Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 098 # Kamu Di Mana?


"Apa, aku salah Mas?" tanya Alifa pada sang suami.


Kini keduanya sudah di rumah mereka, Alfin tengah memegang ponsel untuk melakukan panggilan pada nomor baru sang istri ke dua. Ia masih penasaran, di mana kiranya dia sekarang. Namun, saat ia mendengar apa yang di tanyakan Alifa, ia lantas menaruh ponsel dan menoleh ke arah sang istri yang duduk di sebelahnya.


"Apa yang salah? Semua ini ujian," Alfin menjawab. Namun, ia memberi jeda pada jawabannya. "Ujian untukku, bisa atau tidak aku menerima semua ini, mempertahankan kalian agar tetap berada dalam satu ikatan yang mana, pastinya akan membuat kalian saling cemburu. Tapi, untuk melepas salah satu, jujur saja, Sayang ... aku tidak bisa," sambung pria itu.


"Aku juga tidak ingin di lepas, pun sama dengan Yasmine, aku ingin selalu bersama, bertiga selamanya. Sampai akhirnya kita akan ber-empat, ber-lima atau selebihnya, namun bukan menambah makmum, tapi anak. Itu yang aku inginkan, Mas," kata Alifa lagi.


Alfin tersenyum, bagaimana bisa dia melepas Alifa, saat apa yang di ucapkan sang istri itu selalu membuatnya adem. "Memangnya siapa yang ingin menambah istri, Sayang? Dua saja aku kewalahan," ucapnya sembari menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan.


"Aku tidak menyalahkan dirimu, atau siapapun. Karena, semua ini sudah terjadi dan aku tahu, kalau Yasmine memang merasakan sakit yang terlalu, pun dengan keinginannya yang sama sepertimu, sama-sama ingin melihat satu sama lain bahagia," ucap Alfin menenangkan sang istri.


"Mmm, Sayang ... boleh buatkan aku teh, aku ingin mencoba menelepon kembali nomor Yasmine," ucap Alfin lagi.


Alifa lantas melepaskan diri dari pelukan sang suami. "Iya, sebentar ya." Alifa lantas beranjak dari sofa dan pergi ke dapur.


Sedangkan Alfin yang masih di sofa, ia lantas mencoba kembali menelpon nomor baru itu. Namun, masih sama. Masih tidak bisa di hubungi. Benar kata ibu, kalau nomornya tidak akan aktif, terkecuali nomor dari sana yang menghubungi.


Alfin mendesah kecewa, ia benar-benar bingung, ke mana kiranya sang istri pergi menenangkan diri.


"Bagaimana, Mas? Sudah bisa?" Alifa menaruh secangkir teh panas untuk sang suami.


Alfin menoleh dan menggeleng. Alifa hanya mampu tersenyum kecut, saat belum mendapati kabar terbaru dari keberadaan Yasmine. Padahal, ia ingin sekali segera mengetahui tempatnya dan menjenguk, jika bisa ia akan mengajak sang madu untuk kembali ke tempat semula. Ia tidak ingin menjauhkan sang suami dari Yasmine, pun dengan dirinya. Tidak. Wanita itu tetap ingin mereka bisa bertiga kembali.


...🌻🌼🌻🌼🌻🌼...


Di Rumah Keluarga Ilyas.


Ayah tengah duduk santai, padahal sang ibu sudah nangis-nangis karena ingin bertemu sang putri. Bahkan Ayah Ilyas malah dengan santainya menyesap teh hangat nya, ditambah dengan biskuit yang di celupkan terlebih dulu ke dalam teh sebelum di makan.


"Ayah gimana sih, Yah?!" tanya ibu dengan kesalnya.


"Gimana apanya sih, Bu? Orang kita sudah tahu kok, dia baik-baik saja," jawab Ayah masih dengan mode santai.


"Iya, ibu tahu. Tapi 'kan Yah ...," ibu menatap sang suami dengan sedih.


Ayah Ilyas tersenyum, lantas memegang kedua bahu sang istri. "Kamu tenang saja bu, Yayas kita baik-baik saja. Kamu doakan saja dari sini, agar anak kita cepat kembali dan bisa bersama kita lagi."


"Memangnya Ayah tahu dia di mana?" tanya Ibu lagi.


