
Cintanya pada Alfin besar, dan sayangnya pada Alifa pun sama besar. Jadi, bagaimana bisa dia dengan semudah itu memutuskan pergi dan menjauh dari mereka, saat hatinya tertinggal di sana. Tapi ... jangan lupakan rasa sakitnya. Jadi, keputusannya tetap pada keinginan awalnya untuk pergi jauh dari sang suami dan sahabat.
Perlahan, ia hapus air mata yang membasahi pipi. Lantas ia menggelengkan kepalanya, batinnya berbisik. 'Tidak, Al. Cinta kita tidak akan bisa menyatu. Sekalipun ada anak di antara kita. Biarkan aku dengan malaikat kecilku, biarkan dia yang akan menjadi pengganti dirimu.'
"Ayo, Mbak Yas," ajak Mbak Fifi.
"Ah, iya. Ayo. Aku sudah nggak sabar pengin lihat orang memanen kol," kata Yasmine antusias. Memasang senyum yang merekah dan melanjutkan langkah menuju jalan pulang.
Mbak Fifi mengikuti langkah Yasmine yang terlihat seperti gadis, tak terlihat sedikitpun bahwa dia sudah menikah dan kini tengah hamil. Di samping badannya yang tetap kecil, bajunya pun selalu besar, jadi perut buncitnya tidak akan terlihat oleh orang awam.
Jalan yang tadi saat berangkat mereka lewati masih berkabut, saat pulang sudah tidak terlalu. Namun hawa dinginnya tetap saja terasa. Padahal matahari sudah muncul ke permukaan.
Yasmine berjalan dengan santai, dengan tangan yang di rentangkan. Menghirup udara sejuk dalam-dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia tersenyum menatap indahnya pemandangan permadani hijau di depannya. Ia sangat bersyukur bisa mengerti ada tempat senyaman itu. Ia juga berpikir tidak akan pergi lagi dari sana. Rasa nyaman itu sudah terlanjur ada, dan tidak mudah begitu saja di tinggal.
...πΌπ»πΌπ»πΌ...
Tidak ada cinta yang menyakitkan, hanya ada cinta dengan rasa ikhlas. Karena, saat ikhlas menerima, mau cinta itu kita dapat atau tidak, kita tidak akan tersakiti.
Seperti Yasmine yang sudah mulai menata hati untuk melupakan segalanya. Tak perduli pada kalimat yang ia tunggu-tunggu agar bisa terlepas dari hubungannya dengan sang suami.
Ia berjanji dalam hati, bahwasanya ia akan tetap membiarkan suaminya dengan sahabatnya yang terlebih dulu di nikahi cinta pertamanya. Ia akan membuat keduanya bahagia, walaupun dia tak ikut di dalamnya.
Kini wanita itu tengah menunggu kedatangan tamu kesayangan. Nanti, begitu tamu itu datang, ia akan mengatakan segalanya dengan wajah yang sumringah, agar tamunya percaya, bahwa ia bisa bahagia tanpa mereka berdua.
Karena kini, kebahagiaan nya terletak pada bayi yang sudah mulai menunjukan keberadaannya.
Ya, Yasmine yakin cepat atau lambat, Alfin dan Alifa pasti akan datang. Dan dia menantikan itu.
Dia tengah duduk di belakang rumah yang ia tempati, di atas tikar yang terbuat dari pandan dengan nyaman ia bersila di sana. Memperhatikan setiap petani kol yang sedang panen. Nanti, pasti akan ada yang datang dan memberikannya dua buah kol, dan ia akan menolak namun mbak Fifi yang berterimakasih.
"Mbak, Yas. Susunya di minum dulu." Mbak Fifi datang dengan segelas susu untuk Yasmine.
"Makasih, Mbak Fifi," jawaban Yasmine membuat kening Fifi berkerut. "Ceria banget sih." Mbak Fifi lantas duduk di sebelah Yasmine saat gelas sudah di terima.
"Kamu, maunya aku merengut?" tanya balik Yasmine.
Mbak Fifi menggeleng, "enggak dong, saya lebih suka melihat Mbak Yas yang seperti ini," ucapnya dengan senyum yang mengembang.
Yasmine mengangguk dan meminum susu buatan Mbak Fifi. Setelahnya ia kembali melihat orang-orang di depan sana.
