
Malam harinya, Arya, Yasmine dan Taqa masih di rumah mewah keluarga Iyas Hermawan. Bahkan malam ini, anak pertama keluarga itu, serta sang istri ada di sana, demi untuk menemui tamu istimewa yang di bawa Yasmine.
Di taman, semua duduk di sana. Di atas tikar yang sudah di siapkan. Makan malam kali ini, ala-ala pedesaan. Makan di atas daun pisang dengan orang yang mengitari daun tersebut. Lauknya pun sederhana, tapi terasa begitu nikmat. Ada sambal, ikan asin, pete goreng, ayam goreng, tempe serta tahu goreng, lalapan, dan yang lainnya. Di padukan dengan nasi liwet yang baunya begitu harum dan menggugah selera.
"Mas Arya, mau tambah ikannya?" tanya Yasmine saat ikan asin di pinggir nasi milik Arya habis.
"Ikan dari mana, Yas. Ikan asin bilangnya," tegur Yahya.
"Boleh, Mbak Yas," kata Arya.
Yasmine mengambilkan dan menaruh di atas nasi milik lelaki itu. Lalu wanita yang duduk di tengah-tengah orangtuanya itu melirik tajam ke arah sang kakak. "Namanya tetap ikan Kak, ikan asin itu berawal dari ikan yang di asinkan," ucapnya.
"Sudah-sudah, kalian itu selalu saja seperti ini," kata ibu. "Maaf ya Nak Arya, nanti jangan kaget sama Yasmine yang sudah tua memang, tapi ampun deh, masih kayak anak kecil. Apalagi kalau sama Kakaknya," jelas wanita paruh baya itu pada sang calon menantu.
"Jangan salah Bu, Pak Arya jelas akan bahagia jika bersama Yayas, karena suasananya jadi hangat," bela Zahra yang duduk di sebelah sang suami.
"Kek, bukannya kalau lagi makan nggak boleh ngobrol ya," ucap bocah kecil dengan bisik-bisik yang duduk paling pinggir, di sebelah sang kakak, demi berhadapan dengan Arya.
Ayah Ilyas tersenyum lalu mengangguk, begitu juga Arya yang mendengarnya. Ketiga lelaki beda usia itu hanya menganggukkan kepalanya, seolah mengiyakan sesuatu yang penting.
Lantas, Arya menoleh lagi ke arah para perempuan. "Tapi, betul Bu. Apa yang di katakan Mbak Zahra," katanya.
"Sudah, makan. Males banget kalian kayak yang lagi promosikan aku," ujar Yasmine menyerah.
...----------------...
"Sini, cuci tangan dulu," Arya mengajak Taqa mencuci tangannya di kran yang ada di taman.
Bocah itu manut, ia mencuci tangannya dengan pria itu. Sementara yang lain tengah membereskan sisa-sisa makan di bantu mbak.
Setelahnya semua kembali duduk di taman tanpa makanan. Ngobrol bersama dengan menikmati malam yang indah ditemani suara gemericik air dari kolam ikan ayah.
Yasmine sibuk sekali dengan ponselnya, ia duduk dengan ibu dan sang kakak ipar. Sedangkan Arya, Taqa dan ayah Ilyas, mereka duduk jadi satu kelompok. Kenapa terpisah, karena obrolan mereka beda. Maklum, para lelaki sedang bicara serius.
"Apa yang membuat kamu mau sama adikku itu, Ar?" tanya Yahya serius. "Kita udah sering ngobrol kalau ketemu, tapi kali ini, aku perlu introgasi kamu. Pengin aja ngerasain nanya-nanya calon adik ipar, kayak gimana," sambungnya menjelaskan. Maklum, pernikahan pertama sang adik, mendadak dan tidak terencana sama sekali jadi, ya ... jangan salahkan Yahya jika kali ini dia ingin lebih tahu perasaan Arya, tentu saja, dia tidak ingin sang adik gagal untuk yang kedua kalinya.
Arya tersenyum, "rasa suka tidak bisa saya jelaskan, Mas. Tiba-tiba muncul begitu saja, hanya saja, suara mengajinya mampu membuat hati saya bergetar, menumbuhkan rasa yang sudah lama pergi bersama mendiang istri saya. Dan rasa itu sudah hadir dari dulu, Mas, saat Mbak Yasmine belum lama di sana, bahkan masih dalam keadaan hamil. Namun, untuk langsung mendekatkan niat, rasanya tidak pantas dan ... saya juga terus-menerus mempertimbangkan perasaan saya," jelas lelaki itu panjang lebar.
