
Yasmine menoleh ke arah sang putra, begitu juga dengan Taqa. Anak itu mengangguk, seolah ingin segera ke sana, menghampiri wanita paruh baya yang kini tengah berurai air mata.
"Assalamu'alaikum, Mi," ucap Yasmine sembari berjalan ke arah Umi Fitri.
"Wa'alaikumsallam, apa kabar kalian?" tanya wanita paruh baya yang kini mengulurkan tangan pada sang mantan menantu dan pada cucunya.
"Kami baik, Nek. Nenek sakit ya?" tanya Taqa saat salim pada sang nenek.
"Tidak, Sayang. Nenek tidak sakit, 'kan cucu nenek sudah di sini," jawab Umi. "Sini, duduk," sambung Umi sembari menepuk tempat di sebelahnya.
Yasmine dengan sigap menaruh sang putra agar duduk di sebelah neneknya, dia pun juga duduk di sana, di pinggir ranjang berhadapan dengan umi dan sang anak.
"Maaf ya, Mi," ucap Yasmine.
Umi yang sedari tadi mengusap kepala Taqa pun lantas menoleh, ia tersenyum lantas menggeleng. "Tidak ada yang perlu di maafkan, Nak. Tidak perlu minta maaf, kamu membawanya ke sini saja Umi sudah sangat senang, terimakasih, sudah membesarkan Taqa dengan sabar, tanpa kami," kata umi.
"Kalian selalu ada, Mi. Yayas yakin sih, aku bisa karena doa kalian selalu terucap di setiap helaan napas." Yasmine mengambil tangan umi dan menggenggam nya.
"Nek," panggil Taqa. Umi lantas menoleh kembali ke arah sang cucu. "Nenek harus sehat, jadi nanti kalau ibu menikah degan ayah Arya, nenek bisa datang," begitu sambung bocah kecil itu.
Umi kembali melihat ke arah Yasmine, "doakan ya, biar Umi bisa ke sana," katanya. "Kapan?" tanya wanita paruh baya itu.
Yasmine tersenyum, "belum tahu, Mi. Baru mau di bicarakan," jawabnya.
"Sudah saatnya kamu bahagia dengan orang lain, tidak hanya dengan Taqa saja," kata Umi. "Sudah lama kamu menghabiskan waktumu sendirian, semoga lelaki pilihanmu kali ini bisa membuatmu semakin shalihah, aamiin. Umi selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Taqa," sambung wanita paruh baya itu.
"Sudah tua, Yas. Semua penyakit bisa datang kapan saja pada wanita seperti ku ini," jawab Umi.
"Umi harus sehat, Umi 'kan mau menyambut baby twins, jadi Umi harus kuat," kata Yasmine lagi. Bersamaan dengan pintu yang di ketuk.
"Assalamu'alaikum, Mi. Al bawa obatnya," begitu kata seseorang di depan kamar.
Yasmine tersenyum saat umi menatapnya, "tidak apa-apa, Mi."
"Nak, boleh minta tolong," ucap umi pada Taqa. Anak kecil di sebelahnya itu mengangguk. "Tolong bukakan pintu untuk ayahmu," sambung umi.
Taqa melihat ke arah ibunya, Yasmine lantas mengangguk. Terdengar helaan napas kesal dari anak kecil itu saat kakinya turun dari ranjang dan mulai melangkah menuju pintu.
"Sini, obatnya biar Taqa sama ibu saja yang kasih," begitu ucap bocah tampan saat pintu baru saja membuka pintu kamar sang nenek.
Alfin terpaku di tempatnya. "I-iya. Terimakasih ya, Nak," katanya sembari mengulurkan plastik obat kepada sang putra.
"Ayah boleh temenin Ayah aku," begitu kata Taqa lagi. Alfin semakin diam membisu di sana.
Sementara Yasmine, ia langsung bersuara. "Taqa, nggak boleh kayak gitu ya!"
"Biarkan saja, dia masih kecil. Biarkan," ucap Umi. Yasmine menoleh ke arah sang nenek dari putranya itu. "Tapi, Mi," ucapnya lagi. Umi menggeleng.
Sampai Alfin menganggukkan dan berlalu dari sana, dan Taqa kembali keranjang dan memberikan plastik obat pada sang ibu.