Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 162 # S2


Taqa tahu apa yang sedang kedua orangtuanya bicarakan. Apalagi, jika bukan tentang dirinya dan ayah kandungnya. Kini, pria muda itu tengah duduk di kamarnya, ada pesan yang masuk ke ponsel pintarnya. Namun, urung untuk ia baca. Bukan tak ingin membacanya, hanya saja, nanti. Begitu inginnya.


Gambar orang-orang tersayangnya masih terpasang rapi di kamarnya. Sedari awal sang ibu menaruhnya, sampai saat ini ia tak pernah memindahkannya. Sesekali, saat rindu menyapa, ia hanya akan mengambil figura itu dan memandang penuh rasa kangen.


Masih lengkap, dari para nenek-kakek sampai orangtuanya. Hanya saja, foto si kembar yang memang belum ada di kamarnya. Jika foto Taqi, jangan ditanya. Bahkan ponsel pemuda tampan itu penuh dengan selfie sang adik. Dan ya ... Di dalam ponselnya ada foto sang adik dan si kembar yang juga bersama Zaya. Kalau saja Taqi tak melarangnya untuk di hapus, mungkin Taqa sudah menghapusnya dari dulu.


Tapi tidak, di begitu menyayangi Taqi. Sampai untuk hal sekecil itu saja, ia menurutinya. Taqa tersenyum lucu, saat mengingat bagaimana adiknya memerintah dirinya waktu itu. "Jangan di hapus ya, Kak. Aku nggak mau menyimpannya di ponselku, karena sudah sangat penuh dengan foto-foto ku. Kalau di ponsel kakak 'kan masih aman. Jangan di hapus pokoknya! Kalau di hapus, aku nggak mau sama Kakak!"


Tiba-tiba netranya tertuju pada foto keluarga yang hanya terdapat nenek Radiah dan kakek Ilyas, dan juga nenek Sufi, yang kini sudah tenang di alam sana. "Rasanya, baru kemarin aku bahagia dapat nenek dan kakek yang sangat baik. Bisa berbagi cerita dengan dua nenek yang begitu cantik, tapi kini ... Aku nggak tahu, harus ngobrol sama siapa, nek, kek. Ayah sama ibu nggak akan ngerti, seperti apa perasaanku. Yang ngerti cuka kalian," begitu ujar Taqa lirih.


Setelah itu, pemuda tampak itu menarik napas dalam-dalam. "Pesan apa yang Ayah kirim?" tanyanya pada ponsel yang kini ditangannya.


Di bacanya pesan itu, dan ya ... Hanya di baca tak langsung ia balas. Padahal di bagian atas nama ada tulisan online. Yang menandakan jika saat ini, si pengirim masih membuka aplikasi pesan tersebut.


[Assalamualaikum, Taqa.] begitu pesan yang datang dan hanya dibaca oleh pemuda tampan itu.


[Sedang apa?] satu pesan kembali muncul, saat Taqa masih membuka room chat tersebut.


^^^[Wa'alaikumsallam, Yah.]^^^


Akhirnya, Taqa menjawab. Seperti yang selalu diajarkan sang ibunda tercinta, saat di tanya oleh orangtua. Kiranya tak akan sopan jika hanya menjawab, tanpa membawa embel-embel panggilan.


^^^[Lagi belajar, Yah.]^^^


Begitu sambung Taqa membalas pesan dari sang Ayah. Ya, yang mengirim pesan padanya adalah Alfin. Pria dewasa itu memang selalu mengirim pesan dan bertanya padanya. Sayang, Taqa hanya membalas dan tak pernah berniat untuk kembali bertanya.


Sudah. Selesai. Hanya sebatas itu, anak dan ayah saling berbagi pesan.


Dingin, keduanya semakin hari semakin dingin saja. Tak ada hangat-hangatnya sebagai anak dan ayah. Padahal, baik Yasmine maupun Alifa selalu mengatakan pada Taqa maupun Alfin untuk terus saja bertanya. Sayangnya, sepertinya kedua manusia itu sama-sama canggung.


...----------------...


Di tempat lain. Di kamar sepasang suami-isteri.


Yasmine duduk tepat di depan sang suami. Tangannya menangkup wajah tampan Arya, jangan lupakan senyuman manis yang ia berikan pada lelakinya. "Mas, tampan deh," begitu katanya menggoda sang suami. Memang saat berdua, Yasmine kembali memanggil dengan sebutan Mas, buka. Ayah.


"Sayang ... Kamu bicara apa, sama Taqa?" tanya Arya. Tangannya menurunkan tangan sang istri dari sisi wajahnya untuk ia cium.


