


Zahra memang sengaja meminta waktu berdua saja dengan Yasmine. Ia ingin ada di saat membutuhkan bagi sang adik ipar, karena rasa sayangnya pada Yasmine benar-benar besar, selayaknya rasa sayang pada adik sendiri.


Walaupun Yahya tak menyuruhnya untuk berkata demikian, namun sebagai sesama perempuan ia sedikit tahu bagaimana rasanya sekarang menjadi Yasmine.


Yasmine lantas menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak ipar. "Aku sudah baik-baik saja, Kak. Bahkan lebih baik," jawabnya lirih. Kini keduanya tengah duduk di belakang rumah, di atas tikar menghadap ladang.


"Walaupun hati kamu masih sakit?" tanya Zahra sembari mengusap kepala Yasmine.


"Lambat laun dia akan sembuh, Kak," jawabnya lagi.


"Setelah ini, kamu ingin apa?" tanya Zahra lagi.


"Aku belum tahu, yang aku rasakan di sini adalah kenyamanan Kak. Dan aku belum bisa memikirkan untuk nanti. Aku ingin nanti setelah benar-benar nyaman, pulang untuk mengurus segalanya. Aku yakin, walaupun dia sudah memberiku kalimat pemisah, tapi, dia tidak akan mengurus akhirnya."


Zahra terdiam, namun tangannya masih saja mengusap kepala sang adik ipar. "Beri tahu Kakak, apa yang akan kamu lakukan kedepannya ya, kakak mau ada di setiap saat kamu membutuhkan," ucapnya serius.


"Terimakasih, aku pikir setelah Kak Yahya menikah, aku akan kehilangan dia. Ternyata dia membawa pengganti yang sangat baik sepertimu," kata Yasmine jujur.


Zahra tersenyum, "kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanyanya.


"Entahlah, Kak. Yang jelas saat aku kebingungan dan aku datang padamu waktu itu, aku tahu sesuatu. Dan sesuatu itu adalah kebahagiaan karena ada pengganti Kak Yahya untukku," kata Yasmine.


"Kamu tidak akan selamanya di sini, Yas," ucap Zahra kembali membahas.


"Kenapa, Kak?" tanya Yasmine yang lantas mengangkat kepalanya dari bahu sang kakak ipar.


Zahra tersenyum, "anak kecil itu butuh lingkungan, Yas. Masak mau di sini selamanya. Kalau memang tidak mau tinggal kembali di rumah ibu, cari tempat yang baik, carikan lingkungan yang baik untukmu dan anakmu. Nanti biar Kakak yang bicarakan ini sama ibu dan ayah, mereka jelas setuju."


Yasmine mengangguk, "jadi ... apa aku perlu ikut pulang, untuk mengurus surat pisah?" tanya balik Yasmine.


"Itu serahkan saja sama Kak Yahya, kamu santai saja," ucap Zahra dengan senyum yang merekah.


"Benarkah?" tanya Yasmine.


"Kamu masih meragukan kemampuan kakakmu itu?" tanya Zahra. Yasmine tersenyum dan menggeleng. Lantas kakak dan adik itu berpelukan.


"Kakak lega, kalau kamu semakin baik," ucap Zahra masih memeluk adik iparnya.


"Doanya saja, Kak," kata Yasmine.


"Pasti." Zahra masih enggan melepas pelukannya.


...----------------...


Setelah ngobrol dengan sang Kakak, kini giliran semua orang pulang. Hanya tinggal ibu saja di sana.


Yasmine menganggukkan kepalanya, "in syaa Allaah, Yah. Kalau aku mau ya," katanya.


"Harus mau, ayah nggak mau kamu di sini sendirian. Ada kami yang selalu ada untukmu. Jadi jangan menyendiri lama-lama, ok," kata Ayah lagi. Yasmine hanya bisa mengangguk tanpa menjawab lagi.


Lantas setelah ayahnya pamit, kini tinggal Umi Fitri yang memeluknya, "cepat pulang ya, Yas. Umi ingin sekali kamu kembali ke rumah Umi dan menginap di sana," ucapnya.


