Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 136 # Dejavu


Wajahnya tetap saja cantik, kendati tak ada make-up tebal yang menempel, hanya ada sedikit krim wajah dan sedikit pelembab bibir agar tak terlalu pucat. Wanita berstatus janda satu anak itu tengah berdiri di depan jendela, dadanya tengah was-was dan merasa takut.


Takut akan kejadian yang lalu terulang kembali. Kendati doa dan harapan selalu ia panjatkan, namun, tak bisa dipungkiri kalau rasa takut itu tetap saja ada. Apalagi, saat mengingat kata-kata bocah kecil yang pernah mengatakan sesuatu padanya waktu dulu.



Ingin sekali ia singkap gorden penutup kaca jendela di kamarnya, agar bisa memastikan kedatangan seseorang yang akan menghalalkannya, namun, ia jadi merasa dejavu.


Dia putar tumitnya dan duduk dengan risau di atas ranjang, ia r e m a s- r e m a s kedua tangannya demi untuk menghilangkan rasa yang melanda hatinya.


Ya, kini sudah sebulan saja berlalu. Dan hari ini, Yasmine tengah menunggu dengan rasa khawatir kedatangan Arya dan sang ibu kerumahnya. Kendati ibu dan ayah sudah bolak-balik mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, namun pada kenyataannya, rasa di dalam dadanya tak bisa di ajak kompromi.


Pintu kamarnya terbuka, membuatnya menoleh ke arah seseorang yang masuk dengan riang dan senyum yang begitu mengembang. Seseorang itu mendekat ke arah Yasmine setelah menutup pintu. "Ibu," panggilnya.


Ya, dia adalah Taqa. Anak tampan yang kini sudah berpakaian rapi demi untuk menyaksikan ayah barunya menghalalkan sang ibu. Taqa duduk di sebelah Yasmine, yang mana langsung mendapat pelukan hangat dari ibunya itu.


"Apa, ayah Arya belum datang?" tanya Yasmine.


"Belum, kata nenek sebentar lagi. Soalnya ayah pergi dengan jalan kaki," begitu jelas anak tampan itu.


Yasmine mengangguk, "apa, Taqa bahagia?" tanyanya lagi.


"Bahagia dong, 'kan Taqa mau punya ayah," jawab bocah itu dengan sejujur-jujurnya.


"Semoga ijab qobul nya lancar ya, Qa. Biar risau yang ibu rasakan hilang," ucap Yasmine yang seraya dengan gumaman. Matanya tetap tertuju pada jendela yang tertutup gorden putih transparan.


"Taqa ke bawah lagi ya, Bu," ucap bocah itu sembari melepaskan diri dari dekapan sang ibu.


Yasmine mengangguk dan tersenyum. "Jangan lari-lari turun tangganya, ibu nggak mau kamu kenapa-napa," ucapnya.


"Ok!" jawab Taqa sembari berlalu, ia keluar dan langsung menutup pintu kamar.


Wanita cantik itu kembali sendirian, di bawah ibu tentu saja menemui para undangan yang memang hanya beberapa orang saja. Ditambah ada anak-anak, jadi, tidak mungkin ditinggal begitu saja. Maklum, kadang anak-anak tanpa pengawasan suka seenaknya dan tak terkendali.


Apalagi ayah, ia pastinya tengah ngobrol dengan pak penghulu yang Yasmine tahu kalau beliau sudah datang, lantaran yang menikah hari ini katanya tak terlalu banyak.


Sedangkan Yahya dan Zahra sibuk mengurus segala keperluan. Karena sesederhana apapun acara, jelas akan membuat orang-orang sibuk.


Sampai beberapa saat kemudian, pintu kamar Yasmine kembali dibuka dari luar. Nampaklah wanita cantik yang baru datang tadi pagi-pagi sekali.


"Assalamu'alaikum, adikku," begitu sapa Zahra saat baru menutup pintu dan mendekat ke arah Yasmine.


"Wa'alaikumsallam, Kak. Kenapa baru ke sini?" tanya Yasmine kesal.


Zahra sedikit tertawa, lantas duduk di sebelah sang adik ipar. "Kenapa, deg-degan ya?" tanyanya.


Yasmine mengangguk, "rasanya sama seperti saat dulu," jawabnya lemah.


"Berdoa, semoga kali ini lancar dan tidak ada halangan apapun," ucap Zahra sembari menggenggam kedua tangan Yasmine. "Kamu tidak mau ganti baju, mempercantik diri?" tanya wanita itu lagi.


Yasmine menggeleng, "enggak mau Kak, aku maunya ijab qabul lancar dulu. Masalah cantik gampang, nanti saja kalau sudah aman. Karena, jujur saja, sekarang ini dadaku masih sesak, perutku rasanya seperti ...," ucapnya menggantung. "Pokoknya, tidak bisa aku jelaskan lewat kata-kata, Kak," sambungnya.


