
Duduknya berjauhan, bahkan tak saling melihat. Satu duduk di depan mushala, satunya lagi duduk di pinggiran aula.
"Saya nggak bisa masak loh, Mas Arya," ucapnya tiba-tiba saat sedari tadi keduanya duduk tanpa saling bicara.
"Saya 'kan nggak cari tukang masak, Mbak Yas," kata Arya sembari tersenyum.
"Saya juga, pernah di tinggal mati calo suami saya, Mas. Yang berujung ...," kata Yasmine lagi dengan menggantungkan kalimatnya.
"Iya, saya tahu. Mas Yahya pernah cerita," kata Arya serius. "Saya juga pernah ditinggal pergi oleh orang yang saya cintai, bersama dengan anak yang kami nanti-nantikan. Makannya saya lama dalam kesendirian, Mbak Yas. Tapi, entah kenapa ... setelah mendengar suara ngaji Mbak Yas, saya merasa debar yang pernah saya rasakan pada mendiang istri saya, kembali saya rasakan," jujur Arya.
"Tapi, saya janda anak--"
"Satu dan kamu jelas tidak ingin aku hanya menyayangimu saja bukan. Saya jelas akan menyayangi Taqa seperti saya menyayangi ibu saya, pun dengan mencintai kamu, jika nanti sudah jelas kita halal," Arya langsung memotong apa yang akan di ucapkan Yasmine.
"Jadi, aku tetap menjadi istri ke dua?" tanya Yasmine dengan senyum yang jelas Arya tak melihatnya.
"Jika sudah mengatakan seperti itu, berarti kamu mau menerima lamaran saya?" tanya Arya dengan rasa penasaran.
"In Syaa Allah, tergantung juga di ayah dan ibu. Kalau Mas Arya bisa, kita bisa ke sana minggu depan," jawab Yasmine.
"Allhamdulillah," ucap Arya seraya mengusap dua telapak tangan yang menyatu ke wajahnya. "Semoga lancar dan di terima oleh pak Ilyas dan ibu Radiah," sambung Arya.
Keduanya lantas mengakhiri obrolan karena merasa sudah selesai. Lantas Yasmine mendekati Taqa yang tengah ditemani oleh ustadzah Ami. Lalu, ketiganya pun pulang dengan perasaan bahagia.
Tak lupa ledekan dari ustazah Ami yang selalu di ucapkan di setiap keki mereka melangkah.
"Udah sih, Ustadzah. Kamu mah Ustazah tukang ngeledek," kesal Yasmine.
"Ibu sama Ustazah Ami kayak anak kecil," kata Taqa yang jalan di tengah dua perempuan berusia sama.
Kedua wanita itu lantas tertawa, sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Yasmine dan ustazah Ami mampir ke sana. Mereka kini duduk di teras, memperhatikan taman yang tak luas.
"Kalau kamu sudah mantap, aku juga akan menerima khitbah dari ustaz Rizal," ucap ustazah Ami tiba-tiba.
"Seriusan?" tanya Yasmine tak percaya.
"Iya, tapi aku harus mau ikut ke desanya. Soalnya di sana ada pesantren tempat beliau mengajar," kata ustazah Ami lagi.
"Kenapa kamu harus nunggu aku?" tanya Yasmine.
"Karena aku nggak mau kamu sendirian di sini, aku anggap kamu kayak saudara Yas, aku nggak bisa begitu saja membiarkan kamu di sini tanpa seorang teman," kata ustazah muda yang memang belum kondang, masih dalam batas kecamatan saja.
Perempuan beranak satu itu lantas memeluk seseorang yang sudah menanaminya selama di sana. Tidak ada teman yang sebaik Ami, menurutnya. Rela menunda demi menemani dirinya. Karena dia yakin, jika sudah menikah mereka jelas akan sibuk sendiri-sendiri, tidak akan ada waktu yang banyak lagi untuk bersama.
...----------------...
"Bu, kita ke rumah nenek lagi?" tanya Taqa saat malam ini ia ditemani sebelum tidur.
Anak itu menggeleng lantas menarik selimut sampai ke dadanya. Sedangkan Yasmine, ia tengah berbaring di sebelah sang anak tanpa selimut.
"Kamu nggak mau ikut?" tanya Yasmine lagi.
