
Dia hanya manusia biasa, dia bukanlah siapa-siapa. Hanya istri biasa yang menginginkan surga. Namun ternyata, semua yang ia inginkan begitu susah untuk di gapai. Seperti saat ia berpikir akan mudah untuk berbagi dengan sang sahabat. Tak perduli kalau yang ia bagi adalah cinta, suami dan belahan jiwanya.
Sejatinya ia hanyalah perempuan biasa yang memiliki rasa cemburu dan perasaan lainnya. Seperti sekarang ini, ia tengah menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya guna menghalau air mata yang akan keluar begitu saja.
Sore ini ia lupa untuk menyambut kedatangan sang suami, saking gemasnya dia akan perasaan yang ia miliki. Semua sudah ia lakukan untuk menghilangkan rasa yang ada di dalam dada. Namun ternyata, semua itu sangatlah susah.
"Maaf, Yas. Aku tidak bisa membuang perasaan cemburu ini," ucapnya dengan hati yang sakit.
Mau seperti apapun ia mengahalau perasaan itu, pada kenyataannya ia tetap merasakannya. Kemarin, saat ia di ajak ke acara empat bulanan Yasmine, jujur saja dia merasa sangat enggan. Entah kenapa seolah ada batu yang menimpa kakinya agar tak pergi dari rumah. Itulah kenapa dia dan suaminya hampir telat.
Itu juga yang membuat Alfin selalu menghadirkan dirinya saat berbicara dengan Yasmine. Sebenarnya bukan hanya Alifa yang pusing akan perasaanya, karena nyatanya sang suami juga sama. Dia bingung untuk menjaga perasaan keduanya. Entah harus seperti apa ia menghadapi keduanya. Ia sudah berusaha untuk se-adil mungkin. Namun, yang diterima oleh mereka, entahlah ... Alfin sungguh tak mengerti.
Kembali ke Alifa yang masih terduduk di atas sajadah, dengan wajah yang tertutup telapak tangan. Memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa menceritakan tentang hatinya pada siapapun termasuk orangtuanya. Ia hanya akan bercerita sekilas saja, tentu tidak akan seluruhnya.
Wanita yang sudah menikah hampir sepuluh tahun itu tersenyum sedih saat ia mengingat waktu dulu. Saat ia dengan tegasnya mengatakan bahwa ia akan siap, ia akan sabar. Tapi pada kenyataannya sekarang, dia bahkan ingin menyerah.
"Maafkan aku, Mas. Ternyata aku tak sekuat itu," ucapnya saat dalam benaknya terbayang wajah tampan penuh senyum suaminya.
"Maafkan Lifa, Bi," ucapnya lagi saat wajah-wajah orang tua hadir dalam pikirannya.
"Jika saja, aku tak mengingat janji Mas pada Yayas, aku juga tidak akan melakukan ini," katanya lagi.
Perempuan itu menangis, saat tak lagi bisa dia menahan debit air mata yang keluar dengan derasnya. Bahkan seolah air yang sengaja di tumpahkan ke wajahnya.
...π€π€π€π€π€π€π€...
Berbeda dengan Alifa yang tengah menangis di dalam kamarnya, perempuan yang menjadi sahabat sekaligus madu-nya itu sore ini tengah makan cemilan yang di belikan oleh sang mertua. Ya, Yasmine masih di sana. Hari ini ia libur mengajar, sengaja izin dua hari agar lebih leluasa menginap di rumah umi dan abi.
Kedua mertuanya baru pulang dari pengajian, dan pulangnya dia di bawakan serabi kuah yang rasanya benar-benar membuat ibu hamil itu mau lagi dan lagi.
Tiga potong serabi kuah sudah dihabiskan oleh Yasmine, dan itu semua membuat Abi Sofyan yang duduk di sana memperhatikan dirinya tersenyum lebar. "Pelan-pelan Nak, tidak akan ada yang minta," kata sang mertua pada menantunya.
