Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 145 # Air Matanya Keluar


Sudah begitu lama ia menangis, tapi pada kenyataannya rasa di dadanya belum juga lega. Masih merasa sesak dan tidak karuan. Namun, sekarang ini sudah saatnya untuk dia menengok dua malaikat kecil yang cantik.


Di hapusnya air mata yang membasahi pipi, beranjak lah dia dari tempat duduk dan mengusap kepala sang istri yang tertutup jilbab sekenanya. Karena ia tetap ingin sang istri tertutup, kendati sedang tidak sadarkan diri.


"Aku ke ruangan Lisha dan Lisi dulu ya, Sayang. Nanti aku ...," ucapnya menggantung saat tangannya mengusap pinggir mata sang istri dan mendapati air mata keluar dari sana.


"Sa-sayang ... kamu nangis?" tanyanya konyol. "Ya Allaah, jadi kamu mendengar apa yang aku katakan, iya?" tanyanya lagi.


"Dokter," ucapnya pelan seperti orang yang bingung dan keget. Lantas lelaki itu memencet tombol dan tak bisa mengatakan apapun di tempatnya. Bolak-balik menoleh ke belakang karena tak sabar akan kedatangan para dokter yang merawat sang istri.


Sedikit saja ia bisa lega, apalagi saat dokter mengatakan itu semua karena otak Alifa masih berfungsi. Dokter menyarankan agar se-sering mungkin di ajak bicara. Dan Alfin langsung menunggu kembali di ruangan sang istri.


Sedikit cerah rasa yang Alfin rasakan, ia bahkan sampai langsung memberitahu pada mama, papa juga Yahya yang masih berada di depan ICU.


"Alhamdulillah, semoga Alifa cepat sadar," begitu kata Yahya tadi saat ia beritahukan kabar ini.


Mama dan papa bahkan langsung meminta izin untuk masuk ke ruangan, kedua orangtua itu tentu bahagia dengan kabar ini, mereka sangat bahagia dan harapan yang banyak untuk kesembuhan sang anak. Terlebih saat melihat kedua cucunya yang lucu-lucu, rasanya kasihan karena dari lahir keduanya belum dapat merasakan belaian seorang ibu.


...----------------...


Ia juga mengatakan hal yang sama pada anaknya yang satu lagi, beruntungnya bayi Lisi sedang tidak tidur. Netra beningnya ke sana ke mari mencari-cari cahaya. "Kamu mencari Mama ya, Nak?" tanyanya pada sang bayi.


"Doakan Mama agar cepat sadar ya, biar Papa tidak kesepian. Biar kita bisa pulang ke rumah," katanya pada bayi Lisi.


Tak terlalu lama pria itu di sana, setelah waktu yang di tentukan ia lantas keluar dan kembali ke ruangan sang istri. Memang seperti itu kegiatan Alfin untuk beberapa hari ini, pikirannya terbagi antara istri, anak dan uminya yang sering sakit. Mungkin karena faktor usia, jadi mudah sekali sakit.


Dia kini duduk di samping sang istri, dengan ponsel yang menampilkan gambar sang anak pertama di sana. Dia lantas menunjukan gambar itu pada perempuan yang matanya masih terpejam. "Lihat Sayang, anak pertama kita semakin pintar," katanya.


"Aku yakin, nanti kalau dia sudah besar, dia mau menerima keberadaan adik kembarnya," sambung lelaki itu.


"Apalagi ayah sambungnya terlihat baik, aku yakin di tangan pria itu, anak pertama kita lambat laun mau menerima keberadaan kita."


Lelaki itu semakin giat untuk bercerita pada sang istri, kendati wanitanya itu masih juga belum sadar. "Dia juga pasti akan jadi kakak yang baik untuk adik-adiknya," sambungnya.


"Kamu cepat sadar ya, biar kita bisa bareng-bareng ketemu sama Taqa, biar bisa kembali seperti dulu. Aku sudah ikhlas dia dengan lelaki baik bernama Arya itu. Aku yakin mereka akan bahagia, jadi, sekarang saatnya kita berdua juga bahagia," begitu katanya lagi.


Bukan tanpa alasan dia mengatakan seperti itu, karena pada kenyataannya akhir-akhir beberapa tahun ini, tak bisa dipungkiri kalau perasaanya masih merasa bimbang karena cinta pertama yang sulit terlupa.