Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 143 # Hadiah Dari Suami


Rumah yang biasanya sepi, mulai pagi tadi sudah ramai. Bahkan sampai malam inipun, kediaman Yasmine terasa hangat. Apalagi kalau bukan karena keberadaan sang suami yang benar-benar membawa kehangatan di dalam rumah itu.


Malam ini Taqa tengah bermain dengan sang ayah, sedangkan Yasmine hanya bisa melihat dari kejauhan. Karena ia baru saja selesai dari membereskan meja makan, serta para peralatan makan. Ya, mereka semua baru selesai makan malam. Jangan tanya makanan apa yang mereka makan, karena Yasmine masih menggunakan jasa ketering tetangganya.


Wanita itu lantas mendekat ke arah sang suami dan anaknya berada. Ia langsung duduk di sofa tepat di belakang sang suami duduk. Karena memang Arya dan Taqa duduk di permadani dan sama-sama menghadap meja yang di atasnya terdapat permainan ular tangga.


"Ih, Ayah. Memangnya kalau ke ekor ular harus turun ya?" tanya Taqa kesal, karena bolak-balik turun ke angka terkecil.


"Haha, iya dong," jawab Arya dengan senangnya.


"Ih, Ayah curang nggak sih, Bu?" tanya Taqa pada sang ibu. Yasmine hanya mengedikan bahunya tak mengerti.


"Haha," Arya kembali tertawa. "Ibu mana tahu, Nak. Mainan kayak gini," sambungnya.


"Sudah ah, aku males, kalah terus," rajuk si anak tampan.


"Loh, ini 'kan permainan Nak. Ya, memang seperti ini, siap bermain, siap juga dong menang dan kalahnya," begitu ujar Arya pada sang putra sambung.


"Gitu ya, Yah?" tanya Taqa.


Arya mengangguk, "iya dong. Dan kalau kalah, kita bisa kembali bermain di kesempatan berikutnya. Kalau awal main kita kalah, kita bisa sambil berpikir, bagaimana nih, caranya supaya menang, seperti itu. Tapi ingat, jangan cu--?" tanyanya pada sang anak.


"Rang," sambung Taqa.


"Pintar." Arya mengacak rambut dang putra. "Jadi, masih mau main enggak?" tanyanya.


"Enggak deh, Yah. Aku belum belajar. Besok kita main lagi ya, sepulang sekolah, sebelum ngaji," kata bocah tampan itu.


"Siap, sekarang belajar dulu yuk, ayah dan ibu temani, biar makin semangat." Arya lantas beranjak dan mengajak sang istri dengan menarik pelan tangan mulus Yasmine.


Ketiganya lantas pergi ke kamar Taqa. Seperti kemarin, Taqa belajar, Yasmine dan Arya duduk di ranjang. Terkadang mendekat saat sang putra bertanya. Pun dengan acara sebelum tidur, keduanya masih setia menemani sang anak.


Sampai akhirnya, Taqa sudah tidur dan kedua orangtua itupun keluar dari kamar sang anak. Yasmine menutup pintu kamar anaknya dengan pelan, sedangkan Arya sudah tak terlihat. Entah di mana keberadaannya, Yasmine tak tahu.


Wanita itu lantas mematikan beberapa lampu dan berjalan ke arah lantai dua, di mana kamarnya berada. Namun, begitu sampai di kamar ternyata sang suami tak ada di sana. Bibir bawahnya maju, matanya menelisik ke seluruh ruangan. "Ke mana?" tanyanya entah pada siapa.


Yasmine mengedikan bahu, lantas dengan santainya ia membuka jilbab dan masuk ke dalam kamar mandi. Selepas bersih-bersih wajah dan wudhu, wanita itu keluar dari sana.


"Ya Allaah, Mas. Kaget aku, dari mana kamu?" tanyanya pada seorang pria yang kini sudah berdiri di depannya dengan mencondongkan badan ke arahnya dan bibir yang tersenyum lebar.


"Dari bawah, kenapa aku di tinggal?" tanya balik sang suami.


"Aku pikir kamu sudah ke kamar," jawab Yasmine. "Lagian nggak bilang-bilang, ngumpet di mana sih?" tanyanya lagi. Lantas, wanita itupun berjalan ke arah meja rias.


