
Matanya berembun, bibirnya tersenyum sinis. Dengan pelan, perempuan yang tengah merasakan sakit hati yang luar biasa itu lantas memutar tumit dan meninggalkan rumah mewah berlantai dua milik suami dan istri tercintanya. Beruntungnya kehadiran dia tidak di sadari, baik oleh sepasang suami-istri bucin maupun oleh Mbak Ina.
Dengan perasaan yang hancur berkeping-keping, Yasmine keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil dengan buru-buru, lantas ia mulai menjalankan kendaraan roda empatnya itu. Meninggalkan pelataran rumah yang dulu selalu menjadi tempat terindah untuknya berbagi cerita. Namun, kini semua sudah berbeda.
Air mata yang sudah ia halau ternyata tetap saja keluar, rasanya ia ingin teriak sekencang mungkin. Hatinya sakit, sakit sekali. "Kenapa, Lif?" tanyanya pada jalan yang tengah ia lewati.
Berkali-kali ia hapus air mata yang keluar dari matanya itu, namun alih-alih berhenti butiran bening itu justru semakin banyak. Membuatnya susah untuk melihat jalan di depannya.
Sekarang ia tak tahu tengah menjalankan mobilnya ke arah mana, yang jelas ia ingin pergi jauh dan tak mau menemui semua orang yang sudah ia sakiti. Ya, menurutnya ia lah yang salah. Karena harus hadir di antara cinta yang sama-sama besar tak tertandingi. cinta Alfin dan Alifa.
Sekarang mobilnya mulai jauh dari rumah Alifa, ia berada di jalan yang tak terlalu besar yang ia tak tahu itu di mana. Lantas, perempuan yang tengah bersedih hati itu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Gadis itu memeluk setir dan membenamkan wajah di lengannya. "Harusnya, kamu tidak menyuruh Alfin, Lif. Sekarang, apa yang bisa aku lakukan?" tanyanya penuh rasa sakit.
"Kamu tahu, sekarang aku mencintainya, tapi ... aku tidak bisa bertahan dengannya, aku harus apa, Lifa?!"
"Alfin. Harusnya kamu dulu nurut dengan apa yang aku katakan. Harusnya kita selesaikan semuanya dulu, saat rasa cinta ini belum ada."
"Bahkan kini ... bukan hanya cinta, tapi ada si buah hati," ucapan Yasmine begitu menyayat hati. Sedihnya sampai ke relung terdalam.
Sekarang ia begitu merasa perih, walaupun niat untuk pergi dari sang suami memang sudah ada. Namun ia tak pernah menyangka jika rasanya akan sesakit ini, saat mendengar tangisan penuh sayatan luka dari sang sahabat tercinta.
"Cinta tidak bisa di bagi dengan saudara, Lif. Jadi bagaimana mungkin kamu membaginya denganku yang notabenenya hanya sahabat?"
Semua yang ingin ia katakan ia keluarkan semua. Bahkan entah berapa lama perempuan itu di sana, ia benar-benar tak menyadari waktu. Sampai langit yang tadinya terang berubah gelap. Jalan yang awalnya ramai kini mulai sepi, kumandang adzan magrib pun mulai terdengar.
Hingga akhirnya, Yasmine menghapus air matanya dan menjalankan kembali mobilnya menuju masjid terdekat. Ia memakirkan mobilnya dan keluar lalu berjalan menuju tempat wudhu. Lanjut masuk ke dalam masjid dan ikut shalat berjamaah di sana. Ia ambil barisan paling belakang, agar tak membuat orang-orang memperhatikan wajahnya yang sembab.
Saat semua orang mulai keluar satu persatu, ia masih tetap di sana. Menunduk diam. Menatap ujung mukenah dengan perasaan bingung. Ia butuh seseorang sekarang. Tapi, siapa?
Lantas, pikirannya tertuju pada seseorang yang mungkin bisa mendengarkan dan memberikan solusi akan masalah barunya.
Yasmine lantas berdiri dan melipat mukenah, lalu keluar dari masjid dan masuk ke dalam mobil. Ia pun langsung menjalankan mobilnya menuju rumah seseorang yang ingin ia temui.
