Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 144 # Tidak Ada yang Tahu Perasannya


Suara burung berkicau sudah terdengar, mentari bahkan sudah terlihat. Hawa sejuk kini sudah mulai menghangat, tapi sayang, ia seolah tak merasakan itu semua. Hatinya masih merasa sedih saat mendapati seseorang yang sudah menemaninya bertahun-tahun, masih tak sadarkan diri. Masih diam membisu.


Air matanya menetes, ia sangat sedih melihat ibu dari anak kembarnya masih dalam keadaan koma. Ia masih duduk di sana, di depan ruangan ICU, tempat di mana istrinya di rawat.


"Pulang dulu, Al. Istirahat," ujar seseorang yang baru saja duduk disebelahnya.


Alfin tahu siapa itu, ia tak menoleh atau sekedar melirik. "Ke rumah Umi dulu mungkin, biar kamu sedikit tenang. Sekalian temani Umi sebentar, kasihan beliau tidak bisa ikut ke sini," sambung pria yang tak lain adalah Yahya.


"Aku tidak bisa pergi dari sini, Mas. Lisha dan Lisi belum benar-benar sehat, Alifa juga belum ada perkembangan, perasaanku masih merasakan ketakutan yang luar biasa," begitu kata Alfin.


"Aku tahu, kamu pasti sedih banget. Tapi, kalau kamu seperti ini terus, kamu hanya akan menambah penyakit," kata Yahya lagi. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk ke rumah sakit, sebelum dan sesudah berangkat kerja. Karena mau bagaimanpun, Alifa sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Namun, memang segala apa yang ia tahu di rumah sakit, tak ia beritahukan pada sang adik.


"Serahkan saja sama Allaah, minta sama Allaah, agar segera menyadarkan Alifa," ucap Yahya lagi.


Lelaki yang tengah duduk dengan menumpukan dua sikutnya di atas paha itu hanya mengembuskan napas kasar. Kedua tangannya menyangga dagu, matanya menatap kosong ke arah satu titik.


"Sekarang yang Alifa butuhkan adalah dukungan kamu, doa kamu, jangan lupa ajak bicara setiap saat," Yahya masih saja berbicara pada lelaki yang masih sama, diam.


Sampai papa Zaenal dan mama Widia datang. Keduanya lantas duduk setelah mengintip sang putri dari kaca depan ruangan.


"Gimana, Al, apa ada perkembangan yang bagus?" tanya mama Widia.


Alfin menggeleng lemah, "masih sama, Ma," jawabnya.


"Sabar Al, yang sedih bukan hanya kamu, kita semua di sini sangat sedih akan kejadian ini, kamu dengar sendiri 'kan kata dokter, Alifa hamil di usia yang tidak lagi muda, jadi kemungkinan-kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi," ujar papa Zaenal.


"Dan kalian dulu bilang sudah siap untuk segala konsekuensinya bukan," sambung lelaki paruh baya itu.


"Bagiamana Yayas, Ya?" tanya mama pada Yahya.


"Baik, Ma. Aku dan ibu selalu memberi tahu bagaimana Alifa dan anak-anaknya di sini," jawab Yahya yang tentunya berbohong. Karena pada kenyataannya, dia sudah mewanti-wanti sang ibu agar tidak mengusik sang adik. Biarkan Yasmine di sana tanpa terbebani keadaan di sini.


"Ya, kita tidak ada yang tahu bukan. Ini semua terjadi begitu saja dan tiba-tiba. Sekarang kita hanya perlu berdoa agar semuanya baik-baik saja dan segera berlalu," kata Yahya.


Alfin sedari tadi hanya diam, ia masih ingat betul bagaimana saat mantan istrinya di peluk dan ditenangkan oleh suami ke duanya. Terlihat bagaimana baiknya lelaki yang sudah berhasil menggeser tempatnya dari hati cinta pertamanya.


Bukan tak mengikhlaskan, tapi jujur saja, dalam pojok dada, ditempat yang sangat tersembunyi di dalam sana, nama cinta pertamanya masih ada. Hanya saja, semua sudah tak lagi sama.


Bibirnya tersenyum miris, apalagi saat anak pertamanya tak mau padanya tapi lebih menurut pada ayah sambungnya. Bukan tak suka, tapi ia hanya merasa sangat sakit di dalam dada. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Karena, ini semua adalah kesalahannya yang tak mampu mempertahankan rasa cinta dan keberadaan serta keutuhan cinta.


Kini, semua sudah berlalu. Ia hanya berharap suatu saat nanti ada waktu untuknya dan anak pertama bicara dari hati ke hati. Ia hanya ingin mengatakan kalau ia sangat menyayangi anaknya, tak ada beda walaupun mungkin Taqa tak merasakannya.


Sungguh hati ayah mana yang tak sedih, saat mendapati putranya terlihat tak menyukai dirinya. Padahal, rasa rindunya pada anak pertamanya itu sangat-sangatlah besar dan bahkan menggunung. Sayangnya, ia sendiri tak punya nyali untuk memaksakan kehendaknya sendiri.


Lelaki yang beberapa hari ini seperti kehilangan nyawanya itu lantas beranjak dari duduknya, meninggalkan tiga manusia yang tadi menemani dia. Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju ke dalam ruangan ICU, ia akan membersihkan badan sang istri sebelum nantinya ia mendatangi bayi Lisha dan Lisi.


Dengan telaten dan air mata yang tertahan, lelaki itu membersihkan tubuh sang istri. Sampai begitu selesai ia masih berdiri dengan menggenggam tangan yang terlihat semakin mengecil itu.


"Sayang," ucapnya tertahan. Entahlah, ia selalu tak bisa mengatakan apapun saat di depan istri tercintanya itu.


"Apa kamu mendengar aku," ucapnya lagi. "Aku tidak bisa mengatakan apapun, selain ... bangunlah, aku Lisha dan Lisi membutuhkanmu. Bukankah kamu bilang, kalau kamu ingin memiliki dua perempuan cantik seperti sahabatmu itu, maka dari itu kamu harus bangun. Lihatlah Sayang, wajah mereka begitu mirip dengannya, dengan dia ... dia yang kini sudah bahagia dengan suami barunya. Bahkan kamu tahu, Taqa ...," ucapnya menggantung.


"Dia masih marah padaku, dia tidak mau bertemu denganku. Aku seperti bukan ayahnya, apalagi dia sudah mempunyai ayah baru yang sepertinya sangat dia sayangi dan sangat menyayanginya. Ayolah bangun, Sayang ... bangun, aku mohon." lelaki itu tak sanggup untuk tidak menangis, ia lantas duduk di kursi yang ada dan menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, lelaki itu menangis, bahkan bahunya sampai bergetar begitu kencang saking sedih dan tak bisanya dia mengatakan segala yang ada di dalam dada.


Sesak, sedih, risau, hampa dan semua rasa ia punya. Istrinya sakit, uminya pun sama, anak kembarnya masih harus di dalam inkubator, anak pertamanya tak mau bersamanya, lalu cinta pertamanya kini sudah benar-benar melupakannya. Ah, terbayang bukan rasa hancurnya dia, sedih dan terlukanya lelaki itu.


Pada siapa dia akan meminta sandaran, ya, dia tahu. Dia lelaki, dan lelaki harus kuat. Tapi, apakah semua orang bisa memberinya solusi agar dia bisa tegar dalam menjalani hari-harinya saat ini. Sungguh, ia tak tahu lagi harus apa, karena sekarang ini dia sedang tidak punya daya apapun. Ibarat ponsel, dia sudah mati total dan tak bisa di isi daya, karena pengisinya tengah lara.