Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 094 # Menurut


Nafasnya masih terasa sesak, ia hanya bisa memejamkan mata saat suaminya dengan lama mencium keningnya, menangkup kedua sisi pipinya. Rasa nyaman di dalam dada semakin membuat sesak lantaran terhimpit cinta dan dilema.


Lantas, lelaki itu mulai melabuhkan benda kenyalnya kepada benda kenyal sang istri. Air mata yang mengalir menjadi rasa yang bercampur dengan manisnya cinta. Air mata yang keluar bahkan semakin deras, mendorong Alfin untuk melepas wajahnya dari wajah Yasmine.


Lelaki itu menatap wajah penuh uraian air mata, di hapus-nya air mata itu dengan penuh sayang. Lantas ia menekuk lutut dan mencium penuh sayang p e r u t sang istri. P e r u t yang tertutup baju.


Pertama ia usap terlebih dulu, lalau menghapus air mata yang ada di pipinya. Ia lantas tersenyum, "halo, Sayang," ucapnya sembari mengusap p e r u t yang sudah terlihat membuncit.


Jangan tanyakan bagaimana Yasmine, yang jelas ia merasakan perasaan yang campur aduk. Antara sedih dan sakit. Wanita itu bahkan hanya bisa menoleh ke arah samping, tak ingin memperhatikan sang suami yang tengah mengajak ngobrol anaknya.


"Maafin Ayah, ya ... karena Ayah tidak bisa menemani kamu minggu ini. Bilangin sama ibu ya, biar ibu cepat baik hatinya, biar bisa dengan cepat menyuruh ayah untuk datang," ucapnya yang lantas menjeda kalimatnya. Ia menarik napas terlebih dulu agar bisa kembali mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.


"Maaf karena ayah tidak bisa mengerti kamu dan ibumu. Tolong temani ibu ya, biar dia tetap senang karena ada kamu di sini, jangan nakal di dalam sini, jangan lupa bisikan ke ibu, kalau kamu mau sama Ayah. Bilangin ke ibu, jangan lama-lama ngambeknya," sambung Alfin.


Air mata lelaki itu kembali menetes, "bilangin kalau ayah mencintai kamu dan ibumu, ayah tidak mau pisah dari kamu dan ibu. Tolong bilangin ya, agar ibu mau memaafkan ayah dan kembali mencintai ayah seperti sebelum keinginan jeleknya datang."


Yasmine tersenyum mendengar apa yang di katakan Alfin pada anak yang masih di dalam rahimnya.


"Kamu harus jadi penguat buat ibu, ok anak ayah?" tanya Alfin yang masih di depan perut Yasmine. "I love you, Nak. I love you, Ayang Ayas," sambung Alfin yang lantas mencium p e r u t sang istri. Seolah-olah tengah memeluk istri dan anaknya sekaligus.


Air mata Yasmine kembali menetes, ia tak kuasa untuk menahan air mata saat rasa hangat seolah menjalar ke dalam perut hingga sampai ke dalam hatinya. Ingin rasanya ia mengusap kepala yang tengah menelusup ke b a g i a n p e r u t nya itu, namun keinginannya itu hanya sebuah angan tak sampai.


Hingga saat Alfin sudah merasa sedikit puas, ia lantas mendongak. Ia mendapati wajah Yasmine yang masih menoleh ke arah lain, tak melihat sedikitpun ke arahnya. Alfin tersenyum getir, 'segitu sakitnya kah, Ay, sampai kamu tak mau menatapku barang sebentar saja,' ucapnya dalam hati.


Lelaki itu lantas berdiri dan menatap sang istri yang kini sudah menatapnya. "Apa aku harus benar-benar pergi?" tanya Alfin memastikan.


Yasmine mengangguk, "pergilah, jangan lupa sama keinginan aku," katanya sok kuat.


Alfin mangangguk, "baik-baik ya, jangan lama-lama menyendiri nya," katanya. Lelaki itu lantas memutar tumit dan berjalan dengan langkah pelan meninggalkan sang istri ke-dua. Baru dua langkah ia berhenti, berharap ada panggilan untuk dirinya agar tak melanjutkan langkah. Namun sayang, tak ada suara apapun selain helaan napas beratnya.