"Biarkan saja, Bi. Yasmine memang paling menyukai serabi langganan Alfin," kata umi yang muncul dari arah dapur dengan segelas air di tangannya.
"Ya sudah, habiskan Nak," kata Umi yang kini sudah duduk di sebelah sang menantu.
Benar saja, Yasmine menambah sepotong serabi lagi, tentu saja dengan kuah manis yang membuat ibu hamil itu merasa kenyang seketika.
Umi dan Abi hanya menggelengkan kepalanya saat di tawari akan disuapi oleh sang menantu.
Umi Fitri senang saat melihat menantunya yang tengah hamil itu memancarkan rona bahagia, tidak seperti semalam. Sebagai seorang ibu dan perempuan, Umi tentu tahu apa yang dirasakan kedua menantunya. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun selain membantu doa dan mengingatkan agar mereka senantiasa sabar dan ikhlas. Walaupun Umi sangat meyakini kalau itu semua sangatlah susah.
Hingga malam tiba, saat semua orang tengah tertidur, ibu hamil itu duduk di ruang keluarga sendirian. Menonton televisi sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
Kini sudah pukul 23:20 WIB. Jadi, rumah sudah sangat sepi. Tak lagi terdengar suara ngaji dari Abi, mungkin pria paruh baya itu baru saja istirahat.
Setiap sendirian, ibu hamil yang selalu terlihat ceria itu selalu sedih. Perasaannya sedihnya tidak bisa dia bagi, lantaran susahnya bercerita pada semua orang yang notabenenya adalah keluarga dari dirinya dan Alifa.
Setiap merasa tak enak pada hatinya, ibu hamil itu hanya bisa duduk dengan membaca ayat-ayat suci dan menonton televisi sembari mengusap perutnya yang sudah terasa kalau ada makhluk yang hidup di dalam sana.
Terkadang ia merasa senang akan nikmat yang sudah Allaah beri, lantaran amanah yang kini sudah ada di dalam rahim. Namun, kadang ia juga merasa sedih dan bertanya-tanya, kenapa? Walaupun ia sudah tahu jawabannya. Lagi-lagi saat hatinya bertanya-tanya, seketika mulutnya menjawab dengan serupa gumaman dengan satu kata, takdir.
Yasmine tersenyum miring, segini sedihnya dia sampai tidak bisa bercerita pada siapapun, termasuk pada ibunya. Ia tak ingin membebani pikiran sang ibu dan ayah. Ia hanya ingin melakukan sesuatu yang membuat kedua orangtuanya senang, dan setiap orang yang ada di dekatnya tertawa. Tak perduli hatinya bisa tertawa atau tidak.
Sekilas kata-kata sang suami yang dulu pernah membuat nya sakit kembali terngiang-ngiang, saat hatinya kembali goyah akan perasaan.
Namun kata-kata manisnya pun sama teringat saat wajahnya terlihat dalam benak. Bukan tentang hati yang mudah berubah, namun tentang hati yang susah menerima.
"Jika aku di hadapkan dengan dua pilihan pada waktu itu, antara menjadi istri ke dua atau sendiri selamanya. Maka, aku akan memilih jawaban sendiri selamanya. Tapi sayang, saat itu aku tak punya pilihan selain menerima keadaan," katanya dengan tangan yang ada di atas perut, mata yang berembun dan hati yang sakit.
"Jika saja kamu tahu, Lif. Aku sakit karena keinginan kamu membawaku untuk meminta apa yang sudah kamu beri. Kamu tahu, ibarat di beri hati lantas meminta jantung," katanya pada keheningan malam. "Itulah aku sekarang," sambungnya dengan senyum miring menyedihkan.
"Tapi, sebelum aku meminta jantung. Aku akan terlebih dahulu memberikan hati yang sudah kamu beri, agar aku tak lupa bagaimana caranya balas budi."