Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 139 # Ungkapan (Bagian 1)


"Sebaiknya kamu pulang, Yas," ucap ibu Radiah pada sang anak yang kini duduk di sebelahnya. Yasmine baru saja keluar dengan sang suami dari ruangan Alifa dirawat.


"Tapi, bu," tolak Yasmine, sebenarnya ia sangat enggan untuk meninggalkan sang sahabat yang kini masih dalam keadaan koma.


"Yas, sekarang kamu sudah memiliki suami, jadi tidak bisa kamu di sini terus menemani Alifa. Lagipula, kasihan Taqa jika di rumah sakit terlalu lama, tidak baik untuk anak-anak, bukan," kata ibu Radiah lagi.


Yasmine menoleh ke arah sang suami yang kini duduk di sebelahnya, Arya tersenyum manis pada wanita yang tadi menangis sesenggukan itu.


Perempuan itu lantas sadar dan kembali menoleh ke arah sang ibu, "baiklah, Bu. Tapi, jangan lupa kabari aku setiap saat ya," katanya.


"Pasti Sayang," ibu Radiah menganggukkan kepalanya.


Yasmine lantas beranjak dari duduknya, "ayo, Mas, kita pulang," ajaknya pada sang suami.


Arya mengangguk dan turut beranjak dari duduknya, lelaki itu lantas pamitan pada ibu mertuanya. Kebetulan ibu lain, seperti ibu Sufi dan mama Widia dan para bapak-bapak dan Taqa tengah berada di ruangan bayi. Semuanya tengah menengok bayi kembar yang kata perawat keadaannya semakin baik.


"Maaf ya, Mas," ucap Yasmine pada Arya yang kini tengah menggandeng tangannya.


"Jangan kebanyakan minta maaf, nanti ayah jadi tidak enak," kata Arya tanpa menoleh ke arah sang istri.


Yasmine tersenyum seraya memandangi tangan yang kini digenggam erat lelaki tampan di sebelahnya, "Taqa nggak salah pilih Ayah," ucapnya lagi.


Arya hanya tersenyum, tak menoleh ataupun berhenti. Ia malah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang istri. Kini keduanya tengah berjalan dari ruangan Alifa ke ruangan bayi.


Begitu sampai, keduanya lantas pamit pada semua orang. Begitu juga dengan Taqa dan ibu Sufi. Hanya saja, Taqa tak menyalami satu orang yang tengah melihat dirinya dengan tatapan memelas.


"Taqa, salim dulu sama Ayah, Nak," kata Arya pada putra sambungnya itu, tentu saja dengan nada se-pelan mungkin, agar yang lain tak mendengar.


Taqa yang sudah siap untuk pergi lantas membalik badan dan menurut apa yang di katakan Arya. Anak tampan itu lantas mendekat ke arah Alfin dan menyalami serta mencium dengan takzim tangan dari seseorang yang adalah ayah kandungnya.


Tidak hanya Alfin, mama Widia dan yang lain sampai terharu melihatnya. Setelah itu, ketiganya benar-benar pergi. Taqa menggandeng kedua orangtuanya, dia berada di tengah.


Dari belakang, ketiganya benar-benar terlihat seperti satu keluarga bahagia. Bahkan anak itu terlihat seringkali mendongak dan terlihat seperti tengah bertanya yang berujung tawa.


Setelah lumayan jauh kepergian anak, menantu dan cucunya. Ibu Sufi lantas pergi dari sana. "Titip anak perempuan kami, ya Bu," begitu kata mama Widia padanya.


Ibu Sufi mengangguk, "pasti. Jangan khawatir, saya pamit dulu ya, in syaa Allaah, jika masih diberi kesempatan kita bisa bertemu kembali diwaktu yang baik berikutnya. Semoga Nak Alifa segera sadar, dan anak-anak cantiknya menjadi anak yang shalihah, dan anak yang sehat serta cerdas," ucapnya seraya berpelukan dengan mama Widia dan Zahra, kebetulan wanita cantik itu memang baru datang ke rumah sakit dengan sang suami. Keduanya menyempatkan pulang terlebih dulu, karena ada kepentingan.


Ibu Sufi lantas ke luar di antar Zahra, sampai di samping mobil sang putra. Setelahnya, mobil pergi meninggalkan area parkir rumah sakit. Wanita cantik yang baru saja mengantarkan mertua dari adik iparnya itu tersenyum, "bahagialah, Yas," katanya saat mobil Arya tak lagi terlihat. Ia lantas memutar tubuh dan kembali masuk, ia ingin menjenguk Alifa, karena memang belum bertemu. Tadi, saat ia akan masuk, di dalam masih ada Yasmine dan suaminya.


...----------------...


