Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 092 # Membujuk 1


"Mas," panggil Alifa saat sang suami akan pergi ke kantor. Suaminya baru saja pamitan padanya.


Alfin menoleh, "ya," jawabnya. Lelaki itu tersenyum pada sang istri.


"Nanti sore waktunya kamu pulang pada Yas, bukan?" tanyanya. Alfin mengangguk.


"Apa kamu keberatan?" tanya Alfin.


Alifa mengerutkan kening, "kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas? Aku justru mau bilang agar kamu tetap ke sana, di tolak atau tidaknya oleh Yasmine. Aku harap kamu bisa membujuknya untuk tetap ada di dalam hubungan ini," ucapnya.


Alfin mengembuskan napas kasar, "astaghfirullah, maaf Lif," ucapnya.


"Tidak apa, pergilah. Aku ber-do'a dari rumah agar semuanya kembali beres," ucap Alifa lagi.


"Aamiin." Alfin mengusap kepala sang istri, lalu setelahnya ia pergi dari halaman rumah dengan mobilnya. Meninggalkan sang istri yang masih menatap kepergian mobil yang membawa suaminya.


Wanita itu membasahi bibirnya, menarik napas kasar dan mengembuskan nya perlahan. Ia berharap ia akan mendapat kabar baik, bahwasanya sahabatnya itu akan tetap mempertahankan rumah tangga mereka.


"Jika saja aku tahu, kalau kamu akan mendengar apa yang aku ucapkan, aku tidak akan bertanya pada Mas Alfin, Yas," ucapnya pada jalan yang kosong.


"Tolong, Yas. Dengan tidak memutus hubungan status kita, aku akan merasa lega. Namun, jika kamu tetap kukuh dengan keinginan kamu, aku jelas tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," sambung wanita yang masih merasa sesal dalam dadanya.


Bagiamana tidak sesak, jika ia melihat sang suami terlihat begitu merasa bersalah. Semalam, ia tahu jika Alfin tidak bisa tidur, bahkan suaminya itu bolak-balik kamar dan balkon, salat malam dan berdoa begitu lama. Dan pagi ini, ia masih melihat wajah sang suami yang penuh dengan kekhawatiran.


Setelah lumayan lama wanita cantik itu berdiri di sana, lantas ia pun memutuskan untuk memutar tumit dan masuk ke dalam rumah.


...🪴🪴🪴🪴🪴...


Hingga sorenya, seusai bekerja, Alfin langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sang mertua. Karena sang istri masih ada di sana. Bahkan mbak Fifi pun hari ini sudah ikut ke rumah ayah Ilyas. Dan itu semua semakin membuat Alfin khawatir. Ia begitu takut jika Yasmine tetap pada pendiriannya untuk berpisah.


Begitu mobil sampai di depan rumah mewah sang mertua, Alfin lantas masuk. Ia langsung di sambut hangat seperti biasa oleh ayah dan ibu, yang kebetulan tengah ngeteh sore di ruang keluarga. Sedangkan istrinya tak terlihat.


"Yasmine ada di kamar, Al," ucap Ayah saat Alfin menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari keberadaan sang istri.


"Datangi saja, Nak. Bicarakan lah lagi," ucap Ibu.


Lelaki yang seharian ini merasa begitu lama menunggu sore akhirnya dengan terburu-buru menuju ke kamar sang istri. Tentunya ia pamit terlebih dulu pada dua paruh baya yang tengah duduk manis di sana.


Dengan langkah yang lebar, lelaki itu berjalan menaiki anak tangga. Lantas, begitu sampai di depan kamar sang istri, ia bisa mendengar suara Yasmine yang tengah mengaji. Lalu, dengan perlahan Alfin membuka pintu kayu itu.


Terkecuali saat dia bertemu dengan cinta pertamanya, namun dengan status yang berbeda. Jelas dia akan sekuat tenaga menghapusnya. Tapi, ini ... cinta pertamanya sudah ada di depan mata, di dalam sebuah ikatan cinta, bagaimana mungkin dia akan dengan mudah melepasnya? Tidak. Tidak akan.


