Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 076 # Rasa yang Terpendam


Dua lelaki yang tidak di perdulikan itu lantas ikut nimbrung di tempat di mana tiga wanita itu tengah membicarakan dunia mereka.


"Ngobrol apa sih, seneng banget kayaknya," ucap Yahya yang lantas duduk disebelah sang istri.


Ketiga wanita itu menggelengkan kepala mereka bersamaan. Terlebih Yasmine, ia langsung memajukan bibir bawahnya memandang dengan kesal kepada sang kakak yang kini terlihat bucin pada istrinya. Padahal dulu, kakaknya itu terlihat seperti jomblo sejati yang tak mengenal apa itu wanita selain dirinya.


"Tidak membicarakan apa-apa, Mas. Hanya memberitahu kalau toko langganan aku bagus-bagus bajunya, harganya juga terjangkau," jelas Zahra pada sang suami.


Yahya hanya ber-oh ria sembari menganggukkan kepalanya. "Pantas kita tidak di ajak ngobrol ya, Al," ucapnya pada sang adik ipar.


Alfin mengangguk. "Kamu duduk terus, tidak capek Ay?" tanyanya beralih melihat sang istri ke dua.


Yasmine menggeleng. "Enggak. Semakin ke sini, anak kita semakin mudah di bawa aktifitas sama ibunya," jawab perempuan itu dengan senang. "Oh, ya aku lupa. Aku tuh mau bilang minggu depan aku ada jadwal periksa, kamu mau nggak nemenin?" sambung Yasmine.


"Mau lah, ya 'kan Sayang?" Alfin mengalihkan pandangannya pada sang istri pertama.


Alifa tersenyum lebar. "Aku ikut?" dia bertanya balik. Bukan tanpa alasan, hanya saja dia tidak ingin mengganggu, secara minggu depan jelas sudah waktunya sang suami untuk madu-nya.


"Iya boleh lah, kalau Kak Zahra mau juga boleh banget loh," kata Yasmine.


Zahra dan Yahya saling menoleh, tatapan Zahra seolah memohon untuk di izinkan. Lantas Yahya mengangguk.


"Ok! Minggu depan kamu kabar-kabar ya, biar aku bisa lihat keponakan tersayang," kata Zahra dengan senangnya.


Yasmine tersenyum lebar. Lantas menoleh menatap sang suami, berharapnya sedikit saja Alfin tahu kalau dia juga ingin periksa hanya berdua. Namun, sudahlah yang terpenting baginya adalah suaminya bisa ikut.


Sebenarnya, bukan selama ini Alfin tidak ingin menemani. Namun, waktu tidak bisa ia ganggu gugat saat bersama Alifa. Ia tahu pasti perasaan Alifa, ia juga bahkan tahu kalau istri pertamanya itu jelas merasa cemburu akan kehamilan Yasmine. Tapi, apalah daya. Jadi, yang bisa dilakukan Alfin hanya memberi perhatian pada sang istri tercinta.


"Sudah-sudah, ramai sekali perasaan. Ngobrolin apa?" Ibu Radiah duduk di sebelah Alifa. Ia baru saja selesai ngobrol dengan para ibu-ibu dan bapak-bapak. Untuk apalagi kalau bukan untuk membicarakan tujuh bulanan yang akan di lakukan tiga bulan mendatang.


"Ini bu," Zahra yang menjawab. "Zahra punya toko langganan, namanya 'Toko Anugrah Muslimah' di sana menjual pakaian muslim-muslimah Bu. Bajunya keren-keren dan harganya juga terjangkau. Jadi Zahra sedang merekomendasikan itu pada kedua adik Zahra."


"Oh, iya. Itu juga ibu tahu, ibu sering loh belanja di sana," kata Ibu Radiah.


"Oh ya? Kapan bu?" Alis Yasmine berkerut.


"Waktu Ibu belanja buat Kakakmu, itu 'kan di sana," ucap ibu.


Ya sekarang ibu hamil itu ingat. Kalau sang ibu belanja baju untuk seserahan Kakaknya di sana. Di toko yang tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga. Tapi, untuk namanya memang ia lupa, karena jujur saja ia sendiri tak punya toko langganan. Hanya mengikuti setiap Ibu atau Alifa belanja.


