
Angin sore membuat pemuda tampan itu berjalan dengan rasa tenang. Seperti sang ayah yang mengajari anak-anak kecil mengaji, kini dirinya pun begitu. Saat ini senja sudah mulai menyapa, dan dirinya paling terakhir pulang karena tadi ia singgah sebentar di lapangan tempat anak-anak bermain bola seusai mengaji.
"Taqa!" pemuda yang tengah berjalan itu lalu menghentikan langkahnya, tanpa menoleh pun ia tahu siapa kiranya orang yang memanggilnya itu.
"Huh ... Hah ...." seorang perempuan berhenti di sebelah Taqa dan membungkuk memegangi lutut. "Jalan-nya cepet banget sih," sambung gadis cantik yang saat ini memakai gamis berwarna teracota dan jilbab hitam itu. Ia tak perduli pada Taqa yang membuang napas kasar karena lagi-lagi dia mengejar pemuda tampan itu.
Sebenarnya Taqa sudah memperingati gadis bernama Hasna itu, untuk tidak lagi memanggil-manggil dirinya dan mendekatinya. Bukan karena apa, karena Taqa paling malas di gosipkan oleh warga sekitar. Tapi sayang, gadis yang seusia dengan dirinya itu tak perduli.
"Ayo jalan, A'Ustad," kata Hasna lagi dengan wajah sok manisnya.
"Jalan duluan. Aku mau balik ke mushala. Kayaknya lebih baik putar haluan," begitu ujar Taqa.
"Oh gitu. Ya sudah, aku juga." Hasna ikut memutar tubuhnya mengikuti Taqa.
"Astaghfirullah!" Taqa tak jadi memutar tubuh, ia kembali berjalan ke arah rumah. Jangan lupa, Hasna pun turut di sebelahnya.
Berjalan dengan riang dan langkah yang senang, gadis itu kembali berbicara. "Aku lagi kesel banget loh, Qa. Kamu dengerin ya," katanya.
"Hm," jawab Taqa.
"Masak, mama aku mau nikah lagi," kata Hasna dengan nada sedih. Bersamaan dengan itu, Taqa juga berhenti. Memandangi perempuan yang saat ini tetep berjalan di depannya, sampai akhirnya gadis itu berhenti dan menoleh. "Ayo, sambil jalan." katanya lagi.
"Kenapa memangnya, kalau mama kamu menikah lagi?" tanya Taqa saat dirinya sudah kembali di sebelah Hasna.
"Ya 'kan aku jadi punya papa tiri, Taqa. Padahal papa aku masih hidup loh. Aku 'kan maunya, papa sama mamaku rujuk aja, bukan malah pada ganti pasangan." begitu ujar Hasna menceritakan keinginannya.
"Oh. Ya udah, kamu bujuk aja orangtua kamu buat rujuk," ujar Taqa enteng.
"Ck, coba semudah itu ya," gumam Hasna lagi. Taqa hanya mengedikan bahu. "Aku takut, papa tiriku atau mama tiriku nggak baik, Qa," sambung gadis itu lagi.
"Aku nggak bisa komen apa-apa. Aku cuma mau bilang, kalau mama ataupun papa tiri, nggak semua jahat. Buktinya ayahku begitu baik, Na. Kamu tahu sendiri 'kan, Ayah Arya kayak gimana sama aku." kata Taqa lagi.
"Iya sih. Tapi 'kan pastinya nggak semua anak seberuntung kamu memiliki papa dan mama tiri yang baik," Hasna menoleh memperhatikan raut wajah temannya itu.
"Kamu juga punya mama tiri 'kan ya, Qa?" gadis itu kembali bertanya. "Malah ya, yang aku dengar kamu juga punya adik tiri kembar. Gimana sih rasanya punya sauda tiri, Qa?"
Taqa menatap wajah Hasna dengan bingung. Bukan marah, ia justru tak mengerti seperti apa rasanya. Yang ia tahu, rasanya adalah sakit, dan cemburu.
"Nggak tahu lah. Kamu ngomongnya jadi merembet ke mana-mana. Perasaan kamu lagi cerita masalah kamu, kenapa jadi ke aku." Taqa meninggalkan Hasna begitu saja.
"Bisa-bisanya si Hasna malah ngomongin tentang aku," sambung Taqa lagi bergumam.
"Taqa! Tungguin!" seru gadis cantik itu lagi.
...----------------...
