Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 154 # Bonus 1


Sebulan Kemudian.


Bahagia rasanya saat pagi ini ia mendapat sesuatu yang sangat istimewa. Dua garis merah di dalam alat kecil. Perempuan yang saat ini tengah berdiri di depan kamar mandi itu menutup mulutnya agar tak berteriak saking bahagianya, ia masih tak percaya di usianya yang sudah banyak masih di beri kepercayaan untuk hamil kembali.


"Sayang, aku sudah buat makanan, ayo sarapan." suara suaminya terdengar dari arah luar kamar, membuatnya langsung menoleh ke arah pintu yang di buka.


"Malah bengong di sana, ayo. Keburu aku mual," begitu katanya. "Mumpung lagi pengin banget ini, makan bubur," sambung laki-laki itu.


"Ayah kamu harus lihat ini," kata Yasmine seraya menunjukkan sebuah alat kecil.


"Apa, itu?" tanya Arya dengan rasa penasaran. Lantas lelaki itupun berjalan mendekat ke arah sang istri tersayang.


Kelopak matanya langsung melebar, "MaSyaa Allaah, benarkah ini?" tanyanya tak percaya.


"Alhamdulillah." Arya langsung sujud di sana, betapa bahagianya dia saat mendapati kabar ini, saat melihat bahwa ada dua garis yang menandakan kalau sang istri saat ini tengah hamil.


Yasmine terharu melihat sang suami, lantas di peluknya dia oleh lelaki itu dan di ciumnya lama puncak kepalanya. "Terimakasih Ya Allah, terimakasih Sayangku, selamat, semoga bayi kita sehat, dan selamat sampai nanti saat kita berjumpa," begitu ucap Arya seraya memeluk erat tubuh istrinya.


"Kita harus kasih tahu ini pada Taqa, Mas," ucap Yasmine.


"Iya, ayo." Arya lantas menggendong tubuh mungil istrinya itu untuk turun ke lantai bawah, karena kini sang anak sudah ada di meja makan. Sedangkan kamar anak tampan itu, saat ini sudah pindah ke depan kamar orangtuanya.


"Ya Allaah, Mas. Kenapa aku di gendong?" tanya Yasmine sembari berpegangan erat di leher sang suami.


"Orang hamil nggak boleh capek-capek, Sayang " kata Arya. Yasmine hanya tersenyum sembari menatap wajah suaminya itu, ia masih tak percaya mendapat lelaki sebaik itu.


"Taqa, Nak. Kamu harus dengar kabar bahagia ini!" teriak Arya saat kakinya sudah berada di akhir anak tangga.


Taqa yang duduk di kursi makan itu lantas memutar tubuh dan melihat ke arah suara. "Ya Allaah, Ayah, Ibu ... pagi-pagi sudah main gendong-gendongan. Aku aja ke bawah nggak di gendong loh, sama Ayah," katanya sembari tersenyum lebar, merasa lucu melihat ibu dan ayahnya.


"Maulah, apa berita bahagia itu?" tanya balik Taqa dengan penasaran.


Yasmine yang masih berdiri ditempatnya itu hanya melihat kedua lelaki itu dengan menyilangkan tangannya di dada, jangan lupakan rasa syukur karena memiliki dua lelaki yang sangat-sangat baik padanya.


"Kamu mau punya adik, sekarang, saat ini, ibu sedang hamil," begitu ucap Arya pada sang putra sambung.


Kelopak mata Taqa melebar, "benarkah, Yah?" tanyanya memastikan.


"Benar, ayah nggak bohong."


Taqa lantas menoleh dan melihat ke arah sang ibu, "apa benar, bu?" tanya bocah itu dengan gerakan yang siap-siap untuk turun dari kursinya.


Yasmine mengangguk, bersamaan dengan senyum yang sangat manis. Lantas, benar saja. Taqa turun dari kursinya dan berlari memeluk tubuh sang ibu. "Ya, Allaah ... terimakasih sudah memberikan hamil pada ibu, itu artinya aku benar-benar akan punya adik. Terimakasih Ya Allaah, sudah mengabulkan doa Taqa," ucap bocah tampan itu di dalam dekapan sang ibu.


Taqa mengurai pelukan dan menatap wajah dang ibu, "jadi, di sini ada bayinya, Bu?" tanyanya.


Yasmine mengangguk, lalu Taqa kembali memeluk sang ibu. Arya yang melihat dari tempatnya itu lantas beranjak dan mendekat ke arah dua manusia kesayangannya itu. "Apa, kamu bahagia Nak?" tanyanya pada sang putra yang masih betah memeluk ibunya.


"Pasti, Yah," jawab anak itu antusias.


Arya lantas turut memeluk wanita kesayangannya itu, bersamaan dengan Taqa yang ada di tengah-tengah mereka.


"Nanti kita periksakan ibu, ya. Setelah memastikan semuanya, kita kasih tahu para Nenek, ok," begitu ucap Arya seraya mengecup kening sang istri di akhir kalimatnya.


"Setuju!" teriak sang putra yang langsung membuatnya mengurai pelukan itu.


Yasmine dan Arya lantas saling memandang dan tertawa.