"Aku nggak mau ketemu ayah," kata sang anak pelan.
"Nggak boleh gitu loh, Taqa. Karena mau seperti apapun. Ayah Alfin tetap ayah kamu," ucap Yasmine.
"Iya, aku tahu," kata sang anak. "Apa nanti, kalau aku ke sana pasti ketemu sama ayah lagi?" tanyanya lagi.
"Enggak tahu, belum pasti. Oh ya, Nak. Memangnya kamu mau, kalau kamu punya ayah kayak Pak Arya?" tanya Yasmine lagi.
"Mau," jawab anak itu dengan semangat. Bahkan kini bocah itu lantas duduk. "Ibu mau menikah dengan Pak arya?" tanya Taqa dengan sangat antusias. Bahkan wajahnya terlihat begitu bahagia.
Yasmine tersenyum, lalu mengangguk. "Ya Allaah, alhamdulillah ... akhirnya aku akan punya ayah baru," ucap bocah kecil itu penuh syukur. Sampai membuat sang ibu beranjak duduk dan memeluk sang putra.
"Tapi, janji ya ... walaupun ada ayah baru, Taqa harus tetap sayang sama ayah Alfin. Karena mau seperti apapun, ayah Taqa tetap ayah Alfin. Ok," ingat Yasmine pada anaknya.
Taqa tak mengangguk apalagi menjawab, bocah itu masih tersenyum dalam dekapan sang ibu. Ia memang tidak kekurangan kasih sayang, karena ibu dan nenek serta uwa juga orang-orang disekitarnya sangat baik padanya. Tapi, ada kalanya dia juga ingin ber-manja-manja dengan sosok seorang ayah.
Sampai di mana seminggu kemudian, saat waktu yang di tunggu-tunggu Arya tiba. Pagi-pagi sekali ia sudah datang dengan sebuah mobil di depan pagar rumah Yasmine. Pakaiannya sudah rapi, jika biasanya ia hanya akan mengenakan koko dan sarung, kali ini ia memakai celana dan atasan yang membuat lelaki itu terlihat lebih tampan dan lebih muda lagi.
Yasmine yang keluar dengan Taqa saja sedikit pangling, sampai terbengong di tempatnya untuk waktu beberapa detik. Hingga akhirnya, benar saja, mereka pergi dengan dua mobil.
Yasmine sendirian, dan Taqa dengan Arya. Sungguh aneh, ini pertama kalinya sang anak pergi dengan orang lain, karena bisanya mereka berdua hanya akan ngobrol di tempat ngaji, atau kadang di market milik lelaki itu.
Perjalanan yang lumayan itu akhirnya sampai, Arya di buat terkejut saat mendapati rumah orang tua Yasmine yang begitu mewah. "Ini rumah kakek Taqa?" tanya pak Arya saat mobilnya masuk dan parkir di sebelah mobil Yasmine.
"Iya, ayo Pak Arya kita turun. Aku nanti mau kasih tahu ayah Alfin, kalau aku sudah punya ayah baru," ujar bocah itu yang selalu semangat. Bahkan di dalam mobil terus saja berbicara dan mengajak ngobrol calon ayah barunya itu.
Namun tidak dengan Yasmine, wanita itu masih terdiam di dalam mobil saat ada mobil seseorang yang sudah terparkir di sebelah kiri mobilnya terlebih dulu.
Dalam hati wanita itu bertanya-tanya, kenapa di saat seperti ini harus ada kebetulan untuk kedua kalinya.
Wanita itu mengembuskan napas kasar, lantas mengucap istighfar dan membuka pintu mobil. Karena sang anak sudah menggedor-gedor kaca mobilnya menyuruh agar dia keluar.
"Ayo," ajak Yasmine saat ia baru saja turun.
"Ini rumah Pak Ilyas, Mbak Yas?" tanya pak Arya.
"Iya," jawabnya lesu.
"Mari silakan masuk." ajak Yasmine sembari menggandeng tangan Taqa.
Karena sebenarnya ini adalah surprise, dia tidak bilang pada ibu dan ayahnya kalau dirinya akan datang dengan seorang lelaki. Namun, sepertinya bukan hanya orangtuanya yang terkejut, tapi orang lain juga.