
Entah salah apa dirinya, sampai tiba-tiba terbangun dari tidur karena rasa mulas. Ia duduk dengan memegangi perut, ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa, Mas?" tanya sang istri yang ikut terbangun.
"Mules banget, aku makan apa ya, tadi?" tanya Alfin pada Alifa. Ya, yang merasakan mulas itu adalah Alfin.
"Makan apa, Mas bahkan tidak makan apa-apa. Hanya makan apel saja 'kan," ingat Alifa pada sang suami. "Kata kamu, dari pagi memang perutnya sudah tidak enak," sambung wanita itu kembali mengingatkan.
Alfin mengangguk, "iya. Mules banget, tapi nggak keluar apa-apa. Sampai kamar mandi hilang mulasnya," katanya menjelaskan.
"Mau di balur minyak kayu putih?" tawar sang istri.
"Boleh deh, atau ada yang lebih kerasa tidak sih, Sayang. Seperti balsam mungkin," kata Alfin. Rasa perutnya tidak karuan, dan tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Dan dengan balsam, ia berharap bisa mengalihkan rasa sakitnya itu.
"Ada, sebentar. Aku ambilkan." Alifa beranjak turun dari ranjang dan mengambilkan balsam cap otot yang terkenal panas dari dalam laci.
"Rebahan, Mas. Biar aku bantu," kata Alifa saat sudah kembali dengan benda kecil berisi balsam.
Alfin menurut, ia merebahkan dirinya di ranjang dan membuka kaosnya. Di balur lah perut sang suami dengan balsam itu. Alfin memejamkan mata saat sang istri mengolesi perutnya dan mengusap pelan. Namun lagi-lagi rasa itu kembali datang. "Ya Allaah," ucap Alfin.
"Kenapa, Mas?" tanya Alifa khawatir.
"Tidak apa, sekarang pinggangku ikut panas," jawab Alfin.
Kening Alifa mengkerut. "Tapi, aku tidak mengolesinya di pinggang, Mas. Hanya di perut."
"Iya, tahu. Tapi, rasanya pindah. Panas banget, perut juga tidak enak," kata Alfin menjelaskan rasa yang ia rasakan.
Lantas lelaki itupun kembali beranjak dari tidurnya, berjalan lagi ke kamar mandi dan balik lagi. Seperti itu terus sampai waktu hampir pagi. Saat jam menunjukan pukul 02 : 00 WIB barulah ia berhenti merasakan sakit dan pinggang yang panas. Tapi, ia juga tiba-tiba merasa lega dan merasa aneh, dadanya tiba-tiba berdebar seperti ada rasa bahagia yang meliputi nya. Yang ia tak tahu itu apa.
Saking senangnya karena sudah sembuh, ia pun lantas beranjak untuk mandi dan shalat. Begitu juga Alifa yang memang ikut tak bisa melanjutkan tidur, karena sang suami yang kesakitan. Awalnya wanita itu begitu khawatir, tapi setelah sekarang sang suami biasa saja, ia merasakan lega.
Walaupun tetap, niatnya nanti kalau sudah pagi menyapa, mereka berdua akan tetap ke dokter untuk memastikan segalanya.
...----------------...
Tangisan bayi menggema memenuhi ruang persalinan, membuat empat manusia yang ada di dalam dan di luar ruangan meneteskan air mata. Bahkan ayah Ilyas tak kuasa untuk tidak menangis. Ia bahkan sampai sujud syukur setelah tangisan bayi dari cucunya terdengar.
"Alhamdulillah, selamat, Nak. Selamat, Sayang," ucap ibu sembari menciumi wajah sang anak. "Kamu sudah menjadi ibu," sambungnya yang masih tak bisa mengendalikan diri dari tangisan bahagia dan sedihnya.
Ya, di sisi lain ibu bahagia saat sang anak berhasil melahirkan dengan selamat dengan cara normal. Tapi, ibu juga sedih, karena di saat seperti ini sang anak sudah tak lagi bersama suaminya.
