Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 140 # Ungkapan (Bagian 2)


"Kamu apa, Mas?" tanya Yasmine yang tidak sabar dengan apa yang akan di katakan sang suami, lantaran terlalu lama menggantung kalimat selanjutnya.


Arya mencondongkan tubuhnya ke arah Yasmine, tatapannya masih serius. Lantas bibirnya terbuka dan melanjutkan apa yang ingi ia katakan. "Aku," ucapnya lagi-lagi terputus. Di tatapnya netra bening sang istri. "Mencintaimu, istriku," sambungnya dengan sangat lirih. Namun mampu membuat wanitanya itu meneteskan air mata bersamaan dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Kenapa nangis?" tanya Arya dengan sedikit tertawa di akhir kalimatnya. Yasmine tak menjawab apapun selain gelengan kepala dan air mata yang semakin deras.


"Loh, kok malah tambah nangis," ucap Arya dengan panik, sampai membuatnya segera membawa sang istri ke dalam dekapan dan ciumnya lama-lama puncak kepala yang tertutup jilbab.


"Kenapa, Mas?" tanya balik Yasmine sembari mengeratkan dekapan sang suami. Tangan mungilnya melingkar memeluk tubuh besar lelaki itu.


"Kenapa apanya?" tanya balik Arya yang masih setia menciumi kepala sang istri.


"Kenapa kita baru dipertemukan sekarang, kenapa tidak dari dulu saja," kata Yasmine.


Arya semakin melebarkan senyumnya, dekapannya untuk sang istri pun semakin erat. "Jika kita dipertemukan dari dulu, kamu tidak akan jadi wanita yang kuat seperti sekarang," katanya pada sang istri.


"Iya benar," Yasmine menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia melepaskan diri dari dekapan sang suami. Ditatapnya wajah tampan di depannya itu, yang tangannya kini tengah mengusap jejak air mata di pipi mulusnya.


"Kamu benar, Mas. Aku wanita kuat. Tapi mulai sekarang aku nggak mau pura-pura kuat, bolehkan aku sedikit lemah dan kembali menjadi diriku yang manja, bukan jadi Yasmine yang tegar dan bisa menghadapi segala masalah," sambungnya pada sang suami.


Arya menggeleng, "kamu nggak boleh berhenti dari kuat, apalagi jadi lemah. Kamu harus tetap kuat, karena aku akan menambah kekuatan di dadamu, tanpa menjadikanmu lemah di hadapanku."


Yasmine membeku di depan suaminya itu. "Jangan sungkan untuk manja padaku, akulah tempat bermanja-mu sekarang, jangan sok kuat di depanku, tapi benar-benar kuatlah karena aku akan ada bersamamu, melewati kesempatan berikutnya dengan kekuatan cinta yang ada di dalam dada," sambung Arya. "Eh, tapi kamu belum jawab pernyataan cinta aku loh," sambung Arya.


Yasmine tersenyum, "aku juga, Mas. Aku cinta sama kamu," katanya tanpa rasa gugup sedikitpun.


Jujur saja, entah kenapa, di depan lelaki yang baru menghalalkan dirinya itu ia seolah sudah lama kenal. Seolah mudah untuk apapun, mungkin karena tak perlu menjaga perasaan orang lain, dan hak suaminya untuk dirinya sendiri. Jadi, ia lebih mudah untuk menumbuhkan rasa.


...----------------...


Malamnya setelah makan malam di rumah ibu Sufi, ketiganya lantas pulang. Kini Taqa tengah belajar di kamarnya, ditemani ayah dan sang ibu yang duduk di atas ranjang.


Sampai Taqa mengatakan ngantuk dan menggosok giginya, tentu saja kegiatan malam sebelum tidur itu ditemani kedua orangtuanya. Sampai wudhu anak tampan itu bolak-balik di ulang gara-gara seringnya ia mengatakan "seneng banget, ditemani Ayah dan Ibu sekaligus," begitu ucap anak tampan itu berkali-kali.


Tentu saja Taqa bahagia, biasanya anak tampan itu akan ditemani sang ibu saja. Sekarang ia bebas bersama sang ayah yang sangat baik padanya. Mengambilkan sikat gigi, memberi pasta gigi di atas bulu-bulu lembut sikat itu, sampai menemani di dalam kamar mandi.


