Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 061 # Kabar Bahagia


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Mulai hari ini, sang suami kembali ke rumahnya. Tentu saja di sambut degan senyum yang lebar oleh Yasmine di teras rumah. Ia berdiri degan tangan yang melambai menyuruh agar sang suami cepat turun.


Lelaki yang baru turun dari mobilnya itu tersenyum lebar, mendekat ke arah sang istri dan buru-buru memeluknya. "Assalamu'alaikum, Ayang Ayas," ucapnya sembari mencium lama puncak kepala sang istri yang tertutup jilbab.


"Wa'alaikumusallam, Suami Bucin. Aku rindu," jawab perempuan yang tengah membalas pelukan sang suami dengan tak kalah erat.


"Belum salim," ucap Yasmine lagi. Ia lantas mengurai pelukan dan mengambil tangan sang suami. Diciumnya lama-lama punggung tangan yang sudah sangat ia rindukan itu.


"Kamu, apa kabar?" tanya Alfin. Mengusap sebelah pipi sang istri.


Yasmine mengangguk antusias. "Baik dong. Kamu baik juga 'kan?" Yasmine langsung memeluk lengan sang suami dan mengajaknya untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


"Selalu baik, karena ada doa para wanita shalihah yang selalu mendoakan ku," kata Alfin.


"Ish, ge-er. Aku nggak pernah doain kamu tuh." gerutu Yasmine.


"Kamu yang ge-er. Orang yang aku maksudkan ibu, Umi, Mama kok." Alfin tak kalah sekarang. Ia bisa menjawab gurauan sang istri.


Yasmine tak menjawab, ia justru tersenyum dan mencium lengan sang suami. Bau di baju Alfin begitu menyegarkan membuatnya ingin meminta untuk di lepas dan di dekap kain yang menempel di badan suaminya itu.


"Mbak Yas. Susunya mau di taruh di mana?" tanya mbak Fifi. Suaranya membuat Alfin dan Yasmine menoleh ke belakang mereka.


"Di meja saja Mbak. Nanti aku minum," jawab Yasmine.


"Kamu minum susu, sore-sore seperti ini? Tumben," kata Alfin.


"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Yasmine.


"Boleh dong. Mau duduk, apa ke kamar dulu?" tanya Alfin lagi.


"Duduk yuk! Aku pengin ngobrol sama kamu." Alfin lantas menuruti sang istri. Ia mendudukan dirinya di sofa di susul Yasmine di sebelahnya.


"Mau ngobrol apa? Eh, sebentar." Alfin kembali beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Ternyata ia megambil minum. Dan saat tak senagaja netra nya melihat ke arah tempat sampah, ia melihat ada dus susu bergambar ibu hamil. Matanya menyipit, dahinya berkerut. Sudut hatinya merasa bahagia. Jadi apa praduga nya adalah benar.


Ia lantas dengan buru-buru kembali ke sofa, di mana istrinya menunggu di sana sembari meminum susu hangat buatan mbak Fifi. Alfin lantas kembali duduk di sebelah Yasmine. Ia tersenyum manis ke arah wanita cantik itu, membuat perempuan yang tengah meminum susu itu menoleh dan menaruh kembali gelas ke atas meja.


"Ayo, Ayang. Katanya mau ngomong," ucap Alfin. Ia benar-benar tidak sabar.


"Tapi, kamu janji jangan marah ya?" Alfin mengangguk dengan apa yang di katakan Yasmine.


"Ak--aku ...," ucapnya terhenti. Ternyata susah mengatakan pada Alfin. Padahal sang suami sudah mengangkat alis tinggi-tinggi, memasang telinga agar bisa mendengar dengan baik.


"Apa? Kamu apa?"


Yasmine menunduk. "Aku, hamil," ucapnya pelan.


"Alhamdulillah, Ya Allaah. Terimakasih," ucap Alfin penuh syukur. Lelaki itu bahkan langsung turun dan sujud di lantai. Membuat Yasmine yang melihatnya tersenyum dan terharu.


Alfin lantas kembali ke sofa dan memeluk sang istri. "Makasih, Ayang. Selamat, kamu akan menjadi ibu," ucapnya tulus. Bahkan sudut mata pria itu basah lantaran air mata bahagia.