"Nggak bicara apa-apa, Mas. Kayaknya, kita sudah tidak perlu lagi bersusah-susah payah membujuk Taqa. Aku yakin, Mas. Nanti, lambat-laun dia akan mengerti dan bisa memahaminya sendiri. Melawan setiap rasa yang ia miliki, sampai bisa mencari jawabannya sendiri," begitu jelas Yasmine panjang lebar pada suaminya.


Arya mengangguk dan tersenyum. "Niatku juga seperti itu, Sayang. Kenapa kita selalu sehati?"


Yasmine tersenyum dan mendekatkan dirinya agar bisa di dekap oleh sang suami. Arya pun balas memeluk erat tubuh istrinya yang selalu mungil itu. "Acaranya beres dan Alhamdulillah lancar, Sayang. Aku juga menyampaikan maaf darimu pada Alifa juga mama Widia." sambung lelaki itu seraya mencium puncak kepala sang istri.


...----------------...


Di tempat lain lagi. Tepatnya di rumah Alfin dan Alifa. Kedua manusia itu tengah menemani Lisha dan Lisi bermain di taman. Dulu, tempat itu pernah menjadi tempat kabar bahagia terungkap, dan pernah menyimpan begitu banyak kenangan.


Kini, putri-putrinya sudah besar dan jika ditanya pasal bahagia, ya ... Kini Alifa bahagia. Memiliki dua putri yang cantik-cantik dan sangat baik. Jika Taqi akan cerewet sekali, maka, sama seperti Lisha. Tapi, tidak dengan Lisi. Ia adalah sosok pendiam dan terlihat malu-malu. Jika di lihat-lihat, wajahnya pun lebih mirip dengan Alifa, dan jika Lisha, ia lebih mirip dengan Alfin.


"Ma, kapan aku main ke rumah Taqi?" tanya Lisha pada mamanya.


"Coba tanya, Papa?" jawab Alifa yang kini melihat ke arah Alfin.


"Nanti ya, kalau papa sudah ada waktu untuk libur," jawab pria tampan itu.


"Kapan itu, Pa?" tanya Lisha lagi.


Alfin tersenyum. "Cerewet sekali sih, anak Papa. Nanti ya ... Insyaallah hari ...," pria itu terlihat memikirkan sesuatu. "Hari ahad gimana?" sambungnya.


"Ahad?" tanya Lisha dengan gembiranya. "Alhamdulillah, yeyyy ... Lisi kita bakal main di rumah Taqi, kamu seneng nggak?" gadis itu benar-benar girang.


"Seneng dong," jawab Lisi pada kembarannya itu.


"Beneran, Mas?" tanya Alifa.


"Iya, insyallah. Kalau di beri kesempatan," ujar Alfin dengan bibir tersenyum pada istrinya.


"Alhamdulillah, semoga nanti kalau kita ke sananya hari ahad. Kita bisa duduk-duduk bareng Taqa. Ya ... Siapa tahu, kita nanti jadi bisa ngobrol santai dan kamu jadi semakin dekat sama dia," kata Alifa. Jujur, dia pun ingin dekat dengan anak dari suami dan sahabatnya itu. Karena, sebenarnya ia begitu sangat menyayangi Taqa, seperti menyayangi kedua anaknya yang lain. Tapi sayang, Taqa tak seperti Taqi yang mau dengan dirinya. Taqi hanya mau bicara dengan Yahya dan Zahra saja.


Pernah suatu waktu. Saat itu, ada acara di rumah Zahra dan semua orang hadir di sana. Alifa sedih sekali saat Taqa bisa ngobrol manis dengan Zaya, namun tidak dengan Lisi yang saat itu mengantarkan minuman padanya. Tapi, Alifa tak marah. Ia hanya, merasa kasihan pada Lisi, juga Taqa.


Alifa yakin sekali, kalau sebenarnya Taqa tak membenci anak-anaknya, hanya saja ia tahu kalau anak pertama dari suaminya itu, hanya bingung untuk bersikap pada adik-adiknya. Adik tiri, tentunya.


Jika mengingat masa-masa dulu. Rasanya ia sangat sedih, karena dirinya yang terlalu memikirkan janji Alfin di waktu kecil, tanpa mengatakannya terlebih dulu, membuat keadaan jadi se kacau ini. Tapi, kembali lagi. 'Mungkin, memang semuanya harus seperti ini,' begitu kata yang selalu ia ucap untuk menyemangati kekesalan di hatinya.