Selesai sudah Yasmine mengaji, lantas wanita itupun bangun guna menaruh Al-Qur'an nya di atas meja. Ia pun kembali ke tempat sajadah untuk melipat dan membereskannya. Namun, baru saja ia memutar tumit, pandangannya tertuju pada lelaki yang ada di sana. Memandangnya dengan wajah sendu.


"Aku masih ingin sendiri," ucap Yasmine.


Alfin lantas berdiri, ia mendekat dan melihat wajah cantik istrinya. Jujur saja, saat hamil wajah Yasmine semakin terlihat cantik. "Tapi, aku ingin sama kamu. Aku mau minta maaf, tolong maafkan aku," ucap lelaki itu.


"Maaf untuk apa?" tanya Yasmine, masih dengan raut datar. Namun percayalah dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Maaf karena selama ini, aku kurang memperhatikan dirimu. Maaf, karena aku tak bisa membuatmu bahagia. Aku nggak mau membuat pembelaan kalau selama ini aku merasa sudah bersikap adil, kalau pada kenyataannya kamu tidak merasakannya. Tolong Ayang, beri aku kesempatan sekali lagi, untuk bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah aku buat," ucap lelaki itu.


"Aku tahu, rasa sakit di hati kamu jelas mendorongmu untuk mengusirku. Tapi aku mohon, dengarkan sedikit bisikan dari cintamu, cintamu pasti mengatakan bukan, kalau dia masih mencintaiku," sambung Alfin.


Yasmine tertawa, "kenapa aku harus mendengarkan cinta, jika pada kenyataannya cinta begitu menyakitkan," katanya.


Alfin memejamkan matanya barang sebentar, lalu mengembuskan napasnya kasar. "Apa kamu tidak percaya dengan apa yang pernah aku katakan. Ay, aku sangat mencintaimu, dan sudah pernah mengatakan ini. Aku tidak bisa memilih di antara kamu dan dia," ucap Alfin.


"Tolong mengertilah, kalau aku tidak menjawab memilih dia, tapi aku hanya mengatakan akan selalu bersamanya, yang tentu saja bersamamu juga. Terkecuali, maut yang memisahkan," sambung Alfin.


Yasmine menoleh ke arah lain, ia tak ingin menatap wajah memelas suaminya itu. Entah kenapa semakin hari, rasanya ia semakin ingin sendiri. "Kalau aku harus mengerti, kenapa kamu tidak mau mengerti?" tanyanya. Ia kembali melihat wajah sang suami.


"Aku juga akan mengerti kamu, tapi tidak untuk keinginan kamu. Tolong ... kamu boleh minta yang lain, asal jangan yang satu itu," ucap Alfin dengan memegang kedua tangan sang istri.


"Tapi, aku hanya ingin itu. Kamu tahu, aku ingin kembali melihat kamu dan Lifa bahagia kembali, tidak lagi ada Lifa yang menangis karena takut rasa cintamu beralih ke diriku semua."


Alfin terdiam di tempatnya, menatap wajah manis Yasmine. Memperhatikan bibir yang jika di bawa bicara semakin terlihat lucu. Sayangnya, keadaan sedang tidak bagus untuk mengajak bercanda sang istri.


"Kamu mau aku melakukan apa, agar kamu melupakan keinginan aneh itu?" tanya Alfin.


"Aku ingin kamu menjauh dariku," kata Yasmine.


"Jangan itu, Ay. Aku tidak bisa."


"Kalau gitu, biarkan aku yang menjauh," ujar Yasmine.


Alfin kembali mengembuskan napas kasar. Ia merasa lelah. Lantas, lelaki itu duduk di ranjang dan tak menjawab apapun. Memperhatikan sang istri yang masih terdiam di tempatnya. Melihat ke arah luar dengan tangan yang di silangkan di dada. Percayalah saat tangannya seperti itu, perutnya sudah terlihat dan itu membuat sedikit senyum terbit di bibir kering Alfin.