
Siapa yang tahan untuk tidak menangis? Tidak ada, bahkan air mata Yasmine pun bercucuran saat mendapati sang suami menangis sembari memeluk perutnya.
"Kalau kamu nggak bisa pisah dari aku, lalu kenapa kamu jawab yang lain pada Alifa?"
Pertanyaan Yasmine sontak membuat sang suami melepas tangannya yang melingkar di tubuh sang istri. Lelaki itu lantas mendongak, air mata wanita hamil itu jatuh ke matanya, membuat kelopaknya menutup barang sedetik.
"Kamu ...," ucapan Alfin terhenti.
"Ya," jawab Yasmine dengan anggukan dan senyum yang lebar. Jangan lupakan tangan yang tengah menghapus air mata di pipinya. "Aku mendengarnya, Al. Makanya aku mau pisah dari kamu. Kamu j a h a t tahu nggak!" wanita hamil itu emosi. Ia lantas duduk di bawah guna mensejajarkan tingginya dengan sang suami yang masih setia duduk di lantai.
"Kamu nggak pernah ada buat aku, kamu nggak bisa memperlakukan ku dengan baik, sebaik kamu memperlakukan Lifa. Untuk itu aku nggak mau terus-menerus sama kamu, talak aku sekarang ju--" kalimat Yasmine berhenti saat telunjuk sang suami berada tepat di antara hidung dan mulutnya.
"Kamu tahu, jika seorang istri meminta cerai dan suami mengabulkannya, kita tidak akan bisa rujuk."
Yasmine tertawa, "aku nggak perduli!" jawabnya teriak. "Aku nggak bisa sama kamu, aku nggak bisa selamanya sakit hati," sambungnya sembari menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku nggak mau. Tolong, lepaskan aku," ucap Yasmine lagi dengan penuh permohonan.
Alfin tak menghiraukan apa yang tengah di ucapkan sang istri. Ia justru bertanya lain. "Kalau kamu mendengarnya, lalu kenapa kamu tidak masuk? Kamu tahu, saat itu aku benar-benar bingung. Untuk pertama kalinya aku melihat Alifa menangis dengan begitu pilunya, dan untuk pertama kalinya dia bertanya tentang kehamilan. Yang di mana jika dia tidak hamil selamanya, apa aku akan ada atau tidak di sampingnya. Lalu dia bertanya, aku akan memilih siapa--"
"Dan kamu milih dia, 'kan!?"
"Aku menjawab, akan selalu bersamanya. Aku tidak menjawab memilih dia. Kamu salah paham!" Alfin tak kalah kesal.
"Dalam hati, aku juga berucap, jika aku akan selalu berada di antara kalian. Aku tidak bisa memilih, jadi, kamu jangan salah paham seperti ini, tolong." Alfin kembali menggenggam tangan sang istri. Berharap Yasmine tahu jika dirinya tidak bisa pisah dari dua cinta yang sudah merasuk ke dalam relung hatinya.
"Haha," Yasmine kembali tertawa. "Jangan muna, aku tahu kenapa kamu tetap mau sama aku. Karena aku lagi hamil 'kan? Kamu nggak mau kehilangan keturunan kamu, sementara istri pertama kamu nggak bisa hamil, ya 'kan!" percayalah saat mengatakan ini hati Yasmine begitu sakit. Ia terpaksa mengatakan itu agar sang suami mau mengucap talak untuknya.
Alfin menggeleng dan melepaskan tangan Yasmine. Ia lantas beranjak dari duduknya meninggalkan sang istri. Pergi dari kamar yang di dalamnya ada wanita duduk dengan bersimpuh berurai air mata.
"Kalau kamu belum tenang, aku belum akan kembali ke sisimu," begitu ucap Alfin saat ia berhenti di tengah-tengah pintu. "Jujur aku tidak pernah menyangka kamu akan mengatakan seperti itu. Ternyata kamu tetaplah wanita manja yang kekanak-kanakan."
Kakinya kembali melangkah meninggalkan wanita hamil yang kini tengah memandang punggung sang suami yang semakin menjauh meninggalkannya dalam keheningan.