Lantas semua orang pun berpamitan, sementara Yasmine ia menginap di rumah Umi dan Abi. Ia mewanti-wanti sang kakak agar jangan sampai lupa untuk ikut menemani dirinya ke jadwal periksa minggu depan. Sama halnya pada Alifa, ia juga mengingatkan hal yang sama.


"Yasmine sudah mau tidur?" tanya Umi saat dia dan sang menantu berjalan ke arah dalam.


Yasmine menoleh, lantas ia menggeleng. "Sebenarnya, Yayas belum mengantuk Mi. Yayas bisa tidur kalau sudah jam sepuluh ke sana," jawab sang menantu.


"Ya sudah, biar Umi temani," kata Umi.


"Makasih ya, Mi." Yasmine melingkarkan tangannya di lengan sang mertua.


"Sama-sama," Umi mengusap tangan menantunya dengan sayang. "Mau langsung ke kamar atau duduk dulu?" tanya Umi lagi.


"Pengin tiduran, Mi."


"Ayo," ajak Umi menuruti keinginan sang menantu yang kini tengah mengandung cucu pertamanya.


Kedua wanita itu lantas masuk ke kamar yang ditempati Yasmine. Setelah kasur di bersihkan oleh sang mertua, Yasmine lantas berdoa dan merebahkan badannya di sana. Di susul dengan Umi yang duduk sembari menyandarkan punggungnya.


"Umi," panggil Yasmine.


"Iya. Kenapa, Nak?" tanya Umi dengan mengusap kepala Yasmine.


"Manusiawi 'kan, kalau kadang aku merasakan lelah?" tanya Yasmine.


Umi mengangguk. "Manusiawi sekali. Tapi, jangan sampai rasa lelah-mu itu membuatmu berpikir ke arah yang tidak baik ya, Nak. Na'uzubilah," kata umi.


Seketika Yasmine terdiam. Sempat beberapa kali ia memikirkan sesuatu yang di larang oleh Allaah. Karena jujur saja, ia merasa lelah. Ia ingin menyudahi segalanya dan meninggalkan rasa cinta yang sudah hadir. Dalam hati perempuan yang sebentar lagi berusia 30 tahun itu selalu menyuruhnya untuk pergi dan membiarkan kembali cinta yang awalnya indah tanpa kehadirannya.


"Apa kamu pernah berpikiran tidak baik?" tanya Umi.


Perempuan itu masih diam, untuk mengatakan segalanya pada sang mertua jelas tidak mungkin. Lagipula, keinginannya tidak pernah ia bagi pada siapapun. Ia memendamnya sendirian. Cukup dalam doa, dia mencurahkan segala rasa yang ada di dalam dada.


"Nak Cantik. Umi tahu, kalau rumah tanggamu jelas lebih berat dari Umi, Mama dan Ibu. Tapi, kembali lagi ke kata sabar. Kamu harus menjalaninya," sambung Umi karena sang menantu diam saja.


Yasmine lantas duduk, ia menghadap sang mertua. "Umi, aku hanya bertanya. Tidak ada maksud apa-apa," ucapnya dengan senyum yang sangat lebar. Ia berharap dengan senyuman lebarnya sang mertua lupa degan apa yang ia pertanyakan masalah rasa lelah.


"Syukurlah, Nak. Umi hanya khawatir kalau kamu sampai ingin menyerah." Umi mengusap lembut pipi Yasmine. "Kamu harus sabar ya, Nak. Kamu tahu, kamu tidak hanya harus menjaga perasaan Alifa dan hati kamu. Tapi, kamu juga harus menjaga perasaan kedua orangtua kalian. Kamu tahu 'kan maksud Umi?" tanya Umi setelah sedikit memberi penjelasan.


Yasmine mengangguk. Ya, kini dia tahu. Jika saja ia sampai berantakan dengan Alifa maupun Alfin, jelas itu semua akan menghancurkan persahabatan yang sudah begitu lama terjalin antara orangtuanya dam orangtua Alifa.


'Aku pastikan, Mi. Jika aku ingin menyelesaikan segalanya. Tidak akan ada permasalahan di antara kita, aku akan menjaga perasaan semua orang," ucap Yasmine dalam hati sembari memeluk sang mertua.