Ayah menggeleng, "terakhir Yasmine telepon kapan?" tanya balik Ayah.


Ibu lantas membuka mata, "besok kayaknya dia telepon lagi," jawab ibu.


"Nah, besok ibu tanya lah dia di mana. Jangan lupa, kabari Alfin kalau Yayas sedang telepon. Biar mereka bisa ngobrol. Ayah tidak menyalahkan keinginan Yasmine, tapi Ayah juga tidak membenarkan Bu. Ayah hanya memasrahkan urusan mereka pada mereka yang menjalankan sebuah hubungan. Karena dengan seperti ini, Ayah berharap bisa menjadi pelajaran untuk kedepannya mereka," ucap ayah Ilyas panjang lebar.


Ibu akhirnya pasrah, ia hanya mengangguk tanpa menjawab lain. Namun, ada benarnya dengan apa yang di katakan sang suami. Jadi, ibu hanya perlu menunggu besok untuk mendapat kabar dari Yasmine.


Rumah Alfin Dan Alifa.


Suasana di ruang makan begitu sepi, Alifa duduk dan Alfin pun sama. Namun, keduanya sama-sama diam. Kendati makanan sudah ada di depan mereka namun rasa lapar tak mereka rasakan.


Terlebih Alfin yang seperti tidak tidur dari semalam, selalu saja di depan ponsel dan tetap saja mencoba menghubungi nomor sang istri ke dua, yang jujur saja keberadaan nya semakin membuat dia khawatir.


Ia masih tak menyangka jika Yasmine bisa se-nekad itu pergi dari rumah, dan bahkan pergi entah ke mana. Yang jelas, ia yakin perginya Yasmine itu ke tempat yang terpencil. Sampai sinyal saja susah.


Namun seketika, ia mengingat sesuatu. "Sayang," panggilnya pada sang istri.


"Iya, sudah bisa Mas?" jawab Alifa dengan kaget.


Alfin menggeleng, "rumah Fifi di mana?" tanya balik Alfin.


"Kenapa?" Alifa bertanya lagi. Namun beberapa detik kemudian dia menjawab dengan menyebutkan sebuah desa yang lumayan jauh dari kota Bandung.


"Jauh sekali ya, apa bisa di tempuh dengan mobil?" tanyanya pada ponsel yang tengah menampilkan jawaban di mesin pencarian.


"Bagaimana Mas, bisa?" tanya Alifa penasaran.


Alfin belum menjawab, namun ia langsung memberikan ponselnya. "Tapi, di sini di terangkan jalan yang menuju ke sana masih rusak, masih bebatuan belum aspal," ucapnya.


"Bukan itu, Mas, itu mah nama pegunungan di sana, bukan nama desa," kata Alifa.


"Oh," ucap Alfin Saking terburu-burunya dia, sampai tak konsentrasi setiap nama yang keluar di mesin pencarian langsung ia klik.


"Mas, mau nyari ke sana?" tanya Alifa memastikan.


"Iya," jawab Alfin.


"Aku ikut, ya," ucap Alifa lagi. Alfin lantas mendongak, dan mengangguk.


"Ya sudah, kamu sarapan dulu. Habis itu boleh siap-siap, kita berangkat. Sembari nunggu kabar dari ibu, tadi ibu kirim pesan kalau Yayas telepon ibu akan bilang," kata Alfin.


Alifa mengangguk, ia menyetujui perintah sang suami. Seusai makan yang sangat sedikit sembari menyuapi sang suami, wanita itu lantas pergi ke kamarnya guna mengganti pakaian.


Sementara itu di bawah, Alfin langsung mencoba menghubungi nomor Yasmine saat ada pesan dari ibu jika Yasmine baru selesai telepon. Namun, sampai nada sambung berakhir, telepon tak kunjung di angkat.


Tapi, Alfin tak menyerah, ia tetap saja mencoba sampai panggilan itu akhirnya terjawab, namun tanpa suara.


"Halo, assalamu'alaikum, Ay," panggilnya pada suara di seberang sana yang belum terdengar. Hanya ada suara orang yang tengah ramai, mungkin benar apa yang ibu bilang, jika Yasmine mendapat sinyal saat ikut Fifi ke pasar.


"Kamu di mana?" tanya Alfin lagi.


"Aku khawatir," kata pria itu lagi.