Bibirnya tersenyum lebar, hatinya teriris sakit. Air matanya menetes deras. "Maafkan aku, Lif," ucapnya sembari memejamkan mata. "Aku nggak bermaksud seperti ini, aku hanya nggak mau kita semakin sakit karena kita tidak bisa saling berbagi."
...π§π§π§π§π§π§...
Setelah Alfin pamit, ibu dan Zahra lantas bergerak menuju kamar Yasmine. Keduanya terburu-buru lantaran penasaran. Tadi, saat Alfin berpamitan. Mereka dapat melihat mata lelaki itu masih merah, raut wajahnya terlihat sedih bercampur kecewa. Tapi, dia tidak mengatakan apapun pada semua orang.
Perlahan ibu dan Zahra masuk ke dalam kamar putri bungsu di rumah itu. Namun, keduanya tidak mendapati keberadaan Yasmine di sana.
"Yas," panggil Zahra.
Lantas ke-duanya dapat melihat Yasmine yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Ibu langsung mendekat. "Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanyanya penuh kekhawatiran.
Yasmine tertawa sumbang, "tidak apa-apa, Bu. Memangnya Alfin mau ngapain aku?" tanyanya balik mencoba menyembunyikan segala hal.
Ibu mengangguk, "istirahat, Nak. Jangan banyak yang di pikirkan ya," kata perempuan paruh baya itu. Ia berjalan pelan dengan sang anak menuju ranjang.
Zahra yang ada di sana turut sedih memandang wajah Yasmine yang terlihat sangat sendu. Hidungnya merah, matanya sembab walaupun bisa di pastikan kalau perempuan itu sudah mencuci mukanya.
Menantu perempuan itu lantas membersikan kasur yang akan di pakai sang adik ipar, ia juga menyelimuti tubuh Yasmine saat perempuan itu sudah berbaring dengan benar.
"Boleh tinggalkan, aku sendiri?" tanya Yasmine.
Ibu dan Zahra saling menoleh, lantas mengangguk. Sebelum pergi dari kamar sang putri, Ibu menyempatkan untuk mencium puncak kepala anaknya itu. "Jangan terlalu di pikirin ya, Sayang. Pikirkan yang ada di dalam perut saja," ujar ibu yang hanya mendapat anggukan dari sang putri.
"Jangan sungkan buat cerita ya," ucap Zahra yang juga mencium puncak kelapa sang adik ipar.
Lantas kedua wanita yang bergelar menantu dan mertua itu lantas pergi meninggalkan wanita hamil yang mulai memejamkan matanya sembari banyak-banyak mengucap istighfar.
...π§π§π§π§π§π§...
Lain Yasmine, lain Alfin. Nyatanya pria itu kini justru berada di sebuah tempat yang selalu membuatnya tersenyum lantaran kekonyolan sang istri. Ia juga tengah memandangi gambar dirinya dengan pose yang lucu. Pose yang tidak pernah ia lakukan dengan siapapun termasuk sang istri pertama.
"Kenapa, Ay?" tanyanya pada gambar itu. "Apa aku se-j a h a t itu?" sambungnya.
"Sudah pernah aku katakan, kalau aku tidak akan bisa memilih di antara kalian. Kenapa kamu tidak percaya?"
Semua memori indah bersama sang istri kedua berputar-putar dalam benaknya. Saat di mana awal-awal istrinya masih sombong, cuek, jutek dan kaku. Sampai semakin hari, dia semakin lucu karena tingkah dan cara bicaranya yang menurutnya menggemaskan. Tapi, apa yang tadi dia katakan padanya.
"Ternyata kamu tetaplah wanita manja yang kekanak-kanakan."
"Maaf, jika perkataan ku tadi menyakitimu, Ay. Maaf," ucapnya masih pada gambar yang tersenyum lebar pada arah kamera.
"Sebisa mungkin aku akan mempertahankan kalian," katanya.
"Tenang lah, Ay. Biar nanti saat bertemu, hatimu sudah dingin dan kita bisa bersama kembali. Bertiga dalam cinta yang nyata, tanpa harus selisih paham seperti sekarang ini. Aku akan menunggu sampai kita bisa bicara lagi dengan hati yang sama-sama ingin memiliki, bukan saling pergi."
Pria tampan itu lantas merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memeluk ponsel yang menampilkan tampilan slide gambar Yasmine dan dirinya.