
Di bawah, di ruangan keluarga semua orang kumpul. Bahkan mama Widia dan papa Zaenal pun turut hadir di sana. Siapa lagi yang memanggil kalau bukan Abi dan Umi.
Alifa duduk di sebelah sang mama, keduanya saling menggenggam. Bahkan sesekali mama Widia itu melihat ke arah sang anak. "Maaf, Ma," ucap Alifa dengan bisik-bisik. "Gara-gara aku, semuanya jadi seperti ini."
"Semua memang sudah akan seperti ini, Lif. Kamu nggak boleh merasa bersalah seperti ini," ucap mama Widia tak kalah bisik-bisik.
"Al, Lif," panggil Abi. Keduanya menoleh secara bersamaan. Bahkan semua orang pun melihat ke arah Abi.
Namun saat Abi akan membuka suara, Umi terlihat turun dari lantai atas. Jadi, Abi mengurungkan niatnya untuk berbicara. Ia akan menunggu sang istri terlebih dulu.
Alfin degan sigap bangun dan membantu Uminya menuruni tangga. "Bagaimana, Mi?" tanyanya saat tangan Umi berpegangan pada tangannya.
"Dia tidak bisa bicara sekarang, lagian seperti nya susah untuk di bujuk dan semua itu karena kamu," ucapan Umi membuat Alfin menatap melihat wajah Uminya dari samping.
"Kenapa bisa?" tanya Alfin lagi, ia penasaran.
Namun, sang Umi keburu duduk di sebelah sang besan, ibu Radiah. Jadi, Alfin hanya bisa pasrah saat di salahkan oleh sang Umi, tanpa ia tahu kesalahannya.
"Silakan di lanjut, Bi," kata Umi.
"Baik, cukup ya kita ngobrol nya. Sekarang mari kita bicarakan masalah yang kita sudah mendengarnya," ucap Abi. "Jadi, Al, Lif ... pernikahan monogami saja susah saat ada perselisihan, bisa berujung pisah karena tidak kuatnya pondasi kejujuran dan kasih sayang. Kalian sudah menikah sembilan hampir sepuluh tahun, tapi perselisihan masih bisa di selesaikan kalian berdua, tapi, kenapa saat ditambah Yasmine, kenapa tidak bisa?" sambung Abi bertanya.
Semua diam. Alfin dan Alifa saling memandang. Lantas, Alfin mencoba menjawab, "karena ... kita bahkan hampir tak ada perselisihan, Bi," jawabnya.
Semua orang tua lantas melihat ke arah Alfin. Pun dengan Abi dan Umi. Lalu, Umi pun membuka suaranya. "Inilah, Al kesalahannya. Kamu tahu, kenapa kamu tidak ada selisih dengan Lifa?" tanya Umi.
"Karena kalian berdua bersatu atas dasar suka sama suka, yang lanjut ke arah saling menjaga perasaan masing-masing. Apa kamu menjaga perasaan Yasmine juga, Al?" Umi kembali bersuara.
Lelaki beristri dua itu lantas diam. Menunduk, mengingat kembali bagaimana kehidupan rumah tangganya dulu saat baru bersama Alifa, sampai dengan bertiga bersama Yasmine.
Sedikit saja ia ingat saat mendapati wajah sang istri saat ia pulang dari kerja. Dari mendung dan sedikit cerah saat istrinya itu mendapati namanya di dalam cincin pernikahan dia dan Alifa. Lantas ia juga menjadi mengingat masa awal-awal, saat di mana dia tidak mau tukar cincin saat pernikahannya dengan Yasmine, karena dia tidak bisa mengganti cincin pernikahannya dengan Alifa. Kino, segala memori sedikit ia ingat, betapa tidak nyamannya istri ke-duanya terhadap dirinya.
Lelaki itu benar-benar merutuki ke bo do han nya, bagaimana bisa dia tidak menyadari itu. Ia merasa sudah begitu menyakiti cinta pertamanya, yang bahkan dulu begitu ia nantikan agar bertemu. Lantas kini, saat sudah bertemu, semua sudah sia-sia. Ayas nya tak menginginkan dirinya.