Taqa membaringkan kepalanya di atas pangkuan nenek Sufi, sembari di usap rambut hitamnya oleh perempuan paruh baya itu, si anak tampan tak berhenti bicara, sampai membuat Yasmine bolak-balik menoleh ke belakang.


"Jadi, Nenek belum punya cucu?" tanya Taqa.


"Ya sudah, cucu nenek ada dua, satu di simpan di surga sana sama ibunya, satu lagi ini," ibu Sufi memencet hidung mancung Taqa.


"Iya, dua untuk sekarang. Nanti, kalau ibunya Taqa sudah hamil lagi, berarti cucu nenek ada tiga. Taqa mau tidak punya adik?" tanya balik nenek Sufi.


"Mau," jawab bocah itu antusias. Lantas, bocah itupun duduk dan menatap dengan binar bahagia pada wanita paruh baya itu. "Aku mau adik perempuan yang cantik kayak ibu," sambung Taqa.


"Iya, betul. Nenek juga, nanti kita berdoa ya, minta sama Allaah, agar ibu di kasih anak perempuan yang cantik, ok," kata ibu Sufi.


Taqa mengangguk antusias, bahkan bocah itu langsung berdoa di saat itu juga. Sampai membuat Arya dan Yasmine saling pandang dan tersenyum lebar, bahkan perempuan itu sampai tertawa lirih dan menggelengkan kepalanya.


Hingga akhirnya, tak terasa mobil Arya sampai di depan rumahnya. Sengaja Yasmine meminta agar sampai di rumah mertuanya terlebih dulu, agar nanti ibu Sufi mudah untuk istirahat. Ia tak mau jika nanti, ibu mertuanya susah istirahat jika tidak dirumahnya sendiri.


Ke-empat manusia itu lantas turun dan duduk di ruang tamu. Benar saja, ibu Sufi lantas pamitan untuk membawa tubuhnya tiduran di kamar setelah duduk beberapa menit menemani menantu dan anaknya. Maklum saja, orang tua, jika duduk terlalu lama bukan hanya punggung yang sakit, kaki juga pasti akan pegal-pegal.


Kini di ruang tamu itu hanya ada Arya dan Yasmine, Taqa keluar rumah saat di panggil oleh teman ngajinya. Perempuan cantik yang masih menggunakan jilbab itu masih menatap layar ponselnya, ia masih membaca pesan dari sang ibu yang menanyakan bagaimana dirinya, sudah sampai atau belum.


Arya yang duduk disebelahnya hanya tersenyum saat mendapati wajah Yasmine yang tengah terlihat serius, sampai dia harus menyangga dagunya demi menatap wajah imut miliknya itu.


"Mas," ucap Yasmine terhenti saat mendapati Arya tengah menatapnya dengan senyuman, bahkan sampai membuat dia mengernyitkan dahi heran. "Kamu ngapain?" sambungnya bertanya.


"Lagi ngelihatin kamu, serius sekali," jawab Arya jujur.


"Oh, ini," Yasmine menunjukan ponselnya. "Ibu tanya, kita sudah sampai apa belum," sambungnya.


Arya mengangguk, namun masih dengan senyum dan tatapan aneh pada perempuan yang sudah halal baginya itu.


"Mas Arya kenapa?" tanya Yasmine lagi. Jujur saja, di tatap seperti itu membuat Yasmine jadi salah tingkah, rasanya ia ingin memukul gemas lengan suaminya itu.


"Lagi cari pahala," jawab Arya aneh.


"Mas, please deh, jangan buat aku salah tingkah," ujar Yasmine jujur.


Arya lantas duduk dengan tegak dan tertawa, "kamu se-menggemaskan ini ya, ternyata," ucapnya seraya menggenggam kembali tangan Yasmine setelah menyingkirkan ponsel yang ada di tangan sang istri.


"Baru tahu?" tanya balik Yasmine dengan nada menyebalkan. "Jangan-jangan, kamu juga baru tahu kalau aku cantik," sambungnya. Sengaja seperti itu agar bisa mengurangi rasa grogi di depan suaminya itu.


"Enggak, kalau cantik aku sudah tahu dari lama," jawab Arya. "Aku belum mengatakan ini 'kan?" sambung pria itu bertanya.


Yasmine lantas mengerutkan kening, "mengatakan apa?" tanyanya penasaran.


Wajah Arya berubah serius, lantas melepaskan tangan sang istri. Yasmine bahkan sampai tambah heran saat mendapati sang suami duduk dengan tegak dan menatapnya aneh.


Ia menelan ludah kasar, rona-ronanya Arya akan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan.


"Aku ...," ucapnya menggantung. Membuat Yasmine melihatnya dengan takut.