"Selamat juga untuk kamu, Suami bucinku. Kamu akan jadi ayah," ucap Yasmine di dalam dekapan sang suami.


Tangan Yasmine terulur untuk mengusap air mata itu. Lalu, Alfin mendekatkan wajahnya di perut sang istri Mencium penuh sayang bagian tubuh yang masih rata itu. Membuat tangan wanita itu mengusap kepala sang suami.


"Sudah berapa bulan, Ayang?" tanya Alfin saat sudah kembali melihat sang istri dari posisi berlutut-nya.


"Sudah sepuluh minggu," jawab Yasmine.


Alfin melebarkan kelopak matanya. "Jadi, saat kita makan malam bertiga itu, apa kamu sudah mengetahuinya?"


Yasmine mengangguk. Alfin tersenyum, mengusap pipi sang istri. "Apa yang kamu pikirkan, sampai tidak langsung memberitahukannya padaku?"


"Bukan nggak ingin. Tapi, aku takut dengan kabar ini, Alifa sedih karena dia belum mendapatkan nya." kata Yasmine jujur.


Alfin mengangguk. Lalu ia kembali duduk di sebelah Yasmine. Ia membawa sang istri ke dalam dekapannya kembali. "Iya, kamu benar. Kita perlu momen yang pas, untuk mengatakan ini pada Alifa dan semuanya. Yang jelas, mereka semua pasti akan bahagia. Termasuk Alifa.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Begitu ngobrol selesai, keduanya lantas masuk ke dalam kamar. Alfin dam Yasmine sama-sama shalat magrib. Setelah itu, calon ayah itu membuka Al-Qur'an dan mengaji di depan sang istri. Ia membaca surat maryam dan surat yusuf.


Yasmine pun sama, sembari membaca sembari mengusap perutnya yang masih rata. Ah, rasanya sejuk sekali. Dua manusia yang tengah bersyukur, melantunkan ayat-ayat suci bersama.


Hingga isya keduanya baru selesai, lantas di sambung langsung shalat isya. Barulah, setelah isya keduanya keluar dari kamar untuk makan malam.


"Ayang!" panggil Alfin pada Yasmine yang tengah melipat mukenah.


"Ya," jawab Yasmine sembari menoleh.


"Aku juga mau mengatakan sesuatu," ucap Alfin mendekat. "Ini," ia menunjukan sebuah ponsel dengan gambar sang istri di sana.


"Apa sih?" tanya Yasmine penasaran. Ia lantas melihat gambar itu lekat-lekat. "Oh, ini. Foto profil aku 'kan?" tanyanya.


Alfin mengangguk. "Kapan ini, kamu ambil?" tanya sang suami.


Yasmine mengedikan bahu, "lupa. Kenapa sih? Ayo makan, aku lapar."


"Sebentar ini, ni." Alfin membesarkan gambar tersebut dan dengan senengnya dia memberi tahu kalau itu adalah dirinya. "Ini ada aku di sana, Ayang."


"Masak sih?" Tanya Yasmine tak percaya.


"Lihat, kita sudah bersatu dari lama. Aku bahkan sudah menemani kamu di mana pun kamu berada," ujar Alfin lagi.


"Apaan sih, gaje. Tapi, kok bisa ya? Aku benar-benar nggak percaya ini. Kamu ngapain memangnya di sana?" Yasmine tersenyum lebar menatap gambar yang sudah lama menemani media sosialnya itu.


"Nemenin jodoh, dong." jawaban Alfin membuat Yasmine menoleh dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Beneran," sambung Alfin. "Lihat saja, aku di belakang kamu dari lama, bahkan sebelum aku kenal sama kamu 'kan?"


Yasmine tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku juga selalu merasa suka dengan foto ini. Pas mau ganti rasanya sangat sayang. Jadi, tetap foto ini yang menemani semua medsosku."


Alfin memeluk Yasmine dari belakang. Mencium lama puncak kepala yang tak tertutup jilbab itu. "Sejauh apapun kita terpisah, kalau nyatanya yang ada di laul mahfudz adalah namaku dan namamu, kita tidak akan bisa mengelaknya, Ayang."


Yasmine tersenyum, mengeratkan pelukan sang suami. Ia mengangguk membenarkan. Biarkan takdirnya seperti ini, ia akan berusaha agar takdir yang awalnya ia tolak menjadi baik dan ia cintai.