
Alifa menunggu sang suami pulang. Ia sengaja duduk di teras setelah menyirami tanaman. Sembari menikmati suasana sore hari yang indah, memperhatikan setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ada saja yang menyapa dengan bunyi klakson. Dan saat itu, ia akan mengangguk juga tersenyum.
Selepas berbagi kabar dengan Yasmine, ia merasa sedih. Ia juga berkali-kali membayangkan jika dirinya ada di posisi sang sahabat. Jelas, ia tidak akan mampu. Ia tersenyum masam saat mengingat itu. Sampai mobil yang ia kenali masuk ke halaman rumah. Perempuan cantik itu lantas berdiri dari duduknya, memasang senyum yang indah menyambut kepulangan sang imam.
Alfin keluar dari dalam mobil saat kendaraannya sudah terparkir dengan rapi. Ia pun sama tersenyum lebar ke arah sang istri. Alifa lantas mendekat dan mengulurkan tangan, di sambut hangat oleh sang suami.
"Assalamu'alaikum, Sayang ...," ucap Alfin saat Alifa mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsallam, Mas." jawab Alifa dengan manis.
"Ayo, masuk. Sudah sore loh." Ajak Alfin. Alifa mengangguk. "Tumben nunggu di depan?" tanya Alfin sembari berjalan menggandeng tangan sang istri.
"Iya, pengin nunggu kamu dari depan, Mas. Iseng juga," jawab wanita cantik itu.
"Bosan, ya?" tanya Alfin.
Alifa menoleh ke arah sang suami dan mengangguk. Alfin tersenyum, "mau main ke mana?" tanya sang suami lagi.
"Pengin ke rumah Yayas, Mas." jawab Alifa.
"Boleh, tapi 'kan Yayas kerja. Mau jam berapa dong ke sana?" Alfin kembali bertanya. Alifa mengedikan bahu. "Nanti malam saja gimana? Makan di luar, mau? Bertiga." saran lelaki yang jujur saja, ia tengah merindukan istri ke-duanya itu.
Alifa tersenyum lebar. "Mau banget, nanti habis magrib bisa telepon Yayas, kita kasih kabar." ujarnya dengan bahagia.
Alfin mengangguk mantap, lantas pria berparas tampan itu merangkul sang istri dan mengajaknya ke kamar. Menemani dia yang istirahat sejenak sebelum melaksanakan shalat magrib.
...πππ...
Seusai shalat magrib, Yasmine lantas mengaji. Namun saat belum selesai ponselnya bergetar. Ia lantas menyudahi mengajinya dan menerima telepon. Di lihatnya layar ponsel yang menampilkan 'Sahabat Tersayang Calling ....'
Batinnya bertanya-tanya, 'ada apakah? Tumben sekali jam segini telepon.' Lalu bentuk kecil berwarna hijau ia gulir ke atas. "Assalamu'alaikum, Lif." sapa nya pada sang sahabat di seberang sana.
"Wa'alaikumsallam. Aku ganggu, ya?" tanya Lifa.
"Enggak, ada apa?" Yasmine penasaran sekali. Karena tidak biasanya saat ada sang suami, Alifa menelpon dirinya. Apalagi di jam-jam seperti ini. Jamnya Alfin dan Alifa mengaji bersama.
"Mmm, gini. Mas Alfin punya ide buat kita bertiga kumpul, makan malam di luar. Kamu mau tidak?" tanya Alifa. Sungguh ia sangat berharap kalau Yasmine kesayangannya itu mau. Tanpa mengerti bagaimana situasinya nanti.
Yasmine menarik sudut bibirnya, memikirkan bagaimana nanti di sebuah tempat makan. Ada dirinya, Alifa dan Alfin, suami mereka. Apakah ia akan di kacangi seperti dulu? Mungkin jika dulu ia dicueki tidak masalah, karena dulu ia bukan siapa-siapa bagi Alfin. Dan Alfin bukan siapa-siapanya. Tapi, jika sekarang? Apa tidak akan sakit hati dirinya? Saat melihat kemesraan keduanya.
Mengingat alasan dirinya pindah, Yasmine semakin bingung untuk menjawab. Ia mengerucutkan bibirnya panjang-panjang, bingung. "Mmmm, gimana ya?" gumam Yasmine.
"Kamu tidak mau, ya?" tanya Alifa dengan nada kecewa.
"Di restoran favorit," jawab Alifa nada bicaranya terdengar senang.
"Terus gimana, perginya?" tanya Yasmine lagi.
"Mmm, ya seperti biasa saja. Tunggu, aku tanya Mas Alfin dulu, ya?" Alifa terdengar tengah berbicara pada sang suami. "Perginya gimana, Mas?" terdengar pula jawaban Alfin. "Bisa bertemu di sana, atau Yayas mau di jemput?"
