Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 103 # Mengikuti Arus


"Sudah siap, Yah?" tanya Ibu Radiah pada sang suami yang kini sedang mengikat kardus dengan tali.


"Sebentar lagi, bu," jawab Ayah.


Di dalam kardus besar itu berisi banyak makanan dan cemilan yang pastinya sehat untuk ibu hamil. Juga kesukaan sang anak. Sayangnya Yahya tidak bisa ikut, karena ia benar-benar tengah sibuk. Namun, Zahra akan ikut, karena wanita cantik menantu keluarga Ilyas itu begitu merindukan sang adik ipar.


"Zahra belum sampai, ya?" tanya Ayah pada sang istri yang tengah berdiri dengan tangan yang memegang sandaran kursi makan memperhatikan sang suami.


"Belum, paling sebentar lagi," jawab Ibu.


Begitu ayah Ilyas selesai, terdengar salam dari luar.


"Itu, kayaknya," ucap ibu. "Wa'alaikumsallam!" jawab Ibu dengan teriak.


"Ayo, Yah," ajak ibu pada sang suami.


Keduanya lantas melangkahkan kakinya ke depan, dan terpaku di tempatnya saat melihat kedatangan seseorang. "Umi," ucap Ibu.


"Sudah mau berangkat?" tanya Umi Fitri.


"Belum, nanti nunggu Zahra, ayo masuk," ajak ibu setelah saling salaman dan berpelukan.


"Umi sama siapa?" tanya Ayah.


"Harusnya sama Abi, tapi dia ada urusan mendadak. Jadi, ke sini pakai taksi." jawab Umi sembari mendudukan pa n t a t nya di sofa, bersama dengan ayah dan ibu.


"Umi, tahu dari mana?" tanya Ibu.


"Dari Alifa," jawab Umi. "Apa kalian ada rasa marah, terhadap Alfin yang tega melepaskan Yayas di saat kondisinya sedang hamil?" tanya Umi jujur.


Semalaman seorang ibu itu kepikiran terus akan keadaan Yasmine yang di sana hanya dengan Fifi saja. Kabar yang di sampaikan Alifa membuat wanita yang sudah tak lagi muda itu kecewa. Ia ingin tetap memiliki menantu yang ceria itu, tapi apa mau di kata, saat semuanya sudah terjadi.


Ibu dan Ayah saling pandang, lantas ibu menjawab. "Kenapa kita harus kecewa, Mi. Inilah yang mereka mau, terutama Yasmine. Kita tidak pernah menyalahkan para anak-anak, Umi. Kita serahkan urusan rumah tangga pada mereka. Yang terpenting sekarang, mereka semua bahagia, kita juga tetap rukun, biar bisa menyambut kedatangan cucu kita, Mi."


Umi mengangguk, "iya. Kamu benar Radiah."


Ayah dan ibu hanya tersenyum. "Tapi, apa Alifa tahu kita akan ke sana, bu?" tanya Ayah pada sang istri.


Ibu mengangguk, "semalam ibu kasih tahu, Yah," jawaban ibu kembali membuat lelaki itu mengangguk.


Lantas tak beberapa lama setelahnya, ucapan salam kembali terdengar. Ketiga manusia yang duduk di sofa pun menjawab sembari menoleh. Datanglah sesosok wanita cantik yang tak lain adalah Zahra. Ia juga datang dengan taksi, karena sang suami sudah berangkat pagi-pagi.


Kakak ipar cantik itu juga membawa buah-buahan untuk sang adik ipar. Tak lupa juga cemilan kesukaan Yasmine.


Lantas empat manusia itupun memutuskan untuk segera berangkat agar tak kesiangan. "Ibu, bawa koper?" tanya Zahra saat melihat mertuanya menyeret koper dari kamar.


"Iya, ibu mau menginap beberapa hari di sana, ibu pengin nemenin si bungsu yang kini sudah mau menjadi ibu," jawab Ibu Radiah.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Sementara itu di tempat Yasmine, wanita cantik itu tengah menginjakan kakinya di bebatuan. Di pagi itu ia tengah menikmati udara pagi sembari mencoba bejalan di atas batu tanpa alas kaki. Tentu saja itu adalah saran dari mbak Fifi.