Zahra mengangguk, lantas memeluk tubuh sang adik iparnya itu. Kendati ia tak tahu, bagaimana waktu dulu saat Yasmine menikah. Namun, ia tahu pasti kalau sang adik ipar kini tengah merasa takut dan khawatir yang berlebihan.


Mendengar ceritanya saja, Zahra tak bisa membayangkan. Apalagi, jika saat itu ia ada di sana. Jelas Zahra tak akan bisa mengatakan apapun, walaupun hanya sebatas memberi kata sabar.


"Kamu jangan lupa tarik napas dan keluarkan dengan membaca istighfar, agar sedikit mengurangi rasa risau di dada kamu," kata Zahra lagi.


Yasmine menuruti apa yang dikatakan sang kakak ipar, bahkan Zahra ikut mempraktekkan apa yang ia perintahkan.


Sampai sedikit merasa lega, Yasmine tersenyum dan berterimakasih pada sang kakak ipar yang sudah sangat baik padanya.


"Sedikit lega, Kak. Alhamdulillah," ucap Yasmine.


Zahra tersenyum ke arah Yasmine yang kini sudah mengurai diri dari dekapannya.


"Bagaimana di bawah, Kak, aman 'kan?" tanya Yasmine.


"Aman, tenang saja. Ada Zahra dan Mas Yahya, semua jelas beres," begitu jawab Zahra dengan senyum yang lebar, sampai menampakan deretan giginya yang rapi.


"Makasih ya, kalian selalu baik," katanya tulus.


"Kamu kayak sama siapa saja," Zahra mencolek pipi Yasmine yang mulus. Zahra bahkan membenarkan jilbab sang adik ipar agar sedikit lebih rapi lagi.


"Kamu tidak mau ganti, gamis?" tanya Zahra lagi saat mendapati sang adik ipar masih memakai atasan dan bawahan. Seperti bukan mempelai wanita yang akan menikah.


"Nanti saja, Kak. Kalau sudah terdengar kata sah, dan saat itu, aku akan ganti gamis juga jilbab yang diberikan oleh ibu Sufi, dan turun," begitu jawab Yasmine.


"Iya, terserah kamu saja," Zahra menurut.


Sampai beberapa saat kemudian, setelah Zahra dan Yasmine ngobrol ringan sembari menunggu kedatangan Arya. Ponsel bergetar di atas nakas, membuat kedua wanita itu menoleh ke sumber suara.


"Ada telepon, Yas," ucap Zahra.


"Iya, coba aku lihat." Yasmine beranjak dari duduknya, dan berjalan ke arah ponselnya berada.


Dahinya berkerut, nama yang tertera di layar ponselnya membuat dia heran. Namun, tetap saja dia jawab panggilan itu.


Dengan menelan ludah kasar, ia menggulir tombol hijau ke atas. "Assalamu'alaikum," sapa nya pada seseorang yang ada di seberang sana.


"Siapa, Yas?" tanya Zahra dari tempat duduknya. Yasmine menoleh dan mengeluarkan suara lirih. "Mama Widia," begitu ucapnya. Kakak iparnya lantas mengangguk.


"Wa'alaikumsallam, Yas ...," ucap mama Widia di seberang sana terdengar lirih dan terputus-putus.


"Ada apa, Ma?" tanya Yasmine yang lantas kembali merasa khawatir.


"Alifa, Yas," ucap mama lagi. "Dia baru saja operasi caesar, tapi sekarang dia belum sadarkan diri, Yas," sambung mama Widia lagi yang lantas membuat Yasmine diam membeku, tak mampu menjawab apapun. Sampai suara mama kembali terdengar. "Lifa masih di ICU, Yas, dia koma."


"Innalilahi," ucap Yasmine. Ia lantas memutar tubuh dan keluar kamar dengan air mata yang menetes, meninggalkan Zahra yang masih di kamarnya dengan bingung.


"Yas, ada apa?" tanya Zahra sembari beranjak dan mengejar langkah Yasmine yang sangat lebar.


"Yas, tunggu!" panggil Zahra lagi.


Kini Yasmine sudah berdiri di depan orang-orang, kebetulan Arya dan ibunya pun juga baru sampai. Mereka tengah berhadapan dengan pak penghulu, baru saja sapa-menyapa.


Ibu Radiah dan semua yang ada mengerutkan kening, mendapati Yasmine yang terlihat memprihatinkan, wajahnya penuh dengan air mata dan ponsel yang masih ada di genggamannya.


"Bu," ucapnya tertahan.