"Assalamualaikum!" Taqa masuk ke dalam rumah. Ia langsung mendapati Taqi yang sudah siap dengan mukenah nya menuju mushala kecil yang ada di rumah.
"Kirain nggak pulang," ujar Taqi.
"Bilang Ayah suruh tunggu ya, Qi. Kakak mau wudhu dulu." Taqisha menganggukkan kepalanya setuju. Sampai lupa untuk membalas salam dari sang kakak.
Hingga akhirnya, shalat telah usai dan Taqa masih mengangkat keuda tangannya berdoa pada sang Maha Kuasa. Pun dengan yang lain. Setelah itu, Yasmine dan Arya lanjut mengaji, sedangkan kedua anaknya lantas pergi ke kamar. Biasanya jam-jam seusai magrib keduanya akan belajar.
Tapi saat ini, Taqa tengah berdiri memperhatikan dua manusia yang sama-sama masih menghadap ke arah kiblat dengan Al-Qur'an yang masih mereka baca. Ia memperhatikan dua punggung itu dengan gumaman di dalam hati. 'Kamu nggak tahu, Hasna. Antara kita berbeda. Ibuku memilih ayah Arya karena ayahku tak baik untuk ibuku. Sedangkan kenapa aku memiliki mama tiri, itu karena dia memang istri pertama ayahku. Kamu nggak akan ngerti gimana rasanya jadi aku, Hasna. Lahir dari rahim sang istri ke dua, dan tidak mendapat kasih sayang dari ayah kandung. Kisah orang tua kita beda, Hasna.'
Dengan langkah pelan, Taqa kembali ke kamarnya. Dalam hatinya kembali mengatakan sesuatu. 'Tapi aku bersyukur, Hasna. Karena dengan bertemu dengan Ayah Arya, ibu jadi bahagia, terlebih saat mendapat karunia adik seperti Taqi, yang menambah hangatnya suasana dan keharmonisan keluarga kecil ini. Terimakasih Ya Allah. Dan maaf Ya Allah, jika hati ini masih terus merasa iri.'
Begitu akan sampai di kamar, Taqa melihat ke dinding yang di mana di sana terdapat foto keluarga. Ada Yasmine, Arya, dirinya dan Taqi di sana. Semuanya tersenyum ke arah kamera dan foto itu di ambil saat Taqi masih kecil sekali, sekitar umur 2 tahunan. Dan dirinya pun masih imut pada saat itu.
"Kenapa, Kak?" suara Taqi membuatnya menoleh ke arah suara. "Apanya yang kenapa?" tanya balik pemuda itu.
"Perasaan Kakak lagi jadi pemuda yang pendiam. Nggak pas aja sama muka yang ada di foto itu, lihat deh ... Pasti pas itu Kakak secerewet aku." ujar Taqi yang mendekat dan berdiri disebelah sang kakak.
Taqa tersenyum lebar. Ia lantas mengusap rambut Taqi, tidak. Lebih tepatnya ia mengacak-acak rambut adiknya itu. "Sok tahu, kamu." katanya gemas.
"Kak! Berantakan rambut Taqi ...."
Bukannya marah, Taqa malah tertawa. Terlebih saat melihat rambut panjang Taqi yang kini berantakan sekali, menutupi wajah manyun perempuan itu.
"Haha, kayak hantu kamu, Qi," ujar Taqa.
"Kak, beresin lagi rambut aku, nggak!" adik cantik itu masih kesal, memasang kedua tangannya di pinggang. Tak mau tahu, ia maunya sang kakak yang kembali merapikan rambut panjangnya.
"Ayo Kak, jangan ketawa mulu!" lagi-lagi suara Taqi terdengar kesal. "Aku nggak mau ya, nanti ibu marah kalau pas nyisir rambut aku terus susah," sambung gadis cantik itu.
Masih dengan tertawa, Taqa mulai merapikan kembali rambut adiknya itu. "Maaf-maaf Adik Cantik. Ni, kakak rapikan ya." katanya.
"Iketin!" Taqi memberikan ikat rambut pada kakaknya.
"Dih, ogah. Tadi aja nggak di iket," Taqa menolak permintaan sang adik.
"Itu karena tadi masih basah, Kak," Taqi tak mau malah.
"Baiklah, Adik cerewet." Walau setengah kesal tapi Taqa tetap mengikat rambut panjang Taqi dengan benar. Karena memang dia sudah terbiasa untuk membuat rambut adiknya agar semakin cantik.