"Geli 'kan Mbak Fi, mana risih juga," kata Yasmine.


Fifi tersenyum, "ini tuh enak, Mbak Yas. Olahraga," ujar mbak Fifi.


"Ke sana yuk," ajak Yasmine sembari menunjukan jalan yang tak terlihat lantaran berkabut.


"Ke sana mah ke kaki gunung, mau ngapain?" tanya mbak Fifi.


"Ya, jalan-jalan saja. Aku lihat banyak mobil ke sana," ucap wanita hamil itu.


"Iya, 'kan di sana juga ladang, ya pastinya banyak mobil yang ke sana Mbak," jelas mbak Fifi.


Yasmine lantas mengangguk. Ia lantas menuruti mbak Fifi untuk jalan ke arah sebaliknya. Jalan yang biasa nya dilewati dirinya ke pasar. Namun tentu saja pagi ini mereka berdua hanya jalan kaki tak jauh dari rumah, agar tak terlalu lelah.


Suara gemericik air membuat Yasmine berhenti, ia lantas duduk di atas batu, memperhatikan air yang mengalir dengan jernihnya. Lantas ia mengambil daun dari rumput liar yang ada di sebelahnya. Lalu ia lempar daun itu ke air.


Hanyut-lah si daun, mengikuti arus. 'pergilah kesedihan. Datanglah kebahagiaan. Mari kita ikuti arus kehidupan selanjutnya, aku yakin kedepannya aku akan menemukan bahagia. Begitupun mereka yang kembali bahagia, tanpa adanya aku yang mengganggu mereka,' wanita hamil itu berucap dalam hati.


Bibirnya tersenyum, lalu ia kembali mengambil dauh dan kembali menghanyutkannya ke dalam air.


"Ih, Mbak Yas mencemari air," seloroh mbak Fifi yang mana langsung membuat Yamanie menoleh.


"Mana ada, Mbak Fi. Ini tuh lagi main, Mbak Fifi juga pasti dulu sukanya kayak gini 'kan?"


Mbak Fifi tertawa, "ya, jelas Mbak Yas. Malah kalau habis hujan nih ya Mbak, aku mandi di sini, pulang-pulang langsung dimarahin Ibu," jawab Mbak Fifi jujur.


Yasmine tertawa. Lalu demi membuat sang majikan kembali tertawa, Fifi kembali menceritakan tentang masa kecilnya yang lucu-lucu. Yang mana membuat Yasmine dan Fifi bercerita tentang masa kecil yang tidak akan bisa terulang kembali. Bahkan sampai lupa, hingga matahari yang awalnya masih sembunyi, kini sudah menampakkan keberadaannya dengan sinar yang hangat.


Dengan seperti ini, sedikit banyaknya Yasmine bisa lupa bahwa kini ia sudah sah sendirian. Tak ada lagi harapan-harapan tentang kasih sayang atau sebuah perhatian. Yang wanita itu inginkan sekarang adalah, dirinya sehat, anaknya sehat dan bisa cepat bertemu di saatnya nanti.


Wanita itu juga berharap, ia segera mendapat kabar baik dari sang sahabat. Agar ia bisa lebih bahagia, saat melihat mereka juga bahagia. Ya, Yasmine tetap berharap kalau mereka juga memiliki anak, agar jika ia ingin membawa pergi jauh sang anak, tidak akan ada yang mengganggu.


Akhirnya Yasmine dan Fifi memutuskan untuk kembali ke rumah. Apalagi mbak Fifi akan berkutat di dapur, jadi tidak mungkin Yasmine akan lama-lama lagi di sana. Karena, untuk keluar sendirian mbak Fifi kesayangannya itu tidak mengizinkan.


Mbak Fifi benar-benar sudah seperti saudara baginya, bahkan baiknya lebih dari saudara. Kasih sayangnya sudah seperti sang ibu, walaupun usianya lebih muda.


"Mbak Yas, jangan lupa minum susu dulu ya, saya mau masak dulu," begitu ujar Mbak Fifi sembari menaruh segelas susu di meja, saat Yasmine sudah duduk di ruang tamu dengan buku tentang kehamilan di tangannya.


"Makasih, Mbak Fifi yang cantiik," ucap Yasmine dengan senangnya.