Yasmine yang ikut menemani hanya bisa membiarkan sang suami membantu kegiatan sang anak, padahal jika dengan dirinya saja, ia tak pernah membantu sedikitpun. Hanya menemani, tidak lebih.


Begitu selesai, anak tampan itu lantas berbaring di atas ranjang yang sudah di sapu oleh sang ibu. Begitu berbaring, sang ayah menemani dengan duduk di pinggir ranjang dan menuntun membaca doa sebelum tidur serta surat-surat pendek. Barulah setelah itu kedua orangtuanya pamit keluar dari kamarnya.


"Makasih, Ayah, Ibu," kata Taqa saat ibunya memegang kenop pintu, bersiap untuk keluar dari kamar sang putra.


"Dia benar-benar bahagia," ucap Yasmine saat baru saja menutup pintu kamar Taqa dari luar. Arya masih berdiri di depannya.


"Alhamdulillah," jawab sang suami.


"Iya, dan ini semua berkat dirimu," ucap Yasmine.


"Berkat dirimu yang mau menerimaku." kata Arya yang lantas merangkul sang istri.


"Ayah sudah mau istirahat?" tanya Yasmine seraya menatap wajah sang suami.


"Iya, Ibu. Ayah pengin menjalankan kewajiban sebagai seorang suami, apa boleh?" tanya balik Arya dengan pelan ditelinga sang istri.


Yasmine mengangguk, "boleh, tentu saja boleh."


Kesempatan baik itu langsung di gunakan dengan hati bahagia oleh Arya. Bahkan lelaki itu langsung menggendong sang istri ala bridal style menuju lantai dua, di mana kamar sang istri berada, yang kini menjadi kamar keduanya.


Begitu sampai, lelaki itu lantas mengajak sang istri untuk wudhu dan shalat sunah dua rakaat sebelum melakukan hubungan suami-istri. Tentu saja Yasmine menurut, bahkan dengan senang hati. Karena jujur saja, Yasmine merasa mantap memiliki suami seperti Arya, ia langsung merasa menjadi seorang istri dari detik pertama terucap nya ijab.


Kini, dua manusia itu sudah berada di dalam selimut. Setelah membaca doa, Arya lantas tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dari mulai menyatukan wajahnya pada wajah Yasmine, sampai berjalan ke dua bukit indah, sampai turun ke lembah yang sudah sangat lama tak terjamah.


Indah, dan nyaman. Rasanya mereka seolah tengah sama-sama terbang menyentuh awan, sampai jatuh ke dalam gulungan ombak yang lantas membawa keduanya ke dasar laut, lantas keluar dan terbang kembali mencapai puncak nirwana, mencapai bahagia.


Hingga akhirnya kedua manusia itu sama-sama terkulai lemas, namun masih dalam keadaan yang bahagia. Saking bahagianya, senyum manis serta malu-malu masih setia di bibir keduanya.


Kecupan hangat masih bisa di rasakan Yasmine di puncak kepalanya, begitu juga pelukan. Kendati badannya tengah gerah dan lengket, tapi dekapan itu membuatnya merasa nyaman. Sampai tak ingin beranjak, jika tak mengingat harus mandi setelah itu.


Tak ada ungkapan selain, "terimakasih, Istriku," dan "i love you," yang di ucapkan Arya. Namun, itu semakin membuat Yasmine senang tidak terkira.


Terlebih saat mendapati kabar jika keadaan Alifa mulai membaik. Jadi, ia tak terlalu memikirkan. Lagipula, benar kata ibu. Sekarang dia adalah seorang istri, jadi yang diutamakan darinya sekarang adalah sang suami bukan.


Benar saja, setelah waktu yang dirasa cukup. Keduanya lantas mandi bersama. Tentu saja hanya mandi, tak melanjutkan kembali kegiatan membahagiakan itu di kamar mandi, karena tidak di bolehkan.


Kini, Yasmine tengah tersenyum mendapati sang suami yang tengah telaten mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, setalah itu, Arya juga dengan sigap menyisir rambut hitam, legam panjang miliknya.


"Cantik sekali," puji Arya di pantulan cermin yang menampilkan gambar dirinya yang berdiri di belakang sang istri yang sedang duduk dengan wajah cantik dan bibir tersenyum.


"Makasih," kata Yasmine seraya mengambil tangan sang suami dan mencium telapak tangan itu.