Kelopak mata Yahya melebar, "sebulan?" tanyanya. Arya mengangguk.
"Bukan apa sebenarnya, Ar. Aku hanya takut pernikahan kedua Yasmine juga gagal. Jadi, aku menanyakan ini padamu. Kamu tahu 'kan, dia tidak sendiri, dia ada anak yang pastinya harus kamu sayangi juga, didik dan memperlakukan dia selayaknya anak kamu. Kamu tidak hanya menikahi ibunya saja," sambung Yahya.
"Iya, Mas. Saya sudah siap untuk itu," jawab Arya.
Ayah Ilyas menepuk pundak sang putra. "Sayangnya dia ke adiknya itu lebih besar dari rasa sayangku, Ar. Jadi ya, gini," katanya.
"Tapi, Ayah Arya jadi 'kan menikah dengan ibu?" tanya bocah yang dari tadi hanya menoleh ke arah sana dan sini, melihat setiap mulut yang berbicara.
Tiga pria dewasa itu tersenyum lebar. "Jadi, Taqa ... tenang aja, minggu depan uwa sama kakek dan nenek ke rumah kamu, kita rencanakan pernikahan ibu kamu dan ayah Arya. ok!" Yahya mengacungkan jempolnya pada sang keponakan.
"Yeeeeyyyy, aku punya ayah!" teriak bocah itu dengan senangnya. Berdiri di depan para pria yang duduk sila saling berhadapan.
Tentu saja itu mengundang perhatian dari tiga perempuan yang duduk di atas tikar lain. "Apasih, Taqa heboh banget," gerutu Yasmine.
"Dia lagi bahagia Yas, kamu tidak lihat tuh," tunjuk ibu pada Arya dan Taqa yang tertawa lepas. "Mereka terlihat seperti ayah dan anak kandung. Taqa dengan Alfin saja tidak seperti itu," sambung ibu.
Netra Yasmine dan Zahra akhirnya melihat ke arah yang ibu tunjuk. Ya, di sana terlihat begitu indah. Yahya tersenyum lebar, begitu juga dengan Ayah. Sedangakan Arya tengah menggelitik perut Taqa yang membuat pria kecil itu tertawa lebar bahagia, dan berakhir dengan memeluk erat lelaki yang katanya akan menjadi ayahnya itu.
"Sebenarnya, ibu kasihan dengan Alfin," kata ibu lagi yang sukses membuat dua wanita muda itu menoleh kembali ke arahnya. "Tadi siang dia di cuekin Taqa. Kayaknya anak kamu masih marah dengannya," sambung ibu sembari memajukan dagunya ke arah sang putri.
"Wajar Bu, Taqa marah. Dia 'kan tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sekali bertemu, sang ayah akan memiliki anak dari istri lain. Nanti, lambat laun juga anak itu akan tahu, apalagi di tangan Arya, In Syaa Allaah lah, dia bisa mengatasi dan memberitahu pelan-pelan pada Taqa," kata Zahra.
"Aku jadi merasa bersalah kalau kayak gini, Bu," ucap Yasmine lesu.
"Ya, makannya kalau mau apa-apa di pikir dulu. Tapi, sudahlah sudah berlalu juga. Jalani saja apa yang ada, nanti kamu malah sakit kebanyakan mikir, nggak jadi nikah, terus Taqa kecewa lagi," ujar ibu dengan menggoda sang anak. "Enggak tahu apa, ibu 'kan pengin lihat wajah anak bungsu ibu kembali merona, jangan Zahra aja yang selalu merona pagi-pagi," sambung wanita itu menggodanya dua wanita di depannya.
"Ih, apa. Ibu mah, Zahra tidak pernah merona, biasa saja," katanya membela diri.
"Halah, bohong," sambung Yasmine yang ikut meledek sang kakak ipar.
Zahra tertawa, begitu juga Yasmine dan ibu. Dua kelompok bahagia dengan obrolan masing-masing. Membuat suasana malam di taman semakin hangat. Apalagi, setelah itu mereka kembali berkumpul di ruang keluarga dan berakhir dengan Arya yang menggendong Taqa pergi ke kamar tamu. Ya, akhirnya Taqa meminta tidur dengan calon ayahnya. Sampai membuat Yasmine mengerucutkan bibirnya panjang sekali.
"Manja banget, biasanya juga tidur sendiri," begitu kesal sang ibu satu anak itu, yang mana langsung membuat manusia lain yang ada di sana kembali tertawa, menertawakan dirinya yang seolah-olah tengah cemburu. Padahal, ia tengah benar-benar kesal dengan sikap sang anak.