"Kamu bagaimana, Yas? Mau di jemput atau pergi sendiri?" tanya Alifa.
"Berangkat sendiri saja deh," jawab Yasmine tak bersemangat. Matanya kembali berkaca-kaca. Dalam hatinya mengatakan, 'aku nggak suka kayak gini.'
Akhirnya, karena tidak boleh mengendarai mobil sendiri. Yasmine pergi dengan taksi online. Wanita yang tengah hamil muda itu menatap jendela mobil, melihat ke arah luar. Jujur saja, perginya kali ini tidak sepenuh hati. Ada rasa ketakutan tersendiri, ia benar-benar tidak mau sampai sakit hati, jika melihat kemesraan yang ada di depan mata. Tapi, untuk menolak ia juga tidak bisa.
Akhirnya perempuan berpakaian serba warna abu-abu muda itu menurut dan pergi ke tempat di mana dulu dia dan sang suami makan berdua untuk pertama kalinya. 'Restoran Ayah,' ya ... di sana lah Alfin dan Alifa sudah menunggu kedatangan Yasmine yang memang tidak tergesa-gesa untuk pergi, justru memperlambat waktu. Karena ia berharap di tempat itu tidak akan lama. Agar tak lama juga memperhatikan dua bucin.
Dengan langkah pelan dan enggan, Yasmine melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut setelah turun dari taksi. Ia tak mengedarkan pandangan untuk mencari karena Alfin sudah memberitahu lewat pesan. Bahwa meja mereka ada di tempat dulu. Dulu, saat ia dan sang suami duduk.
Yasmine mendapati dari jauh dua manusia yang duduk berhadapan, saling melempar senyum dan seperti tengah mengobrol. Dan hal itu membuatnya sangat ingin putar balik dan beralasan tidak jadi datang. Namun sayang, Alifa keburu melihatnya dan melambaikan tangan padanya, membuat Alfin juga menoleh ke arahnya. Tersenyum lebar menyambutnya.
Dengan mengembuskan napas kasar dan senyum terpaksa, lantas Yasmine pun melangkahkan kakinya ke sana. Mendekat ke arah dua orang yang berdiri menyambutnya.
"Maaf ya, lama." katanya sembari memeluk sayang sahabatnya itu. Lantas menoleh ke arah Alfin dan salim dengan takzim.
"Tidak apa-apa, Yas." ujar Alifa. Ia tersenyum lebar saat mendapati Yasmine mencium dengan takzim tangan Alfin.
"Kamu duduk sini," ucap Alfin. Menarikan kursi yang ada di sebelah kirinya.
"Macet, tidak?" tanya Alfin lagi saat Yasmine sudah duduk di kursinya. Wanita itu menoleh ke arah sang suami dan menggeleng sebagai jawaban.
"Baguslah. Tapi, kenapa lama?" pertanyaan masih di dominasi oleh Alfin. Membuat Yasmine heran, lantas ia menoleh ke arah Alifa. Ia bisa melihat sang sahabat masih tersenyum lebar ke arahnya. Seolah sangat bahagia mendapati dirinya ada.
"Aku naik taksi," jawab Yasmine. Menoleh bergantian ke arah dua orang yang ada di sana.
"Kenapa? Mobilnya, mogok?" Yasmine mengembuskan napas kasarnya. Lalu menoleh ke arah Alfin. "Nanya terus. Nggak makan-makan ini!?" tanyanya pura-pura kesal. Padahal dalam hatinya ia sangat senang saat di tanya terus-menerus oleh sang suami. Namun, jika seperti itu tentu ia yakin kalau Alifa akan merasakan apa yang pernah ia rasakan. Sakit karena di cuekin.
Alfin tersenyum lebar, begitu juga Alifa. "Iya, Mas. Kenapa di tanya terus. Ayo, kita pesan makanan dulu. Baru deh bisa ngobrol lagi. Ya, 'kan Yas?" ia meminta persetujuan sang madu.
Yasmine menganggukkan antusias. "Betul. Orang manggil buat makan malah di tanya terus. Situ, wartawan?" tanyanya dengan konyol. Mencoba mengalihkan perasaan yang ada. Ia ingin sejenak saja menjadi sahabat bagi keduanya.
Alfin lantas memanggil pelayan dan menanyakan apa kemauan dua istrinya tersebut. Yang ternyata memesan makanan dan minuman yang sama. Ia sampai geleng-geleng kepala saat mendengar keduanya mengucapkan dengan bersamaan, apa yang mereka pesan.
'Semua yang mereka inginkan sama, termasuk dalam urusan menginginkan diriku,' ucap Alfin dalam hati yang lantas membuatnya tersenyum lebar. Sebentar saja ia merasa menjadi orang yang paling tampan. Sampai hatinya mengucap, 'Astaghfirullah.'