Arya mengikuti langkah sang istri, ia lantas berdiri di belakang wanita cantik yang kini tengah memberi sesuatu ke wajah cantiknya.


Suaminya hanya membalas dengan gelengan kepala dan senyuman manis untuknya. Yasmine mengembuskan napas kasar, dan turut menggelengkan kepalanya. Sampai di mana ia selesai dengan ritualnya dan beranjak dari duduknya, lantas memutar tubuh ke ara sang suami.


"Untuk istri cantikku." begitu ujar Arya seraya menyodorkan paper bag ke arah Yasmine.


"Apa?" tanya Yasmine dengan senyum bahagia, padahal ia sudah bisa menebak, karena paper bag nya bernamakan toko baju yang seringkali ia kunjungi. Bahkan tadi pagi ia datangi bersama sang suami.


"Sesuatu untuk yang sepesial," ucap Arya.


Yasmine semakin melebarkan senyumnya, bahkan deretan giginya yang rapi saja sampai terlihat. Tangannya dengan senang menerima pemberian dari suaminya itu. Lantas di lihatnya isi paper bag itu, "Ya Allaah, cantik sekali," ucapnya saat mengambil sepotong gamis dari tempatnya.


"Secantik yang makai," puji Arya.


"Makasih, Mas," ucap Yasmine serius.


"Sama-sama, Istriku. Coba dong, pengin lihat kamu pakai itu," kata Arya.


Yasmine mengangguk dan membawa pakaian yang dibelikan oleh sang suami ke tempat ganti. Sedangkan Arya lantas duduk di kursi rias sang istri.


Bibir lelaki itu tersenyum lebar, saat melihat wanita yang statusnya adalah istrinya itu tersenyum bahagia. Dalam benaknya memang masih mengingat mendiang sang istri, namun tak di pungkiri kalau Yasmine juga sudah berhasil membuat hatinya merasa jatuh ke dalam cinta untuk ke dua kalinya.


'Besok In Syaa Allah, aku ke sana ya, tadi sore nggak jadi, soalnya hujan,' begitu ujar Arya dalam hati. Menyampaikan alasan kenapa belum kembali ziarah ke makan mendiang istri pertamanya. 'Cantik dan bawelnya seperti kamu, pun sama dengan cintanya,' sambungnya dalam hati. Ya, dia dan Yasmine memang belum jadi ke makan mendiang istrinya, karena sore tadi tiba-tiba saja hujan. Jadi, niat keduanya pun urung.


"Gimana, Mas?" pertanyaan Yasmine membuat Arya menoleh ke arah wanita yang kini sudah berganti pakaian.


"MaSyaa Allaah, cantik sekali," pujinya jujur.


"Makasih." Yasmine mendekat ke arah sang suami.


"Cantik sekali bajunya," begitu ujar Arya lagi. Yasmine lantas berhenti, mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku pikir, akunya, eh malah bajunya," begitu katanya dengan kesal.


Arya tertawa, 'lihat mirip seperti dirimu. Kalian adalah dua orang yang berbeda, dengan banyak kemiripan. Dan berhasil menguasai rasa cinta di dalam dada," lagi-lagi pria itu mengatakan sesuatu dalam hatinya.


"Malah tertawa," ucap Yasmine masih kesal.


Arya lantas beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah sang istri berdiri. "Cantik sekali, Istriku, Bidadari Surgaku, Kesayanganku, Cintaku, Hidupku, Segalanya bagiku," begitu ucapnya yang lalu membuat sang istri tersenyum lebar. "Gombal," kata wanita itu.


Arya memeluk tubuh mungil yang kini tengah memakai baju yang ia belikan, benar perkiraannya. Baju yang ia pilih begitu pas dan cocok di pakai Yasmine. Istrinya itu semakin terlihat menggemaskan baginya.


"Aku sayang kamu, dan semua yang aku katakan bukan gombal. Tapi doa, aamiin-kan dong," ucapnya sembari mencium puncak kepala sang istri.


"Aamiin," Yasmine menurut. "Aku juga sayang sama kamu, makasih sudah hadir dalam hidupku, memberi warna yang indah di hari-hari ku kemarin dan saat ini, semoga hari-hariku bersamamu akan tetap seperti ini, penuh warna," sambung Yasmine.


"Aamiin Ya Allaah," Arya semakin mengeratkan pelukannya.