
Zahra dan Yasmine saling pandang. "Astaghfirullah, Taqa, sekarang kamu sudah mulai bentak ibu?" tanya Yasmine.
Taqa lari mendekat ke arah sang ibu sembari menggelengkan kepalanya. "Bukan ibu, ini bukan bentak, tapi ini permohonan Taqa. Aku juga mau ayah," ucap bocah kecil itu.
Yasmine tertawa, "tadi bilang nggak mau ketemu, sekarang mau ayah. Ya sudah sana sama Uwa minta di antar ke sana," jawab Yasmine.
Tiga manusia lain yang ada di gawang pintu mendesah kecewa, padahal bukan itu yang mereka inginkan, tapi Yasmin malah tak mengerti apa maksud mereka memprovokasi Taqa untuk meminta ayah baru. Bahkan ibu sampai menepuk jidatnya kesal.
"Bukan ayah Alfin, Bu," kata sang anak lagi.
"Lah, terus siapa? Ayah kamu Alfin aja ya, ibu nggak sama yang lain," jawaban Yasmine membuat Zahra tersenyum sembari menepuk lengan sang adik ipar. "Dia mana tahu apa yang kamu katakan, Yas," ucap sang kakak ipar.
"Ck, Ibu kata Uwa aku boleh punya ayah baru. Aku mau itu," kata Taqa jujur.
Yasmine melongo di tempatnya, lantas ia kembali merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Ia menjawab pelan permintaan sang anak. "Ya, nanti kita beli ya di supermarket siapa tahu ada," katanya tak pasti.
Tapi siapa sangka, jawaban Yasmine membuat Taqa bersorak bahagia. Ia bahkan memutar badannya sambil bilang hore karena akan mendapatkan seorang ayah. Yang mana mengundang tawa semua orang, tapi tidak dengan Yasmine.
Karena pada kenyataannya, besoknya saat mereka berdua pulang Taqa masih terus saja menagih janji sang ibu. Apalagi sebelum naik ke mobil Taqa sudah ngobrol dulu dengan dua uwa dan dua paruh baya yang entah memberi wejangan apa pada bocah kecil itu. Yang jelas, Taqa semakin gencar meminta.
Padahal selama ini, Taqa selalu menjaga hati sang ibu. Tidak pernah meminta apapun, apalagi meminta ayah. Sampai di rumah, bahkan anak kecil itu masih ngambek lantaran belum di belikan nya seorang ayah. Ampun, Yasmine benar-benar pusing sekarang.
"Taqa, ibu mau ngajar ngaji, ayo kita berangkat," ajak Yasmine yang sudah rapi di depan kamar anaknya.
Taqa keluar sudah rapi dengan pakaiannya, lantas dia pun ikut pergi bersama sang ibu.
"Taqa masih marah sama ibu?" tanya Yasmine.
Taqa yang berjalan di sebelah sang ibu mendongak lantas menggeleng, "kenapa masih diam?" tanya Yasmine lagi.
Anak itu masih setia dengan gelengan kepalanya. Hingga sampai di mushala dan keduanya terpisah. Yasmine langsung masuk ke tempatnya mengajar, begitu juga Taqa yang langsung masuk ke kelas pak Arya.
Di dalam pelajaran Taqa lebih banyak diam, sampai dia didatangi pak Arya yang merasa penasaran. Biasanya anak itu akan aktif sekali dalam belajar, namun tidak dengan kali ini.
"Taqa ada apa?" tanya pak Arya saat baru duduk di depan meja Taqa.
"Enggak ada apa-apa, Pak," jawab bocah itu. Akhirnya, pak Arya mengajar sembari duduk di sebelah Taqa.
"Taqa ayo pulang," ajak pak Arya.
"Pak Arya, Taqa belum mau pulang," katanya. "Aku mau nagih janji ibu, kata ibu mau belikan aku ayah," sambung Taqa.
"Beli ayah itu di mana, Taqa?" tanya Arya dengan senyum yang lebar setelahnya. "Ayah bukan di beli, Nak. Tapi di dapat, setelah .. ibu Taqa menikah," sambung Arya.
"Gitu ya? Berarti ibu bohong," ucap Taqa yang kini mulai menunjukan wajahnya pada pak gurunya.
Arya mengangguk, lelaki 40 tahun itu tersenyum ke arah murid kesayangannya. "Jadi, kalau aku mau ayah, ibu harus menikah?" tanya sang murid lagi.
Arya mengangguk. "Sama siapa?" tanya Taqa lagi.
"Sama seorang lelaki yang baik," jawab Arya dengan sabar.
Lelaki dewasa berstatus duda itu jelas sudah tahu bagaimana kehidupan Yasmine sebelumnya. Selain lama mereka sudah tinggal di dalam satu lingkungan, dulu saat masih bersama Gina, dia juga tahu dari dia, tahu tentang kehidupan rumah tangga Yasmine sebelumnya.
"Aku tahu, siapa laki-laki yang baik," kata Taqa membuat Arya penasaran. "Siapa?" tanya pria itu.
"Pak Arya. Selama ini, Pak Arya baik sama aku, sama ibu. Kadang ibu nya Pak Arya juga kasih makanan ke ibu, berarti pas," kata Taqa yang kini sudah menampilkan wajah bahagianya. Tak lagi sesedih tadi.
Pak Arya tertawa. "Kamu ada-ada saja, sudah, sekarang pulang. Nggak boleh marah dan kesal sama ibu. Masih ingat 'kan apa yang pernah Bapak bilang?" tanyanya.
"Ingat, surga ada di telapak kaki ibu. Dan anak laki-laki harus menyayangi ibunya sampai kapanpun."
"Pintar, ayo sekarang pulang," ajak Arya lagi.
"Tapi, Pak Arya mau 'kan?" tanya anak kecil itu lagi. "Kalau nggak mau aku nggak mau pulang," ancam anak kecil itu.
Arya tertawa lantas mengangguk. Sontak saja Taqa langsung melebarkan kelopak matanya, bahagia anak itu sampai keluar sembari teriak-teriak. "Ibu ... aku akan punya ayah!"
"Aku dapat Ayah!"
Teriakan itu membuat ustazah Ami dan Yasmine yang masih duduk ngobrol lantas menoleh dengan alis mengerut heran.