Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 130 # Dua Sahabat


"Bagaimana rasanya, pasti susah ya, mana gede banget gini," tangan Yasmine masih senantiasa mengusap perut besar Alifa.


Kini keduanya tengah duduk berdua di taman belakang. Menghadap kolam ikan yang belum lama di buat oleh ayah Ilyas. Maklum saja, semakin tua rasanya ia semakin bosan tidak ada kegiatan di rumah. Sedangkan untuk ke kantor tak lagi di izinkan oleh sang putra, bahkan kini kendali kantor ada di tangan sang anak pertama.


Main dengan cucu pun tak bisa, cucunya jauh di sana bersama anak bontot nya. Jadi, ya itulah kesibukan lelaki paruh baya itu, merawat ikan.


Kembali ke Alifa dan Yasmine. Wanita hamil itu tersenyum. "Rasanya nikmat sekali, awal-awal aku sampai sakit Yas, karena tidak bisa makan sama sekali," katanya pada sang sahabat.


"Ya Allaah, kasihan banget, dulu aku malah nggak sadar aku hamil," kata Yasmine biasa saja.


"Ya jelas, orang yang kena morning sickness Mas Alf--" jawaban dari Alifa berhenti, bersamaan dengan usapan tangan yasmine di perutnya.


Keduanya tersenyum masam, "iya. Harusnya kamu juga gitu. Biarkan Al aja yang merasakan, kamu jangan," kata Yasmine.


"Karena rasanya ke kamu lebih besar, Yas," ucap Alifa lagi.


Yasmine lantas memutar tubuh, melihat ke arah taman. Mengembuskan napas kasar dan tersenyum masam. "Rasa yang dia miliki sama besarnya, entah padaku ataupun padamu, dan itu hanya saat dulu. Sekarang ... tujuh tahun sudah berlalu, aku bahkan akan memulai rasaku kembali dengan orang lain. Yang aku harapkan, bisa menerima keadaan diriku dan anakku apa adanya."


"Tapi, sampai sekarang rasa itu masih ada, Yas. Netra kalian tidak bisa bohong," Alifa mengatakan lagi.


Yasmine tertawa lirih, "sudahlah. Mata memang nggak bisa bohong, tapi hati bisa di suruh. Maka dari itu, aku akan memerintahkan hatiku untuk mencoba mencari kebahagiaan dengan orang baru, nggak baru juga sih. Kenalnya juga lumayan lama," katanya.


"Semoga memang jodoh akhir untukmu, Yas," kata Alifa mendoakan.


"Aamiin, aku juga berharap seperti itu. Tahu sendiri 'kan. Kita ini sudah mulai menua, usia hampir kepala empat," Yasmine menoleh ke arah sang sahabat dan tertawa di akhir kalimatnya.


"Dan aku baru hamil," Alifa menambahi.


"Allhamdulillah dong." Yasmine memeluk sang sahabat.


"Iya, kamu benar." Alifa membalas pelukan hangat yang sudah lama tak ia dapatkan itu.


...----------------...


Sementara itu, di ruang keluarga.


Ayah tengah ngobrol dengan Arya. Sedangkan Alfin tengah menemani sang anak yang lagi asyik bermain dengan sang nenek. Lelaki itu tengah mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan anak tampan itu, walaupun masih merasa sulit, karena tiba-tiba saja sang anak tidak mau dengannya. Bahkan panggilan 'ayah' hanya sekali saja ia dengar, saat itu.


Arya tersenyum, "Bapak tahu sekali," katanya.


"Baiklah, begini Pak Ilyas ... kedatangan saya ke rumah mewah Bapak, pertama untuk silaturahmi, kedua untuk meminta restu, meminta anak bapak, lebih tepatnya meminta izin, untuk menyunting Mbak Yasmine untuk saya jadikan seseorang yang sepesial bagi saya," ucap lelaki itu. Pria paruh baya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tapi, saya bukan siapa-siapa Pak. Hanya lelaki berstatus duda, yang pastinya Bapak tahu, kalau saya ini pengangguran," sambung Arya.


"In Syaa Allaah, jika di bolehkan saya ingin membahagiakan putri bapak dengan kasih sayang yang sebisa mungkin saya berikan, menjadi ayah sambung bagi cucu Bapak yang sangat tampan, ya ... walaupun saya tahu, dengan bapak dan ibu saja, pasti sudah bisa membuat Mbak Yas dan Taqa bahagia," kata Arya lagi.


Ayah Ilyas tertawa, lantas ia memukul pelan pundak lelaki yang ingin menikahi anaknya itu. "Jadi, seperti ini ya ... rasanya saat anak perempuan kita di minta oleh seseorang," ucapnya.


"Entah kenapa, Nak. Ayah benar-benar merasa senang sekali. Tolong bahagiakan dia, dan jangan ukur kita dengan kekayaan. Karena sebenarnya setiap manusia itu kaya, di sini," ucap ayah Ilyas lagu dengan menunjuk dadanya.


"Jadi, di terima Pak, lamaran saya?" tanya Arya memastikan.


"Jelas lah, Nak Arya. Ayah yakin kalau kamu sudah di bawa ke sini, berarti antara Yasmine dan kamu sudah bicara bukan. Ini jelas hanya untuk kemantapan saja," ujar ayah Ilyas.


"Betul Pak, saya dan Mbak Yas sudah saling bicara," Arya membenarkan.


"Alhamdulillah kalau gitu, Ayah dan ibu jelas setuju, begitu juga dengan kakaknya, yang sering ngobrol kalau ketemu kamu itu," ucap ayah.


"Iya, saya paham. Plong sudah rasanya Pak. Jika sudah seperti ini, nanti tinggal saya dan ibu saya ke sini," kata Arya lagi.


"Oh, tidak perlu. Kasihan kejauhan. Kita atur segalanya nanti di rumah Yasmine. Kita rundingan di sana, kapan akad nya," begitu ujar ayah mantap.


"Ya Allaah, terimakasih Pak," Arya mencium punggung tangan ayah Ilyas.


...----------------...


Hatinya berdebar, niatnya ia masuk untuk mengambilkan mainan yang ia beli untuk sang anak. Namun, ia malah harus berdiam di tempat demi mendengarkan apa yang di katakan dua pria yang tengah berbicara serius.


Bibirnya tersenyum sinis, ini sudah sangat lama tapi rasanya ia masih belum rela. Ya Tuhan, rasa cinta yang ia miliki nyatanya tak mudah begitu saja lupa. Kendati ia tengah bahagia menyambut kedatangan anak ke dua dan ke tiganya, namun tak bisa di pungkiri jika rasa maruk nya masih ada.


Ya, katakan saja dia serakah. Karena, pada kenyataannya itulah yang dia rasakan. Ia tetap ingin keduanya. Kendati setiap hari ia selalu mencoba melupakan segalanya dengan semakin membuat sang istri yang kini satu-satunya menjadi sangat nyaman. Namun ... ah sudahlah, sekarang tak perlu di pikirkan bukan. Harusnya dia bisa melihat ibu dari anak pertamanya itu bahagia, jangan ingin bahagia sendiri saja.


Alfin menganggukkan kepalanya, "baiklah ... selamat, sudah bisa lupa akan rasa yang pernah ada. Semoga jodoh sampai surga. Maaf, jika hatiku masih merasakan rasa yang sama, walaupun sudah sekian lama," ucap lelaki itu dengan suara yang tak terdengar. Berupa gumaman yang hanya sampai ke telinganya.