Yasmine menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lega saat mendapati bahwasannya ia sudah melahirkan. Bayi yang tangisannya sangat kencang itu lantas di bawa ke dirinya untuk di lakukan nya IMD. Tangan Yasmine dengan gemetar mengusap bayi merah yang kini ada di atas dadanya. Diam dan hanya mulutnya saja yang bergerak.
Air matanya menetes, hatinya tak lupa berucap syukur. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu terlihat begitu tampan, ia bahkan tersenyum lebar saat tangannya mendapati sang anak yang langsung diam saat berada di dekapannya.
"Selamat datang, cucu nenek," ucap ibu yang mendapati sang cucu di atas tubuh sang anak.
Dan setelah selesai, Yasmine pun di pindahkan ke ruangan perawatan bersama sang bayi. Karena bayinya sehat, jadi bisa langsung dengan sang ibu.
Di sana, di dalam ruang perawatan. Semua orang kembali meneteskan air mata saat suara adzan ayah terdengar. Bahkan bayi yang kini sudah di bedong pun hanya diam mendengarkan suara adzan dari kakeknya itu.
"Selamat, Mbak Yas, semoga si Ganteng jadi anak yang shaleh," ucap mbak Fifi yang kini berdiri di sebelah ranjang Yasmine.
"Makasih, Mbak Fi," jawab Yasmine tersenyum lebar.
"Uluh-uluh, gantengnya cucu Kakek. Pintar ya, tidak lama ya, jam sepuluh ke sini, jam dua sudah lahir, cucu kakek pintar, iya?" begitu tanya sang kakek pada sang cucu yang ada di gendongannya. Lelaki paruh baya itu terlihat sangat senang saat sang cucu tampannya sudah berada di tangannya.
Ibu lantas mendekat ke arah sang suami. "Cucu nenek, lapar tidak ini?" tanyanya sembari mengusap pelan pipi lembut itu.
"Ganteng ya, Bu," ujar Ayah.
"Ya jelas, siapa dulu kakeknya," kata Ibu Radiah.
"Iya lupa, kakeknya 'kan Ilyas Hermawan, ya jelas cucunya ganteng kaya pangeran," kata ayah Ilyas.
"Ih, Yaah, Buu ... aku mau lihat lagi," ujar Yasmine yang kini sudah duduk bersandar.
"Oh iya, kakek lupa, Ibu pengin lihat anaknya ya." Ayah membawa cucu tampannya itu ke arah sang anak. Mbak Fifi menyingkir, membiarkan Bosnya itu memberikan cucunya pada ibu dari bayi itu.
"Lihat, tampan banget 'kan?" ayah sangat antusias.
Yasmine menggendong bayi mungil tampan dan menggemaskan. Ia tersenyum memandangi wajah anak yang sangat mirip sekali degan dia, ayah dari bayinya. Senyumnya semakin lebar, 'lihat lah, Al. Dia persis seperti mu,' ucapnya dalam hati.
Ibu mengusap kepala sang anak yang sudah kembali tertutup jilbab. "Kasih susu coba, Yas," katanya.
Yasmine menoleh, "iya bu. Tapi, Ayah sama Mbak Fifi awas dulu, aku malu," katanya.
"Loh, ya sudah. Ayo Fi, keluar dulu, kalau tidak kamu tidur saja tuh di sofa, capek 'kan kamu, kebangun langsung ikut ke sini," kata ayah Ilyas.
"Tidak, Pak. Saya sudah tidak ngantuk," kata mbak Fifi.
Keduanya lantas keluar.
Setelah keduanya keluar, Yasmine di bantu ibu lantas membuka kancing baju di bagian dadanya. Memberikan sumber makanan pada sang anak untuk pertama kalinya.
"Belum keluar ya bu," ucapnya.
"Tidak apa, nanti juga lancar. Biarkan saja," kata ibu saat sang cucu menyesap sumber makanannya dengan lahap padahal belum keluar.
Yasmine tersenyum, kendati seperti itu ia tak merasa geli. Namun rasanya ia sangat bahagia sekali.
"Siapa nama cucu Nenek ini?" tanya ibu sembari mengusap pipi bulat nan merah cucunya. Yang lahir dengan berat badan 3000 gram dan panjang 50 centimeter.