Ia berharap kalau kali ini orangnya sangat tepat.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Mobilnya kini sudah terparkir di belakang mobil seseorang yang sangat ia sayangi. Lalu, perempuan itu pun keluar dari dalam mobil. Berjalan pelan ke arah rumah sederhana namun besar, berlantai satu. Dengan halaman rumah yang penuh dengan pohon dan bunga.
"Ya-Yasmine," ucap Zahra terbata-bata. Ya, orang yang menjadi tujuan Yasmine kali ini adalah Zahra, sang kakak ipar.
"Aku ganggu ya, kak," ucap Yasmine dengan seraknya.
Zahra yang masih mengenakan mukenah itu menggeleng, lantas ia memanjangkan lehernya, mencari siapa gerangan yang ikut datang dengan sang adik ipar, namun nyatanya hanya ada Yasmine saja di depannya.
"Tidak mengganggu, ayo masuk. Kamu sama siapa?" tanya Zahra sembari menyeret pelan lengan Yasmine dan menutup pintu kembali.
Wanita hamil itu lantas duduk di ruang tamu, dengan Zahra di sebelahnya. Kakak iparnya itu melihat wajah Yasmine dengan bingung lantaran mata yang sembab, hidung yang merah.
"Kamu, kenapa?" tanya Zahra dengan pelan. Yasmine hanya mampu menatap Zahra dengan diam. "Sebentar." Zahra berdiri dari duduknya ia lantas pergi untuk mengambil air minum untuk sang adik ipar.
Keadaan rumah Zahra begitu sepi, membuat Yasmine menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan orang lain.
"Ini, minum dulu ya," Zahra memberikan segelas air putih. Yasmine menerimanya dan meminumnya. Lalu menaruh kembali gelas itu di atas meja.
"Orang tua Kakak tengah menginap di rumah Nini, jadi sepi. Mas Yahya sedang di Bandung, Kaka sendirian sekarang. Kamu boleh cerita sama kakak, ada apa?" Zahra menjelaskan sekaligus bertanya.
"Aku ingin menyudahi rumah tanggaku, Kak," ucap Yasmine dengan pelan. Menunduk dengan lelehan air mata yang kembali keluar membasahi pipi.
"Astaghfirullah," ucap Zahra. Wanita yang kini menjadi kakak ipar Yasmine itu lantas membawa sang adik ke dalam pelukannya.
"Tapi, kenapa Yas?" tanya Zahra lagi. Ia tentu tak tahu permasalahannya, yang ia tahu antara sang adik dengan madu-nya baik-baik saja. Pun dengan suaminya.
"Kehadiranku dan anakku menyakiti Alifa, Kak. Dan aku nggak mau itu berlangsung lama," kata Yasmine.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu, Yas. Yang Kakak tahu, kalian baik-baik saja selama ini," ucap Zahra lagi.
"Hati manusia siapa yang tahu, Kak?"
Zahra mengangguk, ia masih setia mengusap punggung Yasmine. Ia yakin, jika sang adik ipar jelas tengah merasakan sakit hati yang begitu amat sangat sakit. Karena, menurut suaminya, Yasmine ini adalah wanita yang cerewet yang jarang menangis, yang paling susah untuk mengalah, keras kepala juga galak. Namun, sebagai sesama wanita Zahra tahu persis, segalak-galaknya seorang wanita, jelas ada sisi lembut yang tidak mudah begitu saja di perlihatkan.
"Iya, Yas. Kakak hanya melihat. Tidak merasakan apa yang kamu rasa. Tapi, kakak yakin, jika kamu sampai sesedih ini, dan lari mencari seseorang untuk kamu ajak bicara. Kakak bisa tahu rasa yang ada di dalam dada," Zahra masih mendekap erat sang adik ipar.
"Sekarang kamu tenang dulu ya, tarik napas dalam-dalam biar air mata kamu tidak keluar terus-menerus. Setelah itu kamu boleh cerita sama Kakak, biar kita bisa cari solusinya bersama ya," ucap Zahra lagi. Ia bahkan turut meneteskan air mata, karena tangis Yasmine yang sesenggukan di dalam dekapannya.