"Maaf jika nanti keinginan Umi yang satu itu aku nggak bisa kabulkan, ya," jawab Yasmine.


"Maaf," ucap Umi.


"Enggak perlu minta maaf Umi, ini semua keinginan Yayas," kata Yasmine. Umi mengangguk dan mengurai pelukannya.


Lantas setelahnya adalah Zahra, ia tersenyum. "Kakak pulang dulu ya, ingat jangan sedih-sedih. Ingat ada baby yang selalu ingin ibunya bahagia," ucapnya.


"Aah, Kak Zahra pengin peluk lagi," katanya dengan manja yang mana langsung membuat Zahra dan yang lain tertawa. Tentu saja perempuan cantik yang menjadi kakak ipar bagi Yasmine itu lantas memeluknya dengan erat. Terkahir Zahra juga mengusap perut sang adik, "baik-baik sama ibu ya, Nak. Uwa pulang dulu. Nanti kita ketemu lagi ya," katanya.


"Siap, Uwa," ucap Yasmine menirukan suara anak kecil.


Lalu semua orang pun masuk ke dalam mobil, tinggallah tiga wanita saja di sana. Di depan rumah sederhana. Yaitu, ibu Radiah, Yasmine dan Fifi yang tengah memperhatikan sebuah mobil pergi dari sana.


Yasmine lantas merangkul sang ibu. "Cieeee, di tinggal Ayah," katanya menggoda.


"Ish, kamu itu sudah mau jadi ibu, masih saja sukanya bercanda," kata ibu namun dengan senyum yang lebar. Sebenarnya, ibu malah lebih suka Yasmine yang seperti ini, ceria dan seperti Yasmine-nya yang dulu.


"Eh, jangan salah bu. Menjadi ibu itu butuh candaan supaya nggak se t re s, ya nggak Mbak Fi?" Yasmine menaik-turunkan alisnya mengarah ke Fifi.


Mbak Fifi tertawa. "Pokoknya saya cari aman, kalau Mbak Yas bilang seperti itu, berarti benar," katanya sembari berlalu masuk ke dalam.


"Tuh bu, Fifi itu selalu membela ku," kata Yasmine masih dengan cerianya.


"Seneng ya ... ibu di sini, sampai se-ceria itu," ibu balik meledek sang anak.


"Idih, ibu ge-er," ucap Yasmine namun sembari memeluk ibunya. "Makasih ya bu, makasih untuk semua yang sudah ibu rasakan selama ini, makasih untuk segala bentuk support yang selalu bisa membuat aku bangkit," katanya dengan air mata yang menetes.


"Ish, jangan ngomong seperti itu, tidak akan ada ibu yang terima jika anaknya mengatakan seperti itu, karena itu semua sudah menjadi kewajiban seorang ibu," kata ibu yang sama-sama mengeluarkan air mata.


"Sudah jangan nangis, kita masuk. Kamu nggak boleh kedinginan, ibu nggak mau nanti kamu gatal-gatal."


Sengaja ibu berkata demikian agar tak lagi keluar air mata dari netra cantik anaknya. Ia tidak ingin sang anak menangis lagi, sudah cukup kesedihannya saat gagal menikah dan menjadi istri ke dua. Sekarang seorang ibu itu ingin, anaknya bahagia walaupun dengan status janda.


Biarlah dia bahagia dengan anak yang ada di dalam kandungannya. Tak perduli apa kata orang sekarang, yang jelas mereka berdua lah yang utama.


Lantas kedua wanita beda usia itupun masuk, meninggalkan pelataran rumah Fifi yang penuh dengan tanaman. Semuanya adalah bumbu dapur dan sayur, juga ada buah, seperti strawberry yang baru di tanam Fifi atas dasar permintaan Yasmine.


Di sana, di dalam ruang tamu yang tak lebar, tiga wanita beda usia kembali melanjutkan bicara. Ngobrol apa saja yang membuat mulut tersenyum lebar, membuat pipi sakit saking senangnya.