Lantas, semua orang diam, Umi yang duduk di sebelah ibu Radiah hanya menepuk punggung tangan sang besan.
"Maaf ya, Ilyas," ucap Abi. " Maafkan kesalahan putraku ini," sambung lelaki itu. Lantas ia menepuk pundak sang anak. "Ini kenapa, kemarin Abi bilang kalau orang tua tidak akan mendukung permintaan yang tidak baik, hanya mendukung kebahagiaan sang anak, ingin yang terbaik untuk anak, seperti Abi dan Umi yang meminta semua kumpul agar kita bisa menyuarakan pendapat kita untuk kebahagiaan anak-anak kita."
Semua orang setuju dengan apa yang baru saja lelaki paruh baya itu katakan.
"Nak, Alfin ... kita sebenarnya juga tidak ingin jika sampai anak bungsu kami menjadi seorang, janda. Tapi, saat itu adalah keinginan dan sudah di pertimbangkan olehnya matang-matang, kita sebagai orangtua hanya bisa mendengar keluh kesahnya, membenarkan yang salah, dan mendukung keinginan yang akan membahagiakan nya. Maaf, bukan berarti bersamamu dia tidak bahagia, tapi kamu tahu 'kan? Sejatinya wanita tidak ingin berbagi," begitu ucap Ibu.
Alifa menunduk, dalam hatinya selalu menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan mama Widia yang ada di sebelahnya hanya mampu menggenggam tangan sang putri. Karena memang benar yang di katakan Umi maupun Ibu, jadi dia hanya menjadi pendengar yang baik.
"Abi seharusnya jangan meminta maaf, karena permasalahan ini ada saat tiba-tiba Yasmine meminta selesai dari hubungan pernikahan nya," ucap Ayah.
"Adanya permintaan seperti itu, biasnya sudah lama ada rasa terpendam Yas," jawab Abi. "Jadi, kamu juga tidak perlu minta maaf," sambung pria itu.
Sejenak semua orang tersenyum saat dia lelaki itu berbicara. "Intinya, Al," papa Zaenal menunjukan suaranya. "Berumah tangga itu susah. Mengahadapi satu wanita saja pusing, apalagi dua. Jadi tak heran jika di antara kedua istrimu itu merasakan iri, atau merasa tidak tersayangi. Karena sejatinya kita ini hanya manusia biasa, yang paling adil hanya Allaah Ta'ala," sambungnya.
"Sebenarnya kita para orang tua tidak perlu ikut campur, tapi karena kita takut kalian tidak bisa menyelesaikannya, kita semua jadi nimbrung untuk meyakinkan kalian, kalau kita semua baik-baik saja walaupun ada masalah di antara kalian. Dan kami berharap, masalah ini selesai dengan baik, tidak ada perpisahan dan kembali rukun," kata papa Zaenal lagi.
"Iya, benar. Mama sama Papa tidak akan menyalahkan kalian, karena sebenarnya yang tahu permasalahan kalian, ya kalian. Kita hanya tahu sekilas saat kalian bertiga bercerita. Jika, tidak? Apa kita semua para orang tua tahu? jawabannya adalah tidak," ucap Mama Widia.
Lelaki beristri dua itu hanya bisa kembali diam, tak lagi bisa mulutnya berkata-kata. Entahlah, masih bisa di luruskan atau tidak masalahnya dengan sang istri ke dua. Yang jelas ia masih berharap agar bisa menjadi kembali keluarga yang utuh, jujur saja dalam hatinya masih menginginkan keduanya untuk berada di sisinya. Ia tak ingin kehilangan dua-duanya. Tapi, jika di paksa tidak bisa, maka ia akan memberikan waktu untuk sang istri kedua menyendiri sampai kapanpun, sampai ia benar-benar bisa melepaskannya.
Karena untuk bicara hari ini tidak bisa, maka ia akan dengan sabar untuk esok kembali lagi ke sana. Ke rumah mertuanya.