Akhirnya, ia pun melanjutkan kembali langkahnya hingga di depan pintu yang tertutup. Perlahan, bak slow motion Alfin memegang kenop pintu dan menarik gagang itu, membuat kayu tinggi dan berat itu lantas terbuka. Namun, masih sama. Tak ada suara yang menghentikannya. Sampai ia menoleh dan mengucap, "assalamu'alaikum, ya Zaujati."


Yasmine tak menjawab, ia tetap diam. Sampai akhirnya langkah Alfin pun keluar dari kamar itu. Menutup pintu dan ... menjawab-lah ibu hamil itu akan salam sang suami. "Wa'alaikumsallam, ya Zauji." Ia lantas memutar tumit untuk pergi ke balkon. Yasmine ingin memastikan akan kepergian sang suami.


Air matanya menetes, setelah menunggu lumayan lama dan ia mendapati sang suami pergi dengan mobilnya. "Bahagialah, Lif, Al," ucapnya dengan senyum yang merekah dibarengi air mata.


Ia menatap bangunan dua lantai di depannya, rasanya untuk turun ia belum ingin. Sekarang ia bingung akan mengatakan apa pada Alifa, ia tak ingin keduanya merasa saling bersalah. Namun, seketika ia ingat apa yang di katakan Yasmine.


"Baik, sekarang kamu temani lagi Lifa. Aku mau sendirian. Jangan dulu nemuin aku, kalau aku belum menemuimu. Jangan pernah hubungi aku, kalau aku belum menghubungimu. Apa kamu bisa memberikannya?" ucapan Yasmine teringat kembali dalam benaknya.


Lalu, lelaki itu pun turun dari mobilnya. Berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah mewahnya. Tak terlihat ada siapa-siapa di setiap ruangan, sampai ia berhenti di kamarnya. Membuka pintu dan mengejutkan Alifa yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Mas, kamu pulang ke sini?" tanyanya heran.


Alfin tersenyum dan mengangguk, "iya, Sayang. Yasmine masih ingin sendiri," jawabnya.


"Kenapa? Apa, Yas--"


"Boleh buatkan aku teh hangat, Sayang?" Alfin memotong kalimat yang akan di tanyakan kembali oleh sang istri.


Alifa mengembuskan napas kasar, dan mengangguk. Sebelum benar-benar turun ke lantai satu ia menyempatkan diri terlebih dulu untuk mencium tangan suaminya itu dengan takzim.


Selepas perginya Alifa, lelaki itu duduk menyandar di sofa. Matanya terpejam. Ingatannya kembali pada saat-saat dirinya berbicara pada sang anak yang masih di dalam rahim sang istri ke-dua. Bibirnya tersenyum, ia sangat berharap dengan di turuti-nya keinginan Yasmine, dalam waktu dekat ia sudah boleh untuk menemui mereka berdua. Ya, berdua dengan anaknya.


"Mas," panggil Alifa yang lantas mengagetkan Alfin. Lelaki itu lantas membuka kelopak mata dan duduk dengan tegak.


"Ini, teh nya," kata Alifa sembari menaruh cangkir di atas meja. Ia juga lantas duduk di sebelah sang suami.


"Kamu terlihat lelah sekali, Mas," ucap Alifa.


"Aku, tidak apa-apa Sayang." Alfin lantas mengambil cangkir dan menyesap teh hangat buatan sang istri pertama.


"Kenapa, Mas? Apa masih belum mau," tanya Alifa lagi. Wanita cantik itu masih penasaran. Kenapa sang suami malah pulang kembali padanya.


Alfin menaruh kembali cangkir ke atas meja, ia lantas menoleh ke arah sang istri dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Yasmine hanya masih ingin sendiri," jawabnya merubah ekspresi wajah agar sang istri percaya. Ia tidak ingin Alifa merasa khawatir. Karena mau seperti apapun, Alfin tidak akan menyalahkan istri pertamanya itu. Karena menurutnya, ketakutan Alifa adalah bentul dari rasa cinta yang dalam padanya.


"Syukurlah, aku takut Mas, jika sampai kalian," ucapnya selalu tertahan saat akan mengucap kalimat yang tidak ia inginkan.


"Tenang saja ya, in syaa Allaah semuanya akan baik-baik saja, kita hanya perlu membiarkan Yayas menenangkan hatinya." kata Alfin sembari menarik sang istri untuk ia dekap. 'Akan aku lakukan apapun keinginan kamu, Ay. Asal antara aku kamu, dan anak kita juga Alifa tidak terpisah. Aku tidak akan bisa, Ay," sambung Alfin dalam hati.