...πΌπ»πΌπ»πΌπ»...
Hingga saat waktu hampir sore, saat Yasmine baru saja menunaikan shalat ashar, sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah sederhana itu.
Mbak Fifi yang mendengarnya pun lantas ke depan untuk membuka pintu. Ia memasang wajah senyum saat mendapati Alfin dan Alifa keluar dari dalam mobil.
"Assalamu'alaikum, Mbak Fifi," sapa Alifa.
Alfin tersenyum, ia memperhatikan bangunan permanen yang hanya ada satu-satunya itu di sana. Di sekelilingnya hanya ada perkebunan. Ia tak percaya jika Yasmine yang biasa di kelilingi kemewahan bisa tinggal dan betah di sana.
Lelaki itu lantas menoleh ke arah sang istri, ia mengangguk saat Alifa mengajaknya masuk lantaran Mbak Fifi sudah mempersilakan.
Kini keduanya sudah duduk di kursi yang terbuat dari bambu, yang mana saat di duduki akan langsung mengeluarkan bunyi. Alifa dan Alfin memandangi setiap sudut yang ada di sana. Ruang tamu yang kecil namun rapi, terlihat sekali jika cat rumah itu baru saja di ganti. Pun dengan gorden yang terpasang di jendela dan setiap pintu kamar. Keduanya yakin, itu adalah keinginan Yasmine.
Tak lama setelahnya, Mbak Fifi keluar lagi dengan satu nampan yang di sana ada tiga cangkir teh panas. "Silakan, Mbak, Mas. Di sini dingin ya, jadi adanya teh hangat. Ini sama kebetulan saya baru selesai bikin bala-bala," ucapnya mempersilakan.
"Makasih, ya Mbak Fifi," ucap Alifa.
"Yayas nya mana, Fi?" tanya Alfin tak sabar.
"Sedang shalat, Mas," jawab Mbak Fifi.
Alfin dan Alifa hanya menganggukkan kepala mereka. Lantas tak lama setelahnya, pintu kamar depan yang terletak di belakang tempat duduk Alfin terbuka. Kedua tamu itu lantas menoleh ke arah pintu itu terbuka, dan munculah sosok perempuan yang semakin hari semakin cantik.
Alfin dan Alifa lantas berdiri. Yasmine tersenyum, "maaf ya, lama," ucapnya seraya mendekat. Menyalami keduanya, terlebih pada Alifa yang lantas memeluknya erat.
"Kenapa?" tanya Alifa dalam pelukan sang sahabat.
"Kenapa, apanya?" tanya balik Yasmine.
"Kenapa, kamu harus seperti ini, aku terlalu menyakitimu kah?"
Yasmine lantas mengurai pelukannya dari sang sahabat, "siapa yang bilang kamu menyakitiku? Kamu membuatku bahagia," ucapnya. "Aku hanya ingin melihat kamu dan Al bahagia seperti saat dulu, sebelum datangnya aku ke dalam rumah tangga kalian."
"Tapi, aku ingin kita bahagia bertiga," ucap Alifa.
"Tidak bisa," kata Yasmine dengan menggelengkan kepalanya.
"Tapi, kamu masih mengingat apa yang aku katakan tadi 'kan?" tanya Alfin yang lantas membuat dua wanita itu menoleh.
Yasmine tersenyum, "ingat. Tapi, kamu juga ingat 'kan, apa yang aku inginkan?"
"Kenapa, kamu sangat memaksakan keinginanmu?" tanya Alfin lagi.
Kini Yasmine tertawa, "apa kamu nggak sadar, kalau kamu juga sudah memaksa. Aku tahu, sebanyak apapun wanita menginginkan pisah, saat lelaki tidak mau mengucapkan kata itu, maka suami-istri tidak akan pisah. Tapi, aku nggak perduli. Yang aku mau, aku ingin sendiri, aku sudah bahagia di sini," ucapnya.
"Baiklah, aku tidak akan mengucap kata-kata itu. Aku dan Alifa akan membiarkan kamu di sini, tanpa menganggu."
Yasmine tersenyum miring, dia sudah yakin jika sang suami tidak akan melepaskan nya dengan mudah. Walaupun sebanyak apa dia berbicara. Akhirnya, ia hanya mengedikan bahu